BNI Batal Rights Issue Tahun Ini, Bank Mandiri Lanjut
Selasa, 02/03/2010 09:31 WIB
(foto: dok detikFinance)
Jakarta - PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) memutuskan untuk menunda rencana penerbitan saham baru alias rights issue hingga tahun mendatang. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) justru berniat untuk tetap mengupayakan rights issue bisa terlaksana tahun 2010 ini.
"Rights issue kita pikir enggak mungkin tahun ini, terpaksa tahun depan," kata Direktur Utama BNI Gatot Suwondo usai rapat kerja bersama Komisi VI DPR di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Senin (1/3/2010).
Ia mengatakan, bank plat merah tersebut menggelar rights issue demi mendapatkan tambahan modal juga mengincar insentif pajak dengan kepemilikan publik di atas 40 persen yang beredar di bursa.
Tambahan modal merupakan alasan yang paling utama, menurut Gatot, setiap Rp 1 triliun kredit diberikan oleh BNI, maka hal itu menggerus capital adequacy ratio (CAR) perseroan sebanyak 0,2 persen.
"Kita sangat butuh modal. Pengennya tahun ini (rights issue), tapi kayaknya sulit," imbuhnya.
Saat ini, pemerintah menguasai sekitar 76 persen saham di BNI. Jadi, peluang untuk melakukan rights issue masih banyak. Gatot berharap, kepemilikan pemerintah di BNI pada masa mendatang cukup dengan 60 persen saja, sisanya dilepas ke publik melalui berbagai mekanisme yang ada, salah satunya rights issue.
"Kita targetkan rights issue bisa meraup dana sekitar Rp 4-5 triliun," tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Bank Mandiri Agus Martowardojo mengatakan, meski belum mendapat restu dari DPR, pihaknya akan terus mengupayakan aksi korporasi berupa penerbitan saham baru itu bisa tetap terlaksana tahun ini.
"Kita tetap meminta pemerintah dan DPR bisa menyadari betapa pentingnya bank-bank dalam negeri mendapatkan tambahan modal. Salah satunya melalui rights issue," katanya secara terpisah.
Bank Mandiri punya alasan yang serupa dengan BNI dalam melakukan rights issue, untuk menambah modal dan mendapatkan insentif pajak sehingga bisa menjalankan fungsi intermediasi dengan baik.
Sementara menurut Deputi Kementerian BUMN Bidang Usaha Perbankan dan Jasa Keuangan Parikesit Suprapto, saat ini rencana aksi korporasi dua bank BUMN itu belum diajukan oleh Deputi Privatisasi untuk dibahas bersama Komite Privatisasi.
"Nanti kan urutannya setelah dari deputi ke Menteri lalu ke Komite," jelasnya.
(ang/dro)
"Rights issue kita pikir enggak mungkin tahun ini, terpaksa tahun depan," kata Direktur Utama BNI Gatot Suwondo usai rapat kerja bersama Komisi VI DPR di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Senin (1/3/2010).
Ia mengatakan, bank plat merah tersebut menggelar rights issue demi mendapatkan tambahan modal juga mengincar insentif pajak dengan kepemilikan publik di atas 40 persen yang beredar di bursa.
Tambahan modal merupakan alasan yang paling utama, menurut Gatot, setiap Rp 1 triliun kredit diberikan oleh BNI, maka hal itu menggerus capital adequacy ratio (CAR) perseroan sebanyak 0,2 persen.
"Kita sangat butuh modal. Pengennya tahun ini (rights issue), tapi kayaknya sulit," imbuhnya.
Saat ini, pemerintah menguasai sekitar 76 persen saham di BNI. Jadi, peluang untuk melakukan rights issue masih banyak. Gatot berharap, kepemilikan pemerintah di BNI pada masa mendatang cukup dengan 60 persen saja, sisanya dilepas ke publik melalui berbagai mekanisme yang ada, salah satunya rights issue.
"Kita targetkan rights issue bisa meraup dana sekitar Rp 4-5 triliun," tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Bank Mandiri Agus Martowardojo mengatakan, meski belum mendapat restu dari DPR, pihaknya akan terus mengupayakan aksi korporasi berupa penerbitan saham baru itu bisa tetap terlaksana tahun ini.
"Kita tetap meminta pemerintah dan DPR bisa menyadari betapa pentingnya bank-bank dalam negeri mendapatkan tambahan modal. Salah satunya melalui rights issue," katanya secara terpisah.
Bank Mandiri punya alasan yang serupa dengan BNI dalam melakukan rights issue, untuk menambah modal dan mendapatkan insentif pajak sehingga bisa menjalankan fungsi intermediasi dengan baik.
Sementara menurut Deputi Kementerian BUMN Bidang Usaha Perbankan dan Jasa Keuangan Parikesit Suprapto, saat ini rencana aksi korporasi dua bank BUMN itu belum diajukan oleh Deputi Privatisasi untuk dibahas bersama Komite Privatisasi.
"Nanti kan urutannya setelah dari deputi ke Menteri lalu ke Komite," jelasnya.
(ang/dro)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 21:16 WIB
Berusia 20 Tahun, Bank Muamalat Ganti Logo
-
Jumat, 25/05/2012 21:10 WIB
Wah! SBY Rahasiakan Bentuk Mobil Listrik Made in Indonesia
-
Jumat, 25/05/2012 21:04 WIB
SBY Tak Mau Gas RI Diborong ke Luar Negeri
-
Jumat, 25/05/2012 20:56 WIB
Mulai 2013 Palu-Parigi Terhubung Jalan Lintas 35 Km
-
Jumat, 25/05/2012 19:32 WIB
Penyatuan Zona Waktu Pernah Terjadi di Zaman Jepang
-
Jumat, 25/05/2012 19:32 WIB
Penyatuan Zona Waktu Pernah Terjadi di Zaman Jepang
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
Jumat, 25/05/2012 17:53 WIB
Anggito: Solusi Terbaik, Naikkan Harga BBM
-
Jumat, 25/05/2012 18:53 WIB
Pemerintah Dapat Bonus Tandatangan Rp 141 Miliar Dari Proyek Migas
-
Jumat, 25/05/2012 18:05 WIB
Ssst.. 17 Agustus Jadi Usulan Awal Penyatuan Zona Waktu
-
65 Komentar
-
55 Komentar
-
39 Komentar
-
39 Komentar
-
37 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
