Rilis Pita Baru, Target Cukai Rp 57 Triliun di 2010
Kamis, 14/01/2010 15:15 WIB
Foto: dok.detikFinance
Bali - Direkotorat Jenderal Bea Cukai meluncurkan pita cukai baru pada tahun 2010 untuk mengantisipasi pemalsuan. Tahun 2009, kerugian negara akibat pemalsuan pita cukai mencapai Rp 120 miliar.
Pita cukai baru tersebut disosialisasikan oleh Kantor Wilayah Bea Cukai Bali, NTB dan NTT di jalan Bandara Ngurah Rai, Kuta, Kamis (14/1/2010). Desain pita cukai baru ini diperkenalkan kepada para pengusaha, pedagang, jaksa, polisi, dan pengadilan.
Desain baru pita cukai, di antaranya pita cukai untuk rokok dan minuman."Perubahan desain pita cukai untuk menghindari dan memperkecil peluang pemalsuan," kata Direktur Cukai Direktorat Jenderal Bea Cukai Frans Rupang.
Dengan perubahan desain pita cukai ini, pemerintah menargetkan peningkatan penerimaan cukai pada tahun 2010 mencapai sebesar Rp 57,2 triliun. "Kalau kita tidak gencar melawan pemalsuan pita cukai oleh perusahaan rokok dan minuman maka target tersebut tidak akan tercapai," kata Rupang.
Ia menjelaskan pada tahun sebelumnya, terjadi pemalsuan pita cukai yang dilakukan oleh perusahaan rokok dan minuman. Pemalsuan pita cukai marak dilakukan karena memberikan banyak keuntungan bagi perusahaan namun mengakibatkan kerugian negara.
"Secanggih apapun, ada upaya pemalsuan pita cukai. Jika terjadi pemalsuan satu persen saja maka akan ada kerugian miliaran rupiah," ujarnya.
Disebutkan, kerugian negara akibat pemalsuan pita cukai rokok dan minuman sebesar Rp 120 miliar pada tahun 2009. Pada tahun ini, terdapat pemalsuan pita cukai sekitar 1.000 kasus.
Pemalsuan pita cukai rokok banyak dilakukan oleh perusahaan rokok kecil dalam skala rumah tangga. Selain melakukan pemalsuan pita cukai, perusahaan rokok kecil ini juga menjual produknya tanpa pita cukai atau disebut dengan rokok polos.
Sementara itu, penerimaan negara dari cukai sebesar Rp 56,4 triliun pada tahun 2009 yang sebagian besar berasal dari cukai rokok. Dimana cukai minuman beralkohol hanya sebesar Rp 1 triliun.
Penerimaan dari cukai sangat besar bila dibandingkan dengan pajak dari rokok hanya Rp 7 triliun. Sedangkan pendapatan dari biaya masuk bea cukai sebesar Rp 15 triliun.
(gds/dnl)
Pita cukai baru tersebut disosialisasikan oleh Kantor Wilayah Bea Cukai Bali, NTB dan NTT di jalan Bandara Ngurah Rai, Kuta, Kamis (14/1/2010). Desain pita cukai baru ini diperkenalkan kepada para pengusaha, pedagang, jaksa, polisi, dan pengadilan.
Desain baru pita cukai, di antaranya pita cukai untuk rokok dan minuman."Perubahan desain pita cukai untuk menghindari dan memperkecil peluang pemalsuan," kata Direktur Cukai Direktorat Jenderal Bea Cukai Frans Rupang.
Dengan perubahan desain pita cukai ini, pemerintah menargetkan peningkatan penerimaan cukai pada tahun 2010 mencapai sebesar Rp 57,2 triliun. "Kalau kita tidak gencar melawan pemalsuan pita cukai oleh perusahaan rokok dan minuman maka target tersebut tidak akan tercapai," kata Rupang.
Ia menjelaskan pada tahun sebelumnya, terjadi pemalsuan pita cukai yang dilakukan oleh perusahaan rokok dan minuman. Pemalsuan pita cukai marak dilakukan karena memberikan banyak keuntungan bagi perusahaan namun mengakibatkan kerugian negara.
"Secanggih apapun, ada upaya pemalsuan pita cukai. Jika terjadi pemalsuan satu persen saja maka akan ada kerugian miliaran rupiah," ujarnya.
Disebutkan, kerugian negara akibat pemalsuan pita cukai rokok dan minuman sebesar Rp 120 miliar pada tahun 2009. Pada tahun ini, terdapat pemalsuan pita cukai sekitar 1.000 kasus.
Pemalsuan pita cukai rokok banyak dilakukan oleh perusahaan rokok kecil dalam skala rumah tangga. Selain melakukan pemalsuan pita cukai, perusahaan rokok kecil ini juga menjual produknya tanpa pita cukai atau disebut dengan rokok polos.
Sementara itu, penerimaan negara dari cukai sebesar Rp 56,4 triliun pada tahun 2009 yang sebagian besar berasal dari cukai rokok. Dimana cukai minuman beralkohol hanya sebesar Rp 1 triliun.
Penerimaan dari cukai sangat besar bila dibandingkan dengan pajak dari rokok hanya Rp 7 triliun. Sedangkan pendapatan dari biaya masuk bea cukai sebesar Rp 15 triliun.
(gds/dnl)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 19:54 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:08 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 17:23 WIB
SCTV Rebut Hak Siar Liga Champions dari Hary Tanoe
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
35 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
