Apa Reksa Dana Paling Pas Tahun Ini?
Rabu, 24/02/2010 08:33 WIB
Jakarta - Memilih produk investasi yang tepat terkadang tidak mudah untuk dilakukan. Apalagi, kalau mencari produk investasi yang aman.
Sebagian orang yang memasang sikap optimistis dalam memandang situasi perekonomian tahun 2010, tentu akan memilih investasi di produk saham.
Namun tak sedikit pula yang menganggap kalau tahun 2010 bukan lah tahun pemulihan global, sehingga mereka berpikir lebih baik menempatkan dana di produk-produk deposito atau obligasi.
Mereka yang sangat yakin dengan prospek pemulihan ekonomi di 2010, tentu siap menempatkan sebagian besar dana yang mereka punya di produk-produk saham, mumpung harga-harga saham masih koreksi.
Nah bagi anda yang merasa kesulitan menentukan produk investasi yang tepat, mungkin dikarenakan anda juga bukan seorang yang biasa berspekulasi, tentunya produk reksa dana merupakan jalan tengahnya.
Menurut para pelaku industri pasar modal, daripada bingung-bingung menentukan sikap, memilih produk reksa dana merupakan langkah yang tepat. Sebab, reksa dana bisa bersifat fleksibel terhadap situasi pergerakan pasar.
Reksa dana, merupakan suatu produk investasi yang dirancang khusus untuk menggaet investasi masyarakat tanpa harus menuntut investornya berperan aktif dalam perdagangan harian di pasar modal.
Jika bermain saham menuntut anda terus memantau layar serta memperhatikan pergerakan saham-saham yang tentunya membutuhkan waktu khusus, sebaliknya, berinvestasi dengan produk reksa dana tidak.
Menanamkan investasi di produk reksa dana berarti anda mempercayakan dana anda untuk diinvestasikan oleh manajer-manajer investasi. Anda cukup menentukan jenis reksa dananya, nanti manajer investasi yang aktif melakukan perdagangan di pasar modal.
Anda sebagai investor cukup memantau saja perkembangan nilai dana anda.
Secara umum, ada 5 jenis reksa dana, yakni reksa dana saham, reksa dana pendapatan tetap, reksa dana pasar uang, reksa dana indeks dan reksa dana campuran.
Masing-masing jenis reksa dana tersebut, akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke jenis produk investasinya. Misalkan, reksa dana saham, tentu akan manajer investasi akan menempatkan dana investasi yang ditanamkan seorang investor ke produk-produk saham.
Nanti manajer investasi yang akan melakukan aksi beli dan jual di lantai bursa. Investor reksa dana cukup memantau perkembangannya saja. Begitu juga dengan jenis reksa dana lainnya, kecuali reksa dana campuran.
Reksa dana campuran, merupakan reksa dana yang menempatkan dana investasinya pada seluruh produk pasar modal, tentunya dengan besaran porsi yang berbeda-beda.
Misalkan, sebuah produk reksa dana campuran menawarkan penempatan dana investasi di saham sebesar 30% dan sisanya di obligasi 70%.
Nah, reksa dana campuran dinilai menjadi instrumen yang paling menarik untuk berinvestasi tahun ini. Sebab, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan terus menguat seiring dengan pemulihan ekonomi di tahun 2010.
Menurut Direktur Utama PT Danareksa Investment Management John D Item, tahun ini harga saham akan naik dan banyak perusahaan yang berencana menerbitkan obligasi dengan imbal hasil yang bervariasi dan menarik.
"Tahun ini sebaiknya investor masuk ke reksa dana campuran, saham dan obligasi. Saham masih akan tumbuh jadi nilainya pasti akan bertambah," ujarnya saat berbincang-bincang dengan detikFinance di Hard Rock Cafe, Jalan M Thamrin, Jakarta, Selasa (23/2/2010).
Ia menambahkan, selain reksa dana campuran, instrumen investasi yang menarik adalah reksa dana pasar uang. Menurutnya, reksa dana jenis ini nilainya lebih tinggi ketimbang investasi dalam bentuk deposito dan risikonya tahun ini tidak akan terlalu tinggi.
