AS Tak Punya OJK Kok DPR Ingin Studi Banding?
Rabu, 03/02/2010 18:06 WIB
Jakarta - Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) melontarkan ide melakukan studi banding dalam rangka pembentukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Beberapa negara yang dituju untuk studi banding adalah Amerika Serikat (AS), Jepang ataupun Australia.
Tapi layakkah studi banding ke AS? Tampaknya apa yang akan dicari DPR di AS untuk masalah OJK akan menemui kebuntuan. Negara tersebut malah sama sekali tidak menggunakan OJK.
Ekonom BNI, Tony Prasetiantono menjelaskan, AS menggunakan sistem pengawasan oleh bank sentral dalam hal ini Federal Reseve (The Fed). Dalam melaksanakan tugasnya mengawasi bank, The Fed didampingi oleh FDIC (Federal Deposit Insurance Corporation).
"Atau semacam LPS di kita yang powerfull, sehingga sangat banyak membantu The Fed dalam pengawasan," ungkap Tony kepada detikFinance di Jakarta, Selasa (3/2/2010).
Tony mengakui, untuk mencari patokan OJK yang pas dengan dengan kondisi Indonesia rasanya sulit. Sebagian besar negara memang tidak tepat menerapkan OJK sebagaimana dicita-citakan Indonesia.
"Untuk mencari benchmark yang pas atau compatible dengan kondisi Indonesia rasanya sulit. Negara besar dengan banyak bank adalah Amerika Serikat. Namun, AS justru menggunakan sistem pengawasan oleh bank Sentral (The Fed)," ujar Tony.
Namun menurut Tony, jika memang AS yang akan dijadikan benchmark, maka LPS bisa diperkuat sehingga menjadi embrio OJK.
Tony menambahkan, BI pun bisa saja menjadi salah satu komisioner, karena sebenarnya antara kebijakan moneter dan pengawasan perbankan ada hal-hal yang bertautan.
"Namun sekarang BI juga amat memerlukan personalia, termasuk di Dewan Gubernur, yang berlatar belakang commercial banker," tambahnya.
Nantinya, sambung Tony akan menjadi complementary personalia yang ahli ekonomi makro dan central banker yang sekarang mendominasi jajaran BI.
Anggota Komisi XI dari Fraksi Partai Glokar Nusron Wahid sebelumnya mengatakan, untuk menyempurnakan rumusan OJK, maka sebaiknya dilakukan studi banding ke negara-negara yang sudah punya OJK.
"Untuk lebih sempurna maka harus ada studi komperhensif pada negara-negara yang sudah mempunyai OJK tersebut seperti Amerika, Jepang, ataupun Inggris," ujarnya, Selasa (2/2/2010) kemarin.
(dru/qom)
Tapi layakkah studi banding ke AS? Tampaknya apa yang akan dicari DPR di AS untuk masalah OJK akan menemui kebuntuan. Negara tersebut malah sama sekali tidak menggunakan OJK.
Ekonom BNI, Tony Prasetiantono menjelaskan, AS menggunakan sistem pengawasan oleh bank sentral dalam hal ini Federal Reseve (The Fed). Dalam melaksanakan tugasnya mengawasi bank, The Fed didampingi oleh FDIC (Federal Deposit Insurance Corporation).
"Atau semacam LPS di kita yang powerfull, sehingga sangat banyak membantu The Fed dalam pengawasan," ungkap Tony kepada detikFinance di Jakarta, Selasa (3/2/2010).
Tony mengakui, untuk mencari patokan OJK yang pas dengan dengan kondisi Indonesia rasanya sulit. Sebagian besar negara memang tidak tepat menerapkan OJK sebagaimana dicita-citakan Indonesia.
"Untuk mencari benchmark yang pas atau compatible dengan kondisi Indonesia rasanya sulit. Negara besar dengan banyak bank adalah Amerika Serikat. Namun, AS justru menggunakan sistem pengawasan oleh bank Sentral (The Fed)," ujar Tony.
Namun menurut Tony, jika memang AS yang akan dijadikan benchmark, maka LPS bisa diperkuat sehingga menjadi embrio OJK.
Tony menambahkan, BI pun bisa saja menjadi salah satu komisioner, karena sebenarnya antara kebijakan moneter dan pengawasan perbankan ada hal-hal yang bertautan.
"Namun sekarang BI juga amat memerlukan personalia, termasuk di Dewan Gubernur, yang berlatar belakang commercial banker," tambahnya.
Nantinya, sambung Tony akan menjadi complementary personalia yang ahli ekonomi makro dan central banker yang sekarang mendominasi jajaran BI.
Anggota Komisi XI dari Fraksi Partai Glokar Nusron Wahid sebelumnya mengatakan, untuk menyempurnakan rumusan OJK, maka sebaiknya dilakukan studi banding ke negara-negara yang sudah punya OJK.
"Untuk lebih sempurna maka harus ada studi komperhensif pada negara-negara yang sudah mempunyai OJK tersebut seperti Amerika, Jepang, ataupun Inggris," ujarnya, Selasa (2/2/2010) kemarin.
(dru/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 18:57 WIB
Pemerintah Dapat Bonus Tandatangan Rp 141 Miliar Dari Proyek Migas
-
Jumat, 25/05/2012 18:49 WIB
Satu Zona Waktu, Penerimaan Negara dari Pajak Bakal Bertambah
-
Jumat, 25/05/2012 18:01 WIB
Anggito: Solusi Terbaik, Naikkan Harga BBM
-
Jumat, 25/05/2012 17:35 WIB
Bikin Mobil Listrik, SBY Kumpulkan Menteri & Rektor di Yogya
-
Jumat, 25/05/2012 17:26 WIB
Ini Dia Negara Pelanggan Sepatu Kelas Dunia Made in Indonesia
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
Jumat, 25/05/2012 17:53 WIB
Anggito: Solusi Terbaik, Naikkan Harga BBM
-
Jumat, 25/05/2012 16:57 WIB
Zona Waktu RI Disatukan, Pelajar dan Karyawan 'Bangun' Lebih Pagi
-
Jumat, 25/05/2012 16:27 WIB
PT DI Tawarkan Pesawat N219 Ke Kazakhstan
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Puluhan Merek Pakaian Kelas Dunia Ternyata Made in Bandung
-
59 Komentar
-
55 Komentar
-
37 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
