Pemerintah Angkat Kembali Wacana Merger BNI-Mandiri
Selasa, 02/03/2010 07:41 WIB
Jakarta - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kembali mengangkat wacana lama penggabungan atau merger antara PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) dan PT Bank Mandiri Tbk. Namun pelaksanaannya bakal menghadapi banyak sekali masalah.
"Itu wacana lama dari dulu. Sehubungan dengan bank skala internasional," kata Deputi Kementerian BUMN Bidang Usaha Perbankan dan Jasa Keuangan Parikesit Suprapto usai rapat kerja bersama Komisi VI DPR di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Senin (1/3/2010) malam.
Menurutnya, banyak sekali kendala yang diperkirakan akan menghambat jika kedua bank plat merah itu diputuskan untuk dilebur menjadi satu, salah satunya butuh waktu lama proses yang rumit dan panjang.
"Merger Bank Mandiri dulu itu butuh waktu 4-5 tahun untuk berjalan baik, kan culture masing-masing bank beda untuk menyamakannya butuh waktu lama," imbuhnya.
Selain itu, menurut Parikesit, dengan adanya penggabungan maka akan terjadi pemangkasan jumlah pegawai pula, yang berarti akan ada pemutusan hubungan kerja (PHK) secara besar.
"Nasabah juga kan harus dipindahin, untuk dicatat ulang, ganti buku dan lain sebagainya," tambahnya.
Meski demikian, ia mengatakan, secara teori hal ini bisa diwujudkan. Namun menurutnya, jika pemerintah memang ingin menyatukan BNI dan Mandiri maka hal itu bisa dilakukan pada saat Bank Mandiri sedang dibentuk dari 4 bank lainnya.
Ia mengatakan, bahkan pada jaman Menteri BUMN dijabat oleh Laksamana Sukardi, ada wacana Bank BUMN hanya 2 saja, yaitu PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI).
"Karena bank umum komersil yang biasa kan sudah banyak," jelasnya.
Ketika dikonfirmasi mengenai hal ini, Direktur Utama BNI Gatot Suwondo mengatakan, pihaknya sudah mendengar mengenai kabar tersebut. Bank plat merah itu menyerahkan sepenuhnya hal itu kepada pemerintah selaku pemegang saham pengendali.
"Kalau pemerintah nyuruh, misalnya menteri, heh Gatot, Agus (Martowardojo, Direktur Utama Bank Mandiri), merger lu. Ya kita dorong kesana," katanya.
Sependapat dengan Parikesit, Gatot mengatakan, di atas kertas hal itu mungkin sekali dilakukan. Namun, di dunia nyata, masih banyak faktor yang mesti diperhatikan, seperti kerugian sosialnya.
"Kita (pegawai) misalnya 19.000, Mandiri 19.000, setelah merger diminta 20.000 saja. Harus dipikirkan itu bagaimana sisanya," ucapnya.
(ang/qom)
"Itu wacana lama dari dulu. Sehubungan dengan bank skala internasional," kata Deputi Kementerian BUMN Bidang Usaha Perbankan dan Jasa Keuangan Parikesit Suprapto usai rapat kerja bersama Komisi VI DPR di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Senin (1/3/2010) malam.
Menurutnya, banyak sekali kendala yang diperkirakan akan menghambat jika kedua bank plat merah itu diputuskan untuk dilebur menjadi satu, salah satunya butuh waktu lama proses yang rumit dan panjang.
"Merger Bank Mandiri dulu itu butuh waktu 4-5 tahun untuk berjalan baik, kan culture masing-masing bank beda untuk menyamakannya butuh waktu lama," imbuhnya.
Selain itu, menurut Parikesit, dengan adanya penggabungan maka akan terjadi pemangkasan jumlah pegawai pula, yang berarti akan ada pemutusan hubungan kerja (PHK) secara besar.
"Nasabah juga kan harus dipindahin, untuk dicatat ulang, ganti buku dan lain sebagainya," tambahnya.
Meski demikian, ia mengatakan, secara teori hal ini bisa diwujudkan. Namun menurutnya, jika pemerintah memang ingin menyatukan BNI dan Mandiri maka hal itu bisa dilakukan pada saat Bank Mandiri sedang dibentuk dari 4 bank lainnya.
Ia mengatakan, bahkan pada jaman Menteri BUMN dijabat oleh Laksamana Sukardi, ada wacana Bank BUMN hanya 2 saja, yaitu PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI).
"Karena bank umum komersil yang biasa kan sudah banyak," jelasnya.
Ketika dikonfirmasi mengenai hal ini, Direktur Utama BNI Gatot Suwondo mengatakan, pihaknya sudah mendengar mengenai kabar tersebut. Bank plat merah itu menyerahkan sepenuhnya hal itu kepada pemerintah selaku pemegang saham pengendali.
"Kalau pemerintah nyuruh, misalnya menteri, heh Gatot, Agus (Martowardojo, Direktur Utama Bank Mandiri), merger lu. Ya kita dorong kesana," katanya.
Sependapat dengan Parikesit, Gatot mengatakan, di atas kertas hal itu mungkin sekali dilakukan. Namun, di dunia nyata, masih banyak faktor yang mesti diperhatikan, seperti kerugian sosialnya.
"Kita (pegawai) misalnya 19.000, Mandiri 19.000, setelah merger diminta 20.000 saja. Harus dipikirkan itu bagaimana sisanya," ucapnya.
(ang/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 21:16 WIB
Berusia 20 Tahun, Bank Muamalat Ganti Logo
-
Jumat, 25/05/2012 21:10 WIB
Wah! SBY Rahasiakan Bentuk Mobil Listrik Made in Indonesia
-
Jumat, 25/05/2012 21:04 WIB
SBY Tak Mau Gas RI Diborong ke Luar Negeri
-
Jumat, 25/05/2012 20:56 WIB
Mulai 2013 Palu-Parigi Terhubung Jalan Lintas 35 Km
-
Jumat, 25/05/2012 19:32 WIB
Penyatuan Zona Waktu Pernah Terjadi di Zaman Jepang
-
Jumat, 25/05/2012 19:32 WIB
Penyatuan Zona Waktu Pernah Terjadi di Zaman Jepang
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
Jumat, 25/05/2012 17:53 WIB
Anggito: Solusi Terbaik, Naikkan Harga BBM
-
Jumat, 25/05/2012 18:53 WIB
Pemerintah Dapat Bonus Tandatangan Rp 141 Miliar Dari Proyek Migas
-
Jumat, 25/05/2012 18:05 WIB
Ssst.. 17 Agustus Jadi Usulan Awal Penyatuan Zona Waktu
-
65 Komentar
-
55 Komentar
-
39 Komentar
-
39 Komentar
-
37 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
