detikfinance

Pasar Ekspor RI Bergeser ke China, India, dan Korsel

Nurseffi Dwi Wahyuni - detikfinance
Selasa, 09/02/2010 13:40 WIB
Foto: dok.detikFinance
Jakarta - Kementerian Perdagangan mencatat telah terjadi pergeseran pasar tujuan ekspor dan impor Indonesia dalam kurun waktu lima waktu terakhir dari AS dan Eropa beralih ke China, India, dan Korsel.

"China, India, Korea Selatan dan negara lainnya mulai mendominasi pangsa pasar ekspor Indonesia, sementara pangsa pasar ekspor Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang mulai berkurang," kata Wakil Menteri Perdagangan Mahendra Siregar dalam jumpa pers Kinerja Ekspor dan Impor Januari-Desember 2009 di auditorium Kementerian Perdagangan, Jalan  M.I Ridwan Rais No.5, Jakarta, Selasa (9/2/2010).

Ia mencontohkan untuk ekspor non migas pada tahun 2004, kontribusi Amerika Serikat mencapai 14,8 persen dari total ekspor non migas Indonesia, namun pada tahun 2009 turun menjadi 10,7 persen.

Begitupun untuk Uni Eropa, pada tahun 2004 ekspor non migas ke Uni Eropa mencapai 16,1 persen dari total ekspor non migas Indonesia, sementara pada tahun 2009 turun menjadi 13,9 persen. Sementara Jepang turun dari 15 persen di 2004 menjadi 12,3 persen di 2009.

"Pada 2004, ekspor non migas Indonesia ke Cina hanya 6,1 persen sekarang naik menjadi 9,1 persen di 2009 dan ke India naik dari 3,8 persen di 2004 menjadi 7,2 persen di 2009," papar dia.

Mahendra menyebutkan, selama tahun 2009 ekspor nonmigas Indonesia ke China mencapai US$ 8,9 miiar atau tumbuh  sebesar 14,4 persen daripada tahun 2008.

Sedangkan ekspor ke India tercatat US$ 7,4 miliar atau tumbuh 4,1 persen dibanding tahun 2008 dan Korea Selatan mencapai US$ 5,2 miliar atau tumbuh 10,9 persen dibanding 2008.

"Namun ekspor Indonesia, masih terkonsentrasi pada 8 pasar tujuan ekspor dan negara-negara ASEAN merupakan pasar ekspor terbesar dimana lebih dari 20 persen ekspor Indonesia ditujukan ke wilayah ini," papar dia.

Pergeseran juga terjadi pada Negara asal impor di Indonesia. Jika pada tahun 2004 impor dari Amerika Serikat mencapai 19 persen turun menjadi 10,31 persen di 2009, sementara untuk impor dari Jepang di 2004 mencapai 19,26 persen turun menjadi 14,38 persen. Sedangkan nilai impor Uni Eropa cenderung stabil di kisaran 12 persen.

"Sedangkan China naik semula 7,9 persen di 2004 menjadi 19, 77 persen. Naiknya impor china telah disebabkan Impor dari negara lain berkurang," kata dia.

Mahendra menambahkan, pergeseran negara ekspor impor terjadi karena diversfikasi pasar telah dilakukan.

"Dengan adanya diversifikasi pasar, maka tumbuh pasar-pasar baru ini," tandasnya.



(epi/dnl)

Share:

Komentar (0 Komentar)


    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login
    Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Gb Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
      Wawancara Khusus MS Hidayat
      Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
      Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
    • Gb Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
      Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
      Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.