RI Berisiko Tinggi Untuk Bisnis Online
Jumat, 22/01/2010 13:18 WIB
Foto: dok.detikFinance
Jakarta - Dugaan sindikat internasional yang bermain dalam kasus-kasus pembobolan ATM di Bali beberapa hari ini cukup beralasan. Indonesia dinilai masih rentan dalam hal sistem pengamanan transaksi online termasuk di bidang perbankan, meskipun kasus-kasus serupa pernah menimpa negara-negara maju.
"Ini menarik, mungkin dianggapnya Indonesia tidak terlalu ketat pengawasannya. Di kalangan bisnis online, kita menjadi negara yang dianggap risikonya tinggi,"
kata Wakil Ketua Kadin Bidang Moneter, Fiskal dan Kebijakan Publik Hariyadi Sukamdani saat berbincang dengan detikFinance , Jumat (22/1/2010).
Hariyadi menjelaskan dalam kasus-kasus transaksi online (jual-beli) selama ini, dimana ketika permintaan pembelinya berasal Indonesia, banyak negara-negara lain
yang memperlakukan verifikasi yang sangat ketat karena Indonesia masih dianggap memiliki risiko tinggi.
"Negara-negara maju kalau mendapatkan pembeli online dari Indonesia, mereka sangat ketat karena kita menjadi negara yang punya risiko," ucapnya.
Hal-hal yang semacam inilah, lanjut Hariyadi, yang kemungkinan besar menjadi pertimbangan para sindikat internasional pembobol ATM mengincar Indonesia. Sehingga kata dia, khususnya bagi kalangan perbankan nasional untuk lebih melakukan intropeksi dalam meningkatkan sistem keamanannya di bidang transaksi online termasuk ATM.
"Dari waktu ke waktu sistem online itu rawan dengan pembobolan itu sudah pasti, jadi harus meningkatkan kemampuan teknologi pengamanannya," katanya.
Bagi perbankan, dengan adanya peningkatan sistem pengamanan yang kontinyu dengan mengikuti perkembangan teknologi, tentunya akan menguntungkan perbankan itu
sendiri karena nasabah akan merasa nyaman menyimpan dananya di perbankan.
"Dari keuntungan selama ini, menurut saya mereka harus meningkatkan itu untuk kepentingan mereka sendiri," serunya.
Sebelumnya Bank Indonesia menenggarai perihal pembobolan ATM beberapa bank yang terjadi baru-baru ini dilakukan oleh sebuah sindikat pembobol ATM internasional,
karena modus pemanfaatan data ATM seperti ini biasa dilakukan di luar negeri.
"Ini dilakukan dari kecurigaan sindikat internasional karena pemanfaatan data ini dilakukan di luar negeri," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Budi Rochadi dalam jumpa pers di Gedung BI, Jalan Thamrin, Jakarta, Rabu (20/1/2010).
(hen/dnl)
"Ini menarik, mungkin dianggapnya Indonesia tidak terlalu ketat pengawasannya. Di kalangan bisnis online, kita menjadi negara yang dianggap risikonya tinggi,"
kata Wakil Ketua Kadin Bidang Moneter, Fiskal dan Kebijakan Publik Hariyadi Sukamdani saat berbincang dengan detikFinance , Jumat (22/1/2010).
Hariyadi menjelaskan dalam kasus-kasus transaksi online (jual-beli) selama ini, dimana ketika permintaan pembelinya berasal Indonesia, banyak negara-negara lain
yang memperlakukan verifikasi yang sangat ketat karena Indonesia masih dianggap memiliki risiko tinggi.
"Negara-negara maju kalau mendapatkan pembeli online dari Indonesia, mereka sangat ketat karena kita menjadi negara yang punya risiko," ucapnya.
Hal-hal yang semacam inilah, lanjut Hariyadi, yang kemungkinan besar menjadi pertimbangan para sindikat internasional pembobol ATM mengincar Indonesia. Sehingga kata dia, khususnya bagi kalangan perbankan nasional untuk lebih melakukan intropeksi dalam meningkatkan sistem keamanannya di bidang transaksi online termasuk ATM.
"Dari waktu ke waktu sistem online itu rawan dengan pembobolan itu sudah pasti, jadi harus meningkatkan kemampuan teknologi pengamanannya," katanya.
Bagi perbankan, dengan adanya peningkatan sistem pengamanan yang kontinyu dengan mengikuti perkembangan teknologi, tentunya akan menguntungkan perbankan itu
sendiri karena nasabah akan merasa nyaman menyimpan dananya di perbankan.
"Dari keuntungan selama ini, menurut saya mereka harus meningkatkan itu untuk kepentingan mereka sendiri," serunya.
Sebelumnya Bank Indonesia menenggarai perihal pembobolan ATM beberapa bank yang terjadi baru-baru ini dilakukan oleh sebuah sindikat pembobol ATM internasional,
karena modus pemanfaatan data ATM seperti ini biasa dilakukan di luar negeri.
"Ini dilakukan dari kecurigaan sindikat internasional karena pemanfaatan data ini dilakukan di luar negeri," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Budi Rochadi dalam jumpa pers di Gedung BI, Jalan Thamrin, Jakarta, Rabu (20/1/2010).
(hen/dnl)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 18:01 WIB
Anggito: Solusi Terbaik, Naikkan Harga BBM
-
Jumat, 25/05/2012 17:35 WIB
Bikin Mobil Listrik, SBY Kumpulkan Menteri & Rektor di Yogya
-
Jumat, 25/05/2012 17:26 WIB
Ini Dia Negara Pelanggan Sepatu Kelas Dunia Made in Indonesia
-
Jumat, 25/05/2012 17:05 WIB
Wah! Sepatu Timberland dan Clarks pun Made in Sidoarjo
-
Jumat, 25/05/2012 16:57 WIB
Zona Waktu RI Disatukan, Pelajar dan Karyawan 'Bangun' Lebih Pagi
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
Jumat, 25/05/2012 16:27 WIB
PT DI Tawarkan Pesawat N219 Ke Kazakhstan
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Puluhan Merek Pakaian Kelas Dunia Ternyata Made in Bandung
-
Jumat, 25/05/2012 14:48 WIB
Bisnis Ini Mengubah Abu Jenazah Jadi Berlian
-
Jumat, 25/05/2012 14:46 WIB
Ini 10 Negara dengan Pasar Properti Paling 'Hot'
-
58 Komentar
-
55 Komentar
-
37 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
