Bapepam Didesak Aktifkan Sistem Informasi Reksa Dana
Selasa, 02/03/2010 15:39 WIB
(foto: dok detikFinance)
Jakarta - Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) diminta segera membuka kembali pusat informasi reksa dana guna mencegah terjadinya misinformasi bagi investor yang berniat investasi di produk reksa dana.
"Mengingat data-data yang ada di e-monitoring reksa dana adalah sangat penting untuk keterbukaan informasi bagi masyarakat mohon bagi pihak Bapepam untuk kembali mengaktifkan e-monitoring yang dulu ada," ujar Syahril Taher dalam suratnya ke Suara Pembaca detikcom, Selasa (2/3/2010).
Menurutnya, sudah beberapa tahun terakhir ini Bapepam membekukan section monitoring reksa dana di web site www.bapepam.go.id. Hal ini dinilai Taher menyebabkan kesulitan bagi masyarakat untuk menentukan reksadana mana yang akan dibeli untuk investasi.
Dalam catatan detikFinance, pusat informasi reksa dana di website Bapepam-LK memang tidak lagi dapat diakses sejak akhir 2008, terutama saat terjadinya penurunan Nilai Aktiva Bersih (NAB) produk-produk reksa dana.
Penurunan NAB itu disebabkan ambruknya harga-harga saham saat krisis pasar modal global akhir 2008. Ditampilkannya data rekapitulasi seluruh produk reksa dana secara kontinyu ini, khususnya di tengah krisis, disinyalir membuat sebagian besar nasabah reksa dana khawatir dan memutuskan keluar dari produk ini (redemption).
Kontan saja saat itu banyak manajer investasi menjerit-jerit. Dalam situasi seperti itu, Bapepam-LK pun terpaksa menutup pusat data tersebut.
Namun menurut Taher, seharusnya pusat informasi reksa dana tetap dibuka guna menghindari terjadinya misinformasi di kalangan investor.
"Di negara maju seperti AS industri reksa dana sudah demikian matang. Ini ditandai dengan begitu terbukanya informasi mengenai produk reksa dana, manajer investasi, maupun bank kustodiannya," jelas Taher.
Selain itu, Taher mengatakan pusat informasi seperti ini penting untuk investor yang ingin mengetahui kondisi obyektif suatu produk reksa dana.
"Ini dapat menghindari masyarakat dari kesalahan membeli reksa dana yang buruk karena kurangnya informasi. Satu-satunya informasi yang tersedia saat ini, hanyalah dari penjual, yang tentunya tidak obyektif," ujarnya.
Menanggapi hal ini, Kepala Biro Pengelolaan Investasi Bapepam-LK, Djoko Hendratto mengatakan pihaknya memang belum dapat membuka pusat informasi reksa dana karena masih dalam perbaikan sistem.
"Kita memang sedang melakukan perbaikan sistem. Nanti akan kita buka lagi," ujarnya saat dihubungi detikFinance.
Namun Djoko mengatakan, pusat informasi yang akan dibuka nanti juga tidak akan menampilkan data yang sama dengan pusat informasi reksa dana terdahulu. Menurutnya, Bapepam-LK hanya akan menampilkan apa-apa yang menjadi kewajiban Bapepam-LK.
"Kalau dulu kan Bapepam menampilkan seluruh data, padahal dalam regulasinya, itu seharusnya menjadi kewajiban masing-masing Manajer Investasi (MI). Saat itu, kita malah tersudut karena menampilkan data yang bukan konsumsi publik. Jadi nanti kita hanya akan menampilkan data-data yang untuk konsumsi publik," ujarnya.
Djoko mengatakan, saat ini pihaknya masih melakukan koordinasi dengan bank kustodian serta MI untuk pengumpulan data yang akan ditampilkan dalam pusat informasi reksa dana yang baru.
"Kita masih melakukan koordinasi dengan MI dan bank kustodian. Proses perbaikannya masih berlangsung. Tapi begitu semuanya sudah siap, kita akan buka lagi pusat informasi reksa dana," ujarnya.
(dro/qom)
"Mengingat data-data yang ada di e-monitoring reksa dana adalah sangat penting untuk keterbukaan informasi bagi masyarakat mohon bagi pihak Bapepam untuk kembali mengaktifkan e-monitoring yang dulu ada," ujar Syahril Taher dalam suratnya ke Suara Pembaca detikcom, Selasa (2/3/2010).
Menurutnya, sudah beberapa tahun terakhir ini Bapepam membekukan section monitoring reksa dana di web site www.bapepam.go.id. Hal ini dinilai Taher menyebabkan kesulitan bagi masyarakat untuk menentukan reksadana mana yang akan dibeli untuk investasi.
