Audit Program Konversi Selesai Semester II-2010
Kamis, 21/01/2010 14:22 WIB
Foto: dok.detikFinance
Jakarta - Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menargetkan hasil audit Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu (PPDT) terhadap program konversi minyak tanah ke elpiji akan selesai pada semester 2 tahun 2010.
"Sekarang sudah kami mulai, dan diharapkan selesai pada semester 2 ini," kata Anggota IV BPK bidang Sumber Daya Alam, Infrastruktur dan Lingkungan Hidup, Ali Masykur Musa saat ditemui di Kantor BPK, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (21/1/2010).
Menurut Ali, audit tersebut dilakukan untuk memastikan kebenaran jumlah paket dan anggaran yang sudah disalurkan ke masyarakat , baik dalam hal penggunaan/alokasinya maupun ketepatan sasaran yang telah ditentukan sebelumnya.
Dari data yang ada, untuk tahun 2007 hingga 2008 telah terealisasi distribusi paket sebesar 19.013.328 untuk wilayah distribusi Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Sumetara Selatan, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, dan Bali.
Sedangkan untuk 2009 dari target 23.772.582 paket, per tanggal 21 Desember 2009 telah terealisasi 23.436.000 paket untuk wilayah distribusi Nanggroe Aceh Darusalam, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Lampung, Jakarta, Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan.
Jika dihitung sejak tahun 2007 hingga 2009, total paket yang distribusikan sebanyak 42.785.910. Dengan demikian masih tersisa 9.214.090 paket yang harus didistribusikan untuk tahun 2010.
Dengan rata-rata harga per paket sekitar Rp 298 maka anggaran yang digunakan untuk mendukung program konversi minyak tanah ke elpiji berkisar Rp 15,5 triliun untuk jumlah 52 paket, dengan alokasi anggaran sebesar Rp 1,1 triliun di tahun 2007, Rp 2,2 triliun di tahun 2008, dan Rp 4,7 triliun di tahun 2009.
Ali memaparkan untuk memenuhi 52 juta rumah tangga yang menggunakan program konversi maka dibutuhkan elpiji 3.160.000 MT di tahun 2010. Sementara kemampuan pemerintah hanya 2,8 juta MT sehingga masih kurang 360.000 MT gas dari jumlah kebutuhan yang ada.
"Agar tidak terjadi kelangkaan gas dan agar program konversi tidak menjadi jebakan baru bagi masyarakat, maka impor gas tentu menjadi pilihan yang akan diambil pemerintah," kata dia.
Untuk itu, Ali menyatakan pihaknya juga akan melakukan audit terhadap tender pengadaan elpiji yang dilakukan PT Pertamina (Persero).
"Kami juga mempertanyakan proses tender penyediaan elpiji tersebut," tandasnya.
(epi/dnl)
"Sekarang sudah kami mulai, dan diharapkan selesai pada semester 2 ini," kata Anggota IV BPK bidang Sumber Daya Alam, Infrastruktur dan Lingkungan Hidup, Ali Masykur Musa saat ditemui di Kantor BPK, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (21/1/2010).
Menurut Ali, audit tersebut dilakukan untuk memastikan kebenaran jumlah paket dan anggaran yang sudah disalurkan ke masyarakat , baik dalam hal penggunaan/alokasinya maupun ketepatan sasaran yang telah ditentukan sebelumnya.
Dari data yang ada, untuk tahun 2007 hingga 2008 telah terealisasi distribusi paket sebesar 19.013.328 untuk wilayah distribusi Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Sumetara Selatan, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, dan Bali.
Sedangkan untuk 2009 dari target 23.772.582 paket, per tanggal 21 Desember 2009 telah terealisasi 23.436.000 paket untuk wilayah distribusi Nanggroe Aceh Darusalam, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Lampung, Jakarta, Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan.
Jika dihitung sejak tahun 2007 hingga 2009, total paket yang distribusikan sebanyak 42.785.910. Dengan demikian masih tersisa 9.214.090 paket yang harus didistribusikan untuk tahun 2010.
Dengan rata-rata harga per paket sekitar Rp 298 maka anggaran yang digunakan untuk mendukung program konversi minyak tanah ke elpiji berkisar Rp 15,5 triliun untuk jumlah 52 paket, dengan alokasi anggaran sebesar Rp 1,1 triliun di tahun 2007, Rp 2,2 triliun di tahun 2008, dan Rp 4,7 triliun di tahun 2009.
Ali memaparkan untuk memenuhi 52 juta rumah tangga yang menggunakan program konversi maka dibutuhkan elpiji 3.160.000 MT di tahun 2010. Sementara kemampuan pemerintah hanya 2,8 juta MT sehingga masih kurang 360.000 MT gas dari jumlah kebutuhan yang ada.
"Agar tidak terjadi kelangkaan gas dan agar program konversi tidak menjadi jebakan baru bagi masyarakat, maka impor gas tentu menjadi pilihan yang akan diambil pemerintah," kata dia.
Untuk itu, Ali menyatakan pihaknya juga akan melakukan audit terhadap tender pengadaan elpiji yang dilakukan PT Pertamina (Persero).
"Kami juga mempertanyakan proses tender penyediaan elpiji tersebut," tandasnya.
(epi/dnl)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 18:01 WIB
Anggito: Solusi Terbaik, Naikkan Harga BBM
-
Jumat, 25/05/2012 17:35 WIB
Bikin Mobil Listrik, SBY Kumpulkan Menteri & Rektor di Yogya
-
Jumat, 25/05/2012 17:26 WIB
Ini Dia Negara Pelanggan Sepatu Kelas Dunia Made in Indonesia
-
Jumat, 25/05/2012 17:05 WIB
Wah! Sepatu Timberland dan Clarks pun Made in Sidoarjo
-
Jumat, 25/05/2012 16:57 WIB
Zona Waktu RI Disatukan, Pelajar dan Karyawan 'Bangun' Lebih Pagi
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
Jumat, 25/05/2012 16:27 WIB
PT DI Tawarkan Pesawat N219 Ke Kazakhstan
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Puluhan Merek Pakaian Kelas Dunia Ternyata Made in Bandung
-
Jumat, 25/05/2012 14:48 WIB
Bisnis Ini Mengubah Abu Jenazah Jadi Berlian
-
Jumat, 25/05/2012 14:46 WIB
Ini 10 Negara dengan Pasar Properti Paling 'Hot'
-
58 Komentar
-
55 Komentar
-
37 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
