Pemerintah akan 'Buang' Produk China ke Indonesia Timur
Rabu, 03/02/2010 17:46 WIB
Foto: dok.detikFinance
Jakarta - Pemerintah berencana 'membuang' produk China ke wilayah Indonesia Timur demi menekan laju inflasi di wilayah itu.
Demikian disampaikan Deputi Menko Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan Eddy Putra Irawady di sela acara diskusi panel mengenai ASEAN-China FTA bertajuk "Jangan Takut Berunding dengan China" di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (3/2/2010).
"Elektronik, makanan, sepatu itu yang diimpor dari China. Padahal, di daerah timur itu inflasi terhadap barang-barang itu, jadi kenapa barang-barang murah masuknya nggak ke situ. Ini yang akan kita bahas sore ini," ujarnya.
Menurut Eddy, kondisi saat ini terjadinya penumpukan barang di pulau Jawa. Oleh karena itu, pemerintah perlu melakukan reorientasi wilayah tujuan produk-produk impor China.
"Yang terjadi saat ini kan terjadi penumpukan di Jawa sehingga daerah lain mudah diserbu impor. Karena itu, kita perlu dilakukan reorientasi," tegasnya.
Namun, Eddy menyatakan rencana tersebut tidak serta-merta bisa dilaksanakan karena harus melihat kesiapan pelabuhan di wilayah Indonesia Timur tersebut. Walaupun saat ini, sudah ada beberapa pelabuhan yang mengajukan diri sebagai pintu masuk produk China tersebut. Seperti, lanjut Eddy, pelabuhan Tarakan, Balikpapan, dan Sulawesi Selatan.
"Kalau kita arahkan ke timur, kita lihat kesiapan pelabuhan mereka, bakal banyak penyelundupan nggak? Makanya kita tanya pihak bea cukai," jelasnya.
Eddy mengakui produk-produk China memiliki kualitas yang kurang bagus. Namun memang, harga murah produk negara Tirai Bambu ini belum bisa disaingi negara lain termasuk Indonesia.
"Kita kan yang penting murah, produk China itu kan bukan semuanya dari China, ada yang dari Australia, ada yang mau kadaluarsa, kita kan pembuangan," ungkapnya.
Oleh karena itu, Eddy menyatakan diperlukan diversifikasi dan pengelompokkan jenis barang impor sebagai manajemen risiko dan menjaga asumsi ekonomi makro.
"Bagaimana pengawasan barang impor yang masuk dapat diawasi dengan lebih ketat dan tingkat inflasi di daerah akan dapat lebih ditekan karena adanya diversifikasi penyebaran barang impor," tukas Eddy.
(nia/dnl)
Demikian disampaikan Deputi Menko Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan Eddy Putra Irawady di sela acara diskusi panel mengenai ASEAN-China FTA bertajuk "Jangan Takut Berunding dengan China" di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (3/2/2010).
"Elektronik, makanan, sepatu itu yang diimpor dari China. Padahal, di daerah timur itu inflasi terhadap barang-barang itu, jadi kenapa barang-barang murah masuknya nggak ke situ. Ini yang akan kita bahas sore ini," ujarnya.
Menurut Eddy, kondisi saat ini terjadinya penumpukan barang di pulau Jawa. Oleh karena itu, pemerintah perlu melakukan reorientasi wilayah tujuan produk-produk impor China.
"Yang terjadi saat ini kan terjadi penumpukan di Jawa sehingga daerah lain mudah diserbu impor. Karena itu, kita perlu dilakukan reorientasi," tegasnya.
Namun, Eddy menyatakan rencana tersebut tidak serta-merta bisa dilaksanakan karena harus melihat kesiapan pelabuhan di wilayah Indonesia Timur tersebut. Walaupun saat ini, sudah ada beberapa pelabuhan yang mengajukan diri sebagai pintu masuk produk China tersebut. Seperti, lanjut Eddy, pelabuhan Tarakan, Balikpapan, dan Sulawesi Selatan.
"Kalau kita arahkan ke timur, kita lihat kesiapan pelabuhan mereka, bakal banyak penyelundupan nggak? Makanya kita tanya pihak bea cukai," jelasnya.
Eddy mengakui produk-produk China memiliki kualitas yang kurang bagus. Namun memang, harga murah produk negara Tirai Bambu ini belum bisa disaingi negara lain termasuk Indonesia.
"Kita kan yang penting murah, produk China itu kan bukan semuanya dari China, ada yang dari Australia, ada yang mau kadaluarsa, kita kan pembuangan," ungkapnya.
Oleh karena itu, Eddy menyatakan diperlukan diversifikasi dan pengelompokkan jenis barang impor sebagai manajemen risiko dan menjaga asumsi ekonomi makro.
"Bagaimana pengawasan barang impor yang masuk dapat diawasi dengan lebih ketat dan tingkat inflasi di daerah akan dapat lebih ditekan karena adanya diversifikasi penyebaran barang impor," tukas Eddy.
(nia/dnl)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 07:03 WIB
Inilah 15 Perusahaan Idaman Mahasiswa Fresh Graduate
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 08:17 WIB
Ada Menara Tertinggi ke-5 di Dunia, Pasar Properti RI Makin Seksi
-
Kamis, 24/05/2012 07:19 WIB
Artha Graha: Tak Ada Kasino di Gedung Tertinggi Tomy Winata
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
35 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
