PTPN XIV Masih Cicil Tunggakan Pajak Rp 60 Miliar
Selasa, 09/02/2010 16:27 WIB
Jakarta - PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XIV masih berusaha mencicil tunggakan pajak sebesar Rp 60 miliar. Kondisi keuangan PTPN XIV tidak memungkinkan BUMN tersebut melunasi langsung tunggakan pajaknya.
Menurut Direktur Utama PTPN XIV Amrullah AM, pajak tersebut merupakan PPN atas produk gula di tahun 1996-2000 lalu.
"Kenapa kita disebut nunggak soalnya cicilannya baru kita lakukan beberapa bulan terakhir di 2009. Itu pajak lama yang terjadi 1996 sampai 2000, setelah itu tidak terjadi tunggakan lagi," katanya dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VI DPR di Gedung MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (9/2/2010).
Menurutnya, dari tahun 2000 hingga sekarang, perusahaan plat merah itu melunasi semua kewajiban pajaknya. Namun, karena pajak lama yang jumlahnya cukup besar tersebut, perseroan tidak bisa membayar sekaligus sehingga harus mencicil.
"Tapi kalau kita mau lunasi sekarang kondisi keuangan tidak memungkinkan," ujarnya.
Hingga akhir tahun 2009, perseroan masih mengalami kerugian sebesar Rp 43 miliar. Angka tersebut turun secara signifikan jika dibandingkan rugi bersih tahun 2008 yang mencapai Rp 108 miliar.
Ia mengatakan, hingga kini tunggakan pajak BUMN perkebunan itu mencapai Rp 60 miliar, terdiri atas pajak pokok dan beban bunga. Ditjen pajak juga sempat memasukkan PTPN XIV dalam daftar 100 penunggak pajak.
"Tentunya susah kita lunasi dalam waktu dekat, makanya hari ini ada pembicaraan di Kementerian (BUMN) agar utang-utang ini kita usulkan menjadi pajak ditanggung negara," imbuhnya.
Jika hal itu tidak disetujui, ia mengatakan, pihaknya akan mengupayakan penjadwalan ulang pembayaran cicilan atas pajak tersebut kepada Direktorat Jenderal Pajak.
Di akhir tahun 2010 ini, perseroan menargetkan perolehan laba bersih sebanyak Rp 50 miliar, dengan pendapatan Rp 560 miliar. Target tersebut akan dikejar melalui peningkatan efisiensi dan sinergi antar BUMN perkebunan.
(ang/qom)
Menurut Direktur Utama PTPN XIV Amrullah AM, pajak tersebut merupakan PPN atas produk gula di tahun 1996-2000 lalu.
"Kenapa kita disebut nunggak soalnya cicilannya baru kita lakukan beberapa bulan terakhir di 2009. Itu pajak lama yang terjadi 1996 sampai 2000, setelah itu tidak terjadi tunggakan lagi," katanya dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VI DPR di Gedung MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (9/2/2010).
Menurutnya, dari tahun 2000 hingga sekarang, perusahaan plat merah itu melunasi semua kewajiban pajaknya. Namun, karena pajak lama yang jumlahnya cukup besar tersebut, perseroan tidak bisa membayar sekaligus sehingga harus mencicil.
"Tapi kalau kita mau lunasi sekarang kondisi keuangan tidak memungkinkan," ujarnya.
Hingga akhir tahun 2009, perseroan masih mengalami kerugian sebesar Rp 43 miliar. Angka tersebut turun secara signifikan jika dibandingkan rugi bersih tahun 2008 yang mencapai Rp 108 miliar.
Ia mengatakan, hingga kini tunggakan pajak BUMN perkebunan itu mencapai Rp 60 miliar, terdiri atas pajak pokok dan beban bunga. Ditjen pajak juga sempat memasukkan PTPN XIV dalam daftar 100 penunggak pajak.
"Tentunya susah kita lunasi dalam waktu dekat, makanya hari ini ada pembicaraan di Kementerian (BUMN) agar utang-utang ini kita usulkan menjadi pajak ditanggung negara," imbuhnya.
Jika hal itu tidak disetujui, ia mengatakan, pihaknya akan mengupayakan penjadwalan ulang pembayaran cicilan atas pajak tersebut kepada Direktorat Jenderal Pajak.
Di akhir tahun 2010 ini, perseroan menargetkan perolehan laba bersih sebanyak Rp 50 miliar, dengan pendapatan Rp 560 miliar. Target tersebut akan dikejar melalui peningkatan efisiensi dan sinergi antar BUMN perkebunan.
(ang/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 07:03 WIB
Inilah 15 Perusahaan Idaman Mahasiswa Fresh Graduate
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 08:17 WIB
Ada Menara Tertinggi ke-5 di Dunia, Pasar Properti RI Makin Seksi
-
Kamis, 24/05/2012 07:19 WIB
Artha Graha: Tak Ada Kasino di Gedung Tertinggi Tomy Winata
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
35 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
