detikfinance

Pedagang Pasar: FTA ASEAN China Untungkan Ritel Moderen

Suhendra - detikfinance
Rabu, 06/01/2010 15:02 WIB
Foto: dok.detikFinance
Jakarta - Para pedagang pasar tradisional yang tergabung dalam Asosiasi Pedagagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) merasa para ritel moderen sangat diuntungkan dengan diberlakukannya perdagangan bebas atau Free Trade Agreement (FTA) ASEAN-China.

Peritel-peritel asing seperti Giant dan Carrefour dituding lebih memilih melakukan impor langsung untuk produk-produk seperti alas kaki, pakaian, makanan dan minuman dari China karena dianggap lebih murah.

Walhasil, langkah ini membuat pedagang pasar resah karena dipastikan barang-barang impor itu lebih murah dan mengancam persaingan usaha pelaku pasar tradisional.

Di sisi lain para pedagang pasar untuk melakukan impor secara langsung tidak memungkinkan, paling-paling hanya mengandalkan jalur rantai distribusi yang panjang dari importir sehingga harganya kompetitif.

Sekretaris Jenderal APPSI Ngadiran mengatakan impor langsung oleh peritel moderen itu berdampak pada harga yang lebih miring hingga 20% dari produk lokal. Maklum saja para pedagang pasar mengklaim justru lebih banyak menjual barang-barang lokal yang dianggap kurang kompetitif.

"Adanya FTA ini toko ritel moderen diuntungkan, karena bisa impor langsung pastinya harganya lebih murah dari kita," kata Ngadiran saat dihubungi detikFinance , Rabu (6/1/2009).

Ia mengatakan berdasarkan laporan dari anggotanya di tingkat grosir di beberapa Pasar Tanah Abang,Pasar senen, Pasar Jatinegara barang-barang impor eks China
seperti alas kaki, pakaian jadi, makanan dan minuman sudah sangat cepat masuk ke pasar dalam negeri per tanggal 5 Januari lalu.

Padahal kata dia, berlakunya FTA baru berlangsung per tanggal 1 Januari 2010, itu pun diselingi oleh libur panjang. "Makanya saya kaget kok bisa secepat itu," katanya.

Sementara itu salah satu pelaku ritel moderen seperti Carrefour melalui Director Corporate Affairs PT Carrefour Irawan D Kadarman mengakui selama ini pihaknya
malakukan langkah impor langsung terhadap beberapa jenis produk yang dijual Carrefour.

Namun impor langsung tersebut relatif sangat sedikit dari total porsi barang impor. Itu pun hanya produk-produk yang hanya dibuat diluar negeri. Selain itu, impor langsung lebih efektif jika barang-barang itu berasal dari negara jaringan Carrefour dalam hal ini barang-barang impor dari Perancis.

"Yang kita jual itu 95% adalah barang-barang produksi lokal,sisanya barang-barang impor karena memenuhi permintaan konsumen," kata Irawan.

Ia menjelaskan barang-barang impor yang ada di Carrefour selain diimpor langsung oleh pihak Carrefour, namun mayoritas lebih banyak diperoleh pemasok dari importir lain. Barang-barang yang diimpor langsung oleh Carrefour lebih banyak pada produk yogurt, produk-produk pangan dan lain-lain.

"Ritel boleh melakukan impor langsung, asalkan ada izinnya," jelasnya.



(hen/dnl)

Share:

Komentar (0 Komentar)


    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login
    Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Gb Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
      Wawancara Khusus MS Hidayat
      Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
      Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
    • Gb Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
      Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
      Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
    • Gb Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
      Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
      Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?