MPPA Bantah Dugaan Rekayasa Keuangan Penjualan Matahari
Jumat, 05/03/2010 14:09 WIB
Jakarta - PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) membantah telah melakukan rekayasa keuangan dalam transaksi penjualan 90,76% saham PT Matahari Dept Store Tbk (LPPF) senilai Rp 7,164 triliun.
"Tidak ada rekayasa seperti yang dikatakan orang-orang," tegas Direktur Utama MPPA, Benjamin J Mailool usai paparan di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (5/3/2010).
Menurut Benjamin, manajemen MPPA telah melaksanakan paparan publik yang cukup transparan, sehingga ia menolak tudingan adanya dugaan rekayasa keuangan.
"Penjelasan soal transaksi penjualan ini sudah transparan, semuanya terbuka. Tidak ada rekayasa dalam transaksi ini," jelas Benjamin.
MPPA tinggal menunggu persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang akan digelar antara Maret-April 2010 agar transaksi ini bisa teralisasi.
Sebagai catatan, semula MPPA akan menggelar RUPSLB pada 4 Maret 2010. Namun Bapepam-LK meminta MPPA menunda RUPSLB dan menggelar paparan publik lanjutan lantaran terjadinya kekisruhan di pelaku pasar terkait rencana transaksi penjualan saham LPPF.
"RUPSLB akan kembali digelar antara Maret-April ini. Nanti kita umumkan waktunya," jelas Benjamin.
MPPA berencana menjual 2.648.220.000 (90,76%) saham LPPF kepada Meadows Asia Capital (MAC) pada harga Rp 2.705,33 per saham. Total nilai transaksi ini mencapai Rp 7,164 triliun.
Mekanisme pembayaran akan dilakukan dalam 3 cara, pertama tunai sebesar Rp 5,3 triliun, kedua piutang sebesar Rp 1 triliun dan ketiga penyertaan saham MPPA di MAC sebesar 20% saham dengan opsi beli melalui waran sebesar 7,5%.
Jika transaksi ini teralisasi, MPPA masih akan memiliki 20% saham di LPPF secara tidak langsung melalui MAC. Sisanya sebesar 80% saham MAC akan menjadi milik CVC Partners.
Mekanisme transaksi yang agak njelimet ini membuat sebagian pelaku pasar menuding adanya rekayasa keuangan. Namun Benjamin mengatakan, mekanisme transaksi sudah sangat jelas dan terbuka, sehingga tidak ada yang perlu dipermasalahkan.
(dro/qom)
"Tidak ada rekayasa seperti yang dikatakan orang-orang," tegas Direktur Utama MPPA, Benjamin J Mailool usai paparan di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (5/3/2010).
Menurut Benjamin, manajemen MPPA telah melaksanakan paparan publik yang cukup transparan, sehingga ia menolak tudingan adanya dugaan rekayasa keuangan.
"Penjelasan soal transaksi penjualan ini sudah transparan, semuanya terbuka. Tidak ada rekayasa dalam transaksi ini," jelas Benjamin.
MPPA tinggal menunggu persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang akan digelar antara Maret-April 2010 agar transaksi ini bisa teralisasi.
Sebagai catatan, semula MPPA akan menggelar RUPSLB pada 4 Maret 2010. Namun Bapepam-LK meminta MPPA menunda RUPSLB dan menggelar paparan publik lanjutan lantaran terjadinya kekisruhan di pelaku pasar terkait rencana transaksi penjualan saham LPPF.
"RUPSLB akan kembali digelar antara Maret-April ini. Nanti kita umumkan waktunya," jelas Benjamin.
MPPA berencana menjual 2.648.220.000 (90,76%) saham LPPF kepada Meadows Asia Capital (MAC) pada harga Rp 2.705,33 per saham. Total nilai transaksi ini mencapai Rp 7,164 triliun.
Mekanisme pembayaran akan dilakukan dalam 3 cara, pertama tunai sebesar Rp 5,3 triliun, kedua piutang sebesar Rp 1 triliun dan ketiga penyertaan saham MPPA di MAC sebesar 20% saham dengan opsi beli melalui waran sebesar 7,5%.
Jika transaksi ini teralisasi, MPPA masih akan memiliki 20% saham di LPPF secara tidak langsung melalui MAC. Sisanya sebesar 80% saham MAC akan menjadi milik CVC Partners.
Mekanisme transaksi yang agak njelimet ini membuat sebagian pelaku pasar menuding adanya rekayasa keuangan. Namun Benjamin mengatakan, mekanisme transaksi sudah sangat jelas dan terbuka, sehingga tidak ada yang perlu dipermasalahkan.
(dro/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 22:03 WIB
Ngirit Anggaran, SBY Minta Menteri Menginap di Gedung Negara
-
Jumat, 25/05/2012 21:16 WIB
Berusia 20 Tahun, Bank Muamalat Ganti Logo
-
Jumat, 25/05/2012 21:10 WIB
Wah! SBY Rahasiakan Bentuk Mobil Listrik Made in Indonesia
-
Jumat, 25/05/2012 21:04 WIB
SBY Tak Mau Gas RI Diborong ke Luar Negeri
-
Jumat, 25/05/2012 20:56 WIB
Mulai 2013 Palu-Parigi Terhubung Jalan Lintas 35 Km
-
Jumat, 25/05/2012 19:32 WIB
Penyatuan Zona Waktu Pernah Terjadi di Zaman Jepang
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
Jumat, 25/05/2012 17:53 WIB
Anggito: Solusi Terbaik, Naikkan Harga BBM
-
Jumat, 25/05/2012 18:53 WIB
Pemerintah Dapat Bonus Tandatangan Rp 141 Miliar Dari Proyek Migas
-
Jumat, 25/05/2012 18:05 WIB
Ssst.. 17 Agustus Jadi Usulan Awal Penyatuan Zona Waktu
-
65 Komentar
-
55 Komentar
-
40 Komentar
-
39 Komentar
-
37 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