"Dia sedikit di atas deposito, kalau dibanding reksa dana lain tidak akan begitu bergejolak tahun ini," ujarnya.
Menurutnya, modal awal yang diperlukan untuk mulai berinvestasi di reksa dana tidak besar. Investor bisa mulai membuka rekening dengan dana kecil, lalu sedikit demi sedikit ditambah portfolionya.
"Kalau takut langsung besar, untuk awal Rp 250.000 juga cukup oke. Nanti setiap bulan dicicil," jelasnya.
John menambahkan, hampir sepanjang tahun ini merupakan waktu yang bagus untuk melakukan investasi dalam bentuk reksa dana. Jadi, tidak perlu menunggu sampai triwulan II, III atau bahkan IV di akhir tahun nanti.
"Lebih bagus mulai dari sekarang, jadi nilainya sudah bisa bertambah di akhir tahun nanti," imbuhnya.
IHSG diperkirakan akan terus menguat, hingga akhir tahun ia meramal posisi IHSG bias menembus angka 3300. Menurutnya, target tersebut dirasa realistis jika melihat pertumbuhan ekonomi dan inflasi di awal tahun 2010 ini.
Selain itu, banyak pihak mulai dari pemerintah dan ekonom yang menilai tahun ini merupakan titik balik pertumbuhan ekonomi setelah imbas masa krisis ekonomi di tahun lalu.
"Banyak orang optimis tahun ini, karena memang portofolio investment Indonesia naik terus, tahun lalu kan turun," tambahnya.
Meski demikian, ia menghimbau para investor untuk sedikit waspada terhadap sentimen negatif yang akan melanda iklim investasi Indonesia tahun ini. Faktor tersebut antara lain, naiknya harga minyak dunia serta potensi inflasi yang cukup besar.
Selain itu, pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang tidak begitu menggembirakan juga menjadi sentimen negatif terhadap iklim investasi Indonesia.
"Mau tidak mau, ekonomi Amerika masih sangat berpengaruh terhadap kita," ujarnya.
(dro/qom)
Sebagian orang yang memasang sikap optimistis dalam memandang situasi perekonomian tahun 2010, tentu akan memilih investasi di produk saham.
Namun tak sedikit pula yang menganggap kalau tahun 2010 bukan lah tahun pemulihan global, sehingga mereka berpikir lebih baik menempatkan dana di produk-produk deposito atau obligasi.
Mereka yang sangat yakin dengan prospek pemulihan ekonomi di 2010, tentu siap menempatkan sebagian besar dana yang mereka punya di produk-produk saham, mumpung harga-harga saham masih koreksi.
Nah bagi anda yang merasa kesulitan menentukan produk investasi yang tepat, mungkin dikarenakan anda juga bukan seorang yang biasa berspekulasi, tentunya produk reksa dana merupakan jalan tengahnya.
Menurut para pelaku industri pasar modal, daripada bingung-bingung menentukan sikap, memilih produk reksa dana merupakan langkah yang tepat. Sebab, reksa dana bisa bersifat fleksibel terhadap situasi pergerakan pasar.
Reksa dana, merupakan suatu produk investasi yang dirancang khusus untuk menggaet investasi masyarakat tanpa harus menuntut investornya berperan aktif dalam perdagangan harian di pasar modal.
Jika bermain saham menuntut anda terus memantau layar serta memperhatikan pergerakan saham-saham yang tentunya membutuhkan waktu khusus, sebaliknya, berinvestasi dengan produk reksa dana tidak.
Menanamkan investasi di produk reksa dana berarti anda mempercayakan dana anda untuk diinvestasikan oleh manajer-manajer investasi. Anda cukup menentukan jenis reksa dananya, nanti manajer investasi yang aktif melakukan perdagangan di pasar modal.
Anda sebagai investor cukup memantau saja perkembangan nilai dana anda.
Secara umum, ada 5 jenis reksa dana, yakni reksa dana saham, reksa dana pendapatan tetap, reksa dana pasar uang, reksa dana indeks dan reksa dana campuran.
Masing-masing jenis reksa dana tersebut, akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke jenis produk investasinya. Misalkan, reksa dana saham, tentu akan manajer investasi akan menempatkan dana investasi yang ditanamkan seorang investor ke produk-produk saham.
