detikfinance

BPOM dan Kerja Lipat Ganda Sambut AC-FTA

Suhendra - detikfinance
Kamis, 07/01/2010 10:05 WIB
Husniah Thamrin (dok detikcom)
Jakarta - Perdagangan bebas atau free trade agreement (FTA) ASEAN-China (tahapan Normal Track 1 /NT 1) sudah bergulir per 1 Januari 2010. Kekhawatiran terhadap produk-produk impor berbahaya dan non-standar khususnya dari China, muncul akibat perdagangan bebas ini.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) selaku pihak yang bertanggung jawab mengawasi dan mencegah peredaran obat dan makanan yang berbahaya bagi masyarakat berjanji akan melipat gandakan kinerjanya, dengan sering melakukan operasi di lapangan maupun di laboratorium untuk menekan ekses terburuk dari serbuan produk impor.

Berikut ini wawancara detikFinance dengan Kepala BPOM Husniah Rubiana Thambrin Akib saat ditemui di Istana Negara, Jakarta, Rabu (6/1/2010).

Apa persiapan BPOM menghadapi FTA ASEAN-China yang baru saja bergulir?

Dari sisi pre-market yaitu sebelum pemasaran barang, kita akan melakukan evaluasi, kita tahukan selama ini kita sudah berpengalaman dengan produk China yang bermasalah. Tentunya kita akan melakukan pengujian laboratorium yang ketat begitu.

Bagaimana dengan pengawasan di tingkat lapangan, khususnya pengawasan secara fisik barang?

Misalnya mengenai penandaannya, seperti label-labelnya harus berbahasa Indonesia. Jadi sudah tidak boleh pakai sticker lagi. Memang dalam ketentuan PP No 69 tahun 1999 tentang label dan iklan pangan demikian (dibolehkan ditempel) karena itu fleksibilitas atas permintaan dari Mendag dan kalangan pengusaha, kemudian sekarang Mendag dan pengusaha meminta tidak ada fleksibilitas.

Kalau secara kuantitatif, apakah BPOM akan lebih gencar melakukan operasi?


Memang  untuk pre-market kita semaksimal mungkin, tapi untuk post market (barang-barang di pasaran)  kita akan lakukan secara berlipat ganda dari sebelumnya yaitu operasi-operasi penyertaan.

Selama tahun kemarin, apa yang sudah dihasilkan BPOM, terkait antisipasi awal peredaran barang China yang terkenal sering bermasalah?

Kemarin dari Rp 3,5 triliun yang kita bakar adalah paling banyak dari produk China, barang-barangnya seperti kosmetik, makanan, tetapi memang yang paling banyak adalah kosmetik, makanan dan obat-obatan tradisional.

Hasil temuan BPOM sebelum FTA berlangsung, produk yang bermasalah lebih pada produk ilegal atau legalnya?


Ilegal itu paling yang banyak, dari kemarin Rp 3,5 triliun. Jadi sebenarnya operasi kita ketatkan bukan hanya untuk produk China, tapi untuk semua produk ilegal yang lain.

Kembali ke rencana aksi tahun ini, wilayah mana saja yang menjadi sasaran pertama operasi?


Memang kita di semua wilayah,  melalui semua balai BPOM termasuk di Jakarta, jadi balai operasi di Jakarta, nanti pusat ikut membantu, ikut turun juga ke seluruh Indonesia.





(hen/qom)

Share:

Komentar (0 Komentar)


    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login
    Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Gb Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
      Wawancara Khusus MS Hidayat
      Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
      Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
    • Gb Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
      Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
      Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.