DPR Kisruh, Kasus Century Diharap Tidak Berlarut-larut
Selasa, 02/03/2010 18:03 WIB
Jakarta - Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang berakhir ricuh semakin menambah ketidakpastian dari akhir kasus bailout Bank Century. Padahal pelaku usaha sudah menunggu akhir dari drama Bank Century ini sejak tahun lalu.
"Itu yang kita khawatirkan, kasus Bank Century yang tidak ada ujungnya sehingga membuat sebuah ketidakpastian baru," ujar Ketua Umum Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional (Perbanas) Sigit Pramono ketika berbincang dengan detikFinance di Jakarta, Selasa (02/03/2010).
Sigit menjelaskan, saat ini ekspansi bisnis sektor perbankan mengalami perlambatan karena kasus Bank Century.
"Kita telah menunggu dari tahun 2009 agar kasus Bank Century segera selesai. Sikap pelaku usaha masih wait and see karena takut akan kondisi politik yang tidak stabil," tegas Sigit.
Dari sikap wait and see tersebut, lanjut Sigit, kredit pun ikut terhenti sehingga pengucurannya tidak sesuai harapan. Sigit berharap meskipun proses politik ini penting, namun pertumbuhan ekonomi tidak dilupakan.
"Walapun proses politik penting bagi sebuah negara, namun jangan lah melupakan sektor ekonomi. Kita termasuk tiga negara dimana pertumbuhan ekonominya positif saat terjadi krisis global. Jadi jangan sampai kita kehilangan kesempatan emas dan momentum sektor ekonomi yang baik di 2010," paparnya.
Perbanas mengharapkan, apapun nantinya kesimpulan dari DPR terkait Century tidak akan berlarut-larut sehingga mengganggu sektor ekonomi.
"Ketakutan para bankir sudah mulai terlihat ketika media-media di luar negeri mulai memberitakan mengenai kondisi politik yang tidak kondusif. Sehingga kalau kita tidak hati-hati dalam mengelola politk maka tahun 2010 akan menjadi missing year yang sangat merugikan sekali bagi sektor ekonomi," katanya.
Seperti diketahui, paripurna DPR yang salah satu agendanya membacakan kesimpulan Pansus Hak Angket Bank Century harus berakhir dengan kisruh. Kekisruhan terjadi setelah Ketua DPR Marzuki Alie secara sepihak menutup sidang paripurna. Kericuhan berawal saat Marzuki tidak mengubris interupsi yang mengusulkan sidang paripurna digelar sekali saja.
Marzuki tetap mendasarkan pada hasil keputusan bamus yang mengatakan agenda paripurna hari ini hanya satu, mendengarkan penyampaian hasil Pansus Century.
(dru/qom)
"Itu yang kita khawatirkan, kasus Bank Century yang tidak ada ujungnya sehingga membuat sebuah ketidakpastian baru," ujar Ketua Umum Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional (Perbanas) Sigit Pramono ketika berbincang dengan detikFinance di Jakarta, Selasa (02/03/2010).
Sigit menjelaskan, saat ini ekspansi bisnis sektor perbankan mengalami perlambatan karena kasus Bank Century.
"Kita telah menunggu dari tahun 2009 agar kasus Bank Century segera selesai. Sikap pelaku usaha masih wait and see karena takut akan kondisi politik yang tidak stabil," tegas Sigit.
Dari sikap wait and see tersebut, lanjut Sigit, kredit pun ikut terhenti sehingga pengucurannya tidak sesuai harapan. Sigit berharap meskipun proses politik ini penting, namun pertumbuhan ekonomi tidak dilupakan.
"Walapun proses politik penting bagi sebuah negara, namun jangan lah melupakan sektor ekonomi. Kita termasuk tiga negara dimana pertumbuhan ekonominya positif saat terjadi krisis global. Jadi jangan sampai kita kehilangan kesempatan emas dan momentum sektor ekonomi yang baik di 2010," paparnya.
Perbanas mengharapkan, apapun nantinya kesimpulan dari DPR terkait Century tidak akan berlarut-larut sehingga mengganggu sektor ekonomi.
"Ketakutan para bankir sudah mulai terlihat ketika media-media di luar negeri mulai memberitakan mengenai kondisi politik yang tidak kondusif. Sehingga kalau kita tidak hati-hati dalam mengelola politk maka tahun 2010 akan menjadi missing year yang sangat merugikan sekali bagi sektor ekonomi," katanya.
Seperti diketahui, paripurna DPR yang salah satu agendanya membacakan kesimpulan Pansus Hak Angket Bank Century harus berakhir dengan kisruh. Kekisruhan terjadi setelah Ketua DPR Marzuki Alie secara sepihak menutup sidang paripurna. Kericuhan berawal saat Marzuki tidak mengubris interupsi yang mengusulkan sidang paripurna digelar sekali saja.
Marzuki tetap mendasarkan pada hasil keputusan bamus yang mengatakan agenda paripurna hari ini hanya satu, mendengarkan penyampaian hasil Pansus Century.
(dru/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 07:03 WIB
Inilah 15 Perusahaan Idaman Mahasiswa Fresh Graduate
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 08:17 WIB
Ada Menara Tertinggi ke-5 di Dunia, Pasar Properti RI Makin Seksi
-
Kamis, 24/05/2012 07:19 WIB
Artha Graha: Tak Ada Kasino di Gedung Tertinggi Tomy Winata
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
35 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