Nanti manajer investasi yang akan melakukan aksi beli dan jual di lantai bursa. Investor reksa dana cukup memantau perkembangannya saja. Begitu juga dengan jenis reksa dana lainnya, kecuali reksa dana campuran.
Reksa dana campuran, merupakan reksa dana yang menempatkan dana investasinya pada seluruh produk pasar modal, tentunya dengan besaran porsi yang berbeda-beda.
Misalkan, sebuah produk reksa dana campuran menawarkan penempatan dana investasi di saham sebesar 30% dan sisanya di obligasi 70%.
Nah, reksa dana campuran dinilai menjadi instrumen yang paling menarik untuk berinvestasi tahun ini. Sebab, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan terus menguat seiring dengan pemulihan ekonomi di tahun 2010.
Menurut Direktur Utama PT Danareksa Investment Management John D Item, tahun ini harga saham akan naik dan banyak perusahaan yang berencana menerbitkan obligasi dengan imbal hasil yang bervariasi dan menarik.
"Tahun ini sebaiknya investor masuk ke reksa dana campuran, saham dan obligasi. Saham masih akan tumbuh jadi nilainya pasti akan bertambah," ujarnya saat berbincang-bincang dengan detikFinance di Hard Rock Cafe, Jalan M Thamrin, Jakarta, Selasa (23/2/2010).
Ia menambahkan, selain reksa dana campuran, instrumen investasi yang menarik adalah reksa dana pasar uang. Menurutnya, reksa dana jenis ini nilainya lebih tinggi ketimbang investasi dalam bentuk deposito dan risikonya tahun ini tidak akan terlalu tinggi.
"Dia sedikit di atas deposito, kalau dibanding reksa dana lain tidak akan begitu bergejolak tahun ini," ujarnya.
Menurutnya, modal awal yang diperlukan untuk mulai berinvestasi di reksa dana tidak besar. Investor bisa mulai membuka rekening dengan dana kecil, lalu sedikit demi sedikit ditambah portfolionya.
"Kalau takut langsung besar, untuk awal Rp 250.000 juga cukup oke. Nanti setiap bulan dicicil," jelasnya.
John menambahkan, hampir sepanjang tahun ini merupakan waktu yang bagus untuk melakukan investasi dalam bentuk reksa dana. Jadi, tidak perlu menunggu sampai triwulan II, III atau bahkan IV di akhir tahun nanti.
"Lebih bagus mulai dari sekarang, jadi nilainya sudah bisa bertambah di akhir tahun nanti," imbuhnya.
IHSG diperkirakan akan terus menguat, hingga akhir tahun ia meramal posisi IHSG bias menembus angka 3300. Menurutnya, target tersebut dirasa realistis jika melihat pertumbuhan ekonomi dan inflasi di awal tahun 2010 ini.
Selain itu, banyak pihak mulai dari pemerintah dan ekonom yang menilai tahun ini merupakan titik balik pertumbuhan ekonomi setelah imbas masa krisis ekonomi di tahun lalu.
"Banyak orang optimis tahun ini, karena memang portofolio investment Indonesia naik terus, tahun lalu kan turun," tambahnya.
Meski demikian, ia menghimbau para investor untuk sedikit waspada terhadap sentimen negatif yang akan melanda iklim investasi Indonesia tahun ini. Faktor tersebut antara lain, naiknya harga minyak dunia serta potensi inflasi yang cukup besar.
Selain itu, pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang tidak begitu menggembirakan juga menjadi sentimen negatif terhadap iklim investasi Indonesia.
"Mau tidak mau, ekonomi Amerika masih sangat berpengaruh terhadap kita," ujarnya.
(dro/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 07:03 WIB
Inilah 15 Perusahaan Idaman Mahasiswa Fresh Graduate
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 08:17 WIB
Ada Menara Tertinggi ke-5 di Dunia, Pasar Properti RI Makin Seksi
-
Kamis, 24/05/2012 07:19 WIB
Artha Graha: Tak Ada Kasino di Gedung Tertinggi Tomy Winata
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
35 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
