Dana Pengawasan Barang Cekak, Pemerintah Kewalahan
Jumat, 12/02/2010 17:42 WIB
Jakarta - Kementerian Perdagangan mengakui alokasi anggaran untuk pengawasan peredaran barang di Tanah Air saat ini sangat terbatas. Padahal semenjak berlangsungnya perdagangan bebas khususnya ASEAN-China Free Trade Agreement (AC-FTA) potensi serbuan produk-produk non-standar yang perlu diawasi semakin meningkat.
"Biaya pengawasan kita cuma Rp 15 miliar (per tahun), itu sangat kurang, PPNS (penyidik pegawai negeri sipil), saat melakukan pengawasan perdagang bukan main raup saja," kata Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Subagyo saat ditemui di Hotel Nikko, Jakarta, Jumat (12/2/2010).
Subagyo menjelaskan jajaran PPNS dibawahnya selama ini ketika melakukan pengawasan terhadap barang-barang di pasar memerlukan biaya yang cukup besar. Misalnya dalam satu penyidikan barang yang dicurigai melanggar perdedaran barang, si PPNS harus membeli barang tersebut dan biaya transportasi termasuk menelitinya.
"Kita butuh 4 kali lipat dari sekarang yang sekitar Rp 10-15 miliar, itu sudah segala macam," katanya.
Walhasil, banyak peredaran barang yang seharusnya diawasi secara ketat menjadi sering kedodoran, sedangkan jumlah barang-barang yang diawasi sangat banyak jumlahnya. Ia mencontohkan dalam kasus impor pakaian bekas selundupan selama ini pihaknya memiliki keterbatasan karena anggaran yang cekak.
Akibatnya sampai sekarang ini produk-produk pakaian bekas impor masih sering ditemukan di pasar-pasar tradisional. Padahal pakaian bekas impor selain mengancam industri, juga bisa menjadi sarana penyebaran penyakit-penyakit menular terkait dengan kesehatan.
"Untuk pakaian bekas, yang tidak boleh itu adalah kita mengimpor barang bekas (selundupan), tapi kita boleh jual barang bekas," jelasnya.
Selama ini peranan pengawasan barang beredar, sangat penting terutama dikaitkan dengan mencegah terburuk dari peredaran barang yang mengancam konsumen seperti dampak pada kesehatan, keamanan, lingkungan dan lain-lain.
(hen/qom)
"Biaya pengawasan kita cuma Rp 15 miliar (per tahun), itu sangat kurang, PPNS (penyidik pegawai negeri sipil), saat melakukan pengawasan perdagang bukan main raup saja," kata Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Subagyo saat ditemui di Hotel Nikko, Jakarta, Jumat (12/2/2010).
Subagyo menjelaskan jajaran PPNS dibawahnya selama ini ketika melakukan pengawasan terhadap barang-barang di pasar memerlukan biaya yang cukup besar. Misalnya dalam satu penyidikan barang yang dicurigai melanggar perdedaran barang, si PPNS harus membeli barang tersebut dan biaya transportasi termasuk menelitinya.
"Kita butuh 4 kali lipat dari sekarang yang sekitar Rp 10-15 miliar, itu sudah segala macam," katanya.
Walhasil, banyak peredaran barang yang seharusnya diawasi secara ketat menjadi sering kedodoran, sedangkan jumlah barang-barang yang diawasi sangat banyak jumlahnya. Ia mencontohkan dalam kasus impor pakaian bekas selundupan selama ini pihaknya memiliki keterbatasan karena anggaran yang cekak.
Akibatnya sampai sekarang ini produk-produk pakaian bekas impor masih sering ditemukan di pasar-pasar tradisional. Padahal pakaian bekas impor selain mengancam industri, juga bisa menjadi sarana penyebaran penyakit-penyakit menular terkait dengan kesehatan.
"Untuk pakaian bekas, yang tidak boleh itu adalah kita mengimpor barang bekas (selundupan), tapi kita boleh jual barang bekas," jelasnya.
Selama ini peranan pengawasan barang beredar, sangat penting terutama dikaitkan dengan mencegah terburuk dari peredaran barang yang mengancam konsumen seperti dampak pada kesehatan, keamanan, lingkungan dan lain-lain.
(hen/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 19:32 WIB
Penyatuan Zona Waktu Pernah Terjadi di Zaman Jepang
-
Jumat, 25/05/2012 18:57 WIB
Pemerintah Dapat Bonus Tandatangan Rp 141 Miliar Dari Proyek Migas
-
Jumat, 25/05/2012 18:49 WIB
Satu Zona Waktu, Penerimaan Negara dari Pajak Bakal Bertambah
-
Jumat, 25/05/2012 18:01 WIB
Anggito: Solusi Terbaik, Naikkan Harga BBM
-
Jumat, 25/05/2012 17:35 WIB
Bikin Mobil Listrik, SBY Kumpulkan Menteri & Rektor di Yogya
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
Jumat, 25/05/2012 17:53 WIB
Anggito: Solusi Terbaik, Naikkan Harga BBM
-
Jumat, 25/05/2012 16:57 WIB
Zona Waktu RI Disatukan, Pelajar dan Karyawan 'Bangun' Lebih Pagi
-
Jumat, 25/05/2012 17:05 WIB
Wah! Sepatu Timberland dan Clarks pun Made in Sidoarjo
-
Jumat, 25/05/2012 16:27 WIB
PT DI Tawarkan Pesawat N219 Ke Kazakhstan
-
63 Komentar
-
55 Komentar
-
37 Komentar
-
37 Komentar
-
37 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