Dalam catatan detikFinance, pusat informasi reksa dana di website Bapepam-LK memang tidak lagi dapat diakses sejak akhir 2008, terutama saat terjadinya penurunan Nilai Aktiva Bersih (NAB) produk-produk reksa dana.
Penurunan NAB itu disebabkan ambruknya harga-harga saham saat krisis pasar modal global akhir 2008. Ditampilkannya data rekapitulasi seluruh produk reksa dana secara kontinyu ini, khususnya di tengah krisis, disinyalir membuat sebagian besar nasabah reksa dana khawatir dan memutuskan keluar dari produk ini (redemption).
Kontan saja saat itu banyak manajer investasi menjerit-jerit. Dalam situasi seperti itu, Bapepam-LK pun terpaksa menutup pusat data tersebut.
Namun menurut Taher, seharusnya pusat informasi reksa dana tetap dibuka guna menghindari terjadinya misinformasi di kalangan investor.
"Di negara maju seperti AS industri reksa dana sudah demikian matang. Ini ditandai dengan begitu terbukanya informasi mengenai produk reksa dana, manajer investasi, maupun bank kustodiannya," jelas Taher.
Selain itu, Taher mengatakan pusat informasi seperti ini penting untuk investor yang ingin mengetahui kondisi obyektif suatu produk reksa dana.
"Ini dapat menghindari masyarakat dari kesalahan membeli reksa dana yang buruk karena kurangnya informasi. Satu-satunya informasi yang tersedia saat ini, hanyalah dari penjual, yang tentunya tidak obyektif," ujarnya.
Menanggapi hal ini, Kepala Biro Pengelolaan Investasi Bapepam-LK, Djoko Hendratto mengatakan pihaknya memang belum dapat membuka pusat informasi reksa dana karena masih dalam perbaikan sistem.
"Kita memang sedang melakukan perbaikan sistem. Nanti akan kita buka lagi," ujarnya saat dihubungi detikFinance.
Namun Djoko mengatakan, pusat informasi yang akan dibuka nanti juga tidak akan menampilkan data yang sama dengan pusat informasi reksa dana terdahulu. Menurutnya, Bapepam-LK hanya akan menampilkan apa-apa yang menjadi kewajiban Bapepam-LK.
"Kalau dulu kan Bapepam menampilkan seluruh data, padahal dalam regulasinya, itu seharusnya menjadi kewajiban masing-masing Manajer Investasi (MI). Saat itu, kita malah tersudut karena menampilkan data yang bukan konsumsi publik. Jadi nanti kita hanya akan menampilkan data-data yang untuk konsumsi publik," ujarnya.
Djoko mengatakan, saat ini pihaknya masih melakukan koordinasi dengan bank kustodian serta MI untuk pengumpulan data yang akan ditampilkan dalam pusat informasi reksa dana yang baru.
"Kita masih melakukan koordinasi dengan MI dan bank kustodian. Proses perbaikannya masih berlangsung. Tapi begitu semuanya sudah siap, kita akan buka lagi pusat informasi reksa dana," ujarnya.
(dro/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 21:16 WIB
Berusia 20 Tahun, Bank Muamalat Ganti Logo
-
Jumat, 25/05/2012 21:10 WIB
Wah! SBY Rahasiakan Bentuk Mobil Listrik Made in Indonesia
-
Jumat, 25/05/2012 21:04 WIB
SBY Tak Mau Gas RI Diborong ke Luar Negeri
-
Jumat, 25/05/2012 20:56 WIB
Mulai 2013 Palu-Parigi Terhubung Jalan Lintas 35 Km
-
Jumat, 25/05/2012 19:32 WIB
Penyatuan Zona Waktu Pernah Terjadi di Zaman Jepang
-
Jumat, 25/05/2012 19:32 WIB
Penyatuan Zona Waktu Pernah Terjadi di Zaman Jepang
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
Jumat, 25/05/2012 17:53 WIB
Anggito: Solusi Terbaik, Naikkan Harga BBM
-
Jumat, 25/05/2012 18:53 WIB
Pemerintah Dapat Bonus Tandatangan Rp 141 Miliar Dari Proyek Migas
-
Jumat, 25/05/2012 18:05 WIB
Ssst.. 17 Agustus Jadi Usulan Awal Penyatuan Zona Waktu
-
65 Komentar
-
55 Komentar
-
39 Komentar
-
39 Komentar
-
37 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
