KADI Tunggu Menkeu Tetapkan BMAD Tepung Terigu
Rabu, 10/02/2010 19:29 WIB
Foto: dok detikFinance
Jakarta - Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) Kemeterian Perdagangan masih menunggu putusan penetapan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) dari Menteri Keuangan atas produk tepung terigu asal Turki yang diindikasi menerapkan praktik dumping.
Hingga saat ini, KADI telah menangani 8 kasus dumping, dua diantaranya sudah dikenakan tindakan anti dumping melalui BMAD.
"Penyelidikan yang masih berlangsung sebetulnya hanya lima. Satu lagi untuk wheat flour asal Turki tinggal tunggu penetapan dari Menteri Keuangan," kata Ketua KADI Halida Miljani dalam jumpa pers di Gedung Kementerian Perdagangan, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta, Rabu (10/2/2010).
Dalam penyelidikannya, ditemukan produk tepung terigu asal Turki terbukti berpraktik dumping. Dilihat dari dua intrumen penilian yang dilakukan KADI, yaitu efek harga dan volume, terbukti ada hubungan kausalitas diantara keduanya. Ini menyebabkan produsen tepung terigu mengalami kerugian.
"Awal penyelidikan kita indikasikan ada tiga negara, Australia, Sri Langka, dan Turki. Namun setelah dihitung hanya Turki yang terbukti. Meskipun ketiganya menetapkan efek harga yang jauh lebih murah, dalam kurun waktu 2005-2008, namun catatan efek volume mereka justru turun. Hanya Turki yang terbukti naik. Pembuktian dua efek, sudah cukup," jelasnya.
Lima jenis kasus lain yang sedang dalam proses KADI adalah HRC (canai panas dibalut) asal Korea dan Malaysia. Kemudian Polyester Staple Fiber asal China, India, dan Taiwan, disusul H&I Section (besi baja) asal China, Alumunium Mealdish asal Malaisya, dan kertas dan kertas kanton hias (review uncoated writing & printing paper) asal Finlandia, Korea, India serta Malaisya.
"Untuk dua produk yang telah dikenakan BMAD pada periode 2007-2010 adalah HRC dan Bi-Axially Oriented Polypropylene Film asal Thailand. Besaran BMAD untuk HRC bervariasi, tergantung negara asal, kisarannya 0-27,44%," terannya.
Ia mengatakan, naiknya angka kasus tersebut disebabkan oleh meningkatnya kesadaran industri dalam negeri untuk menggunakan hak dalam meminta perlindungan dari praktik dagang dumping yang tidak sehat, dan menyebabkan kerugian. Juga sebagai dampak negatif dari serbuan barang impor sebagai salah satu konsekuensi pasar terbuka.
Sementara itu, Komite Pengamanan Perdagangan Indonesia (KPPI) juga tengah menyelidiki (inisiasi) terhadap empat barang impor. Diantaranya, kawat Bindrad, Meal Dish (piring makanan), kawat seng, dan kawat sling (wire rope). Untuk produk yang sudah dikenakan Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTP) adalah keramik tableware, dextrose monohydrate, dan paku. Pihak yang dikenakan adalah seluruh negara sumber impor, kecuali negara berkembang yang memiliki pangsa pasar impor kurang dari 3%.
"Penyelidikan akan dapat diselesaikan oleh KPPI selambat-lambatnya Juni tahun 2010. Seluruh penyelidikan oleh dua lembag ini, harus menjaga akuntabilitas dengan akurasi dan ketepatan data. Semua sesuai aturan dan prosedur yang ditentukan oleh perjnjin WTO tentang anti dumping dan safeguards (WTO agreement on safeguards," terang Halida.
(wep/ang)
Hingga saat ini, KADI telah menangani 8 kasus dumping, dua diantaranya sudah dikenakan tindakan anti dumping melalui BMAD.
"Penyelidikan yang masih berlangsung sebetulnya hanya lima. Satu lagi untuk wheat flour asal Turki tinggal tunggu penetapan dari Menteri Keuangan," kata Ketua KADI Halida Miljani dalam jumpa pers di Gedung Kementerian Perdagangan, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta, Rabu (10/2/2010).
Dalam penyelidikannya, ditemukan produk tepung terigu asal Turki terbukti berpraktik dumping. Dilihat dari dua intrumen penilian yang dilakukan KADI, yaitu efek harga dan volume, terbukti ada hubungan kausalitas diantara keduanya. Ini menyebabkan produsen tepung terigu mengalami kerugian.
"Awal penyelidikan kita indikasikan ada tiga negara, Australia, Sri Langka, dan Turki. Namun setelah dihitung hanya Turki yang terbukti. Meskipun ketiganya menetapkan efek harga yang jauh lebih murah, dalam kurun waktu 2005-2008, namun catatan efek volume mereka justru turun. Hanya Turki yang terbukti naik. Pembuktian dua efek, sudah cukup," jelasnya.
Lima jenis kasus lain yang sedang dalam proses KADI adalah HRC (canai panas dibalut) asal Korea dan Malaysia. Kemudian Polyester Staple Fiber asal China, India, dan Taiwan, disusul H&I Section (besi baja) asal China, Alumunium Mealdish asal Malaisya, dan kertas dan kertas kanton hias (review uncoated writing & printing paper) asal Finlandia, Korea, India serta Malaisya.
"Untuk dua produk yang telah dikenakan BMAD pada periode 2007-2010 adalah HRC dan Bi-Axially Oriented Polypropylene Film asal Thailand. Besaran BMAD untuk HRC bervariasi, tergantung negara asal, kisarannya 0-27,44%," terannya.
Ia mengatakan, naiknya angka kasus tersebut disebabkan oleh meningkatnya kesadaran industri dalam negeri untuk menggunakan hak dalam meminta perlindungan dari praktik dagang dumping yang tidak sehat, dan menyebabkan kerugian. Juga sebagai dampak negatif dari serbuan barang impor sebagai salah satu konsekuensi pasar terbuka.
Sementara itu, Komite Pengamanan Perdagangan Indonesia (KPPI) juga tengah menyelidiki (inisiasi) terhadap empat barang impor. Diantaranya, kawat Bindrad, Meal Dish (piring makanan), kawat seng, dan kawat sling (wire rope). Untuk produk yang sudah dikenakan Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTP) adalah keramik tableware, dextrose monohydrate, dan paku. Pihak yang dikenakan adalah seluruh negara sumber impor, kecuali negara berkembang yang memiliki pangsa pasar impor kurang dari 3%.
"Penyelidikan akan dapat diselesaikan oleh KPPI selambat-lambatnya Juni tahun 2010. Seluruh penyelidikan oleh dua lembag ini, harus menjaga akuntabilitas dengan akurasi dan ketepatan data. Semua sesuai aturan dan prosedur yang ditentukan oleh perjnjin WTO tentang anti dumping dan safeguards (WTO agreement on safeguards," terang Halida.
(wep/ang)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 07:03 WIB
Inilah 15 Perusahaan Idaman Mahasiswa Fresh Graduate
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 08:17 WIB
Ada Menara Tertinggi ke-5 di Dunia, Pasar Properti RI Makin Seksi
-
Kamis, 24/05/2012 07:19 WIB
Artha Graha: Tak Ada Kasino di Gedung Tertinggi Tomy Winata
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
35 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
