Holcim Indonesia Jajaki Bangun Pabrik di Tuban
Senin, 08/03/2010 18:14 WIB
(foto: dok detikFinance)
Jakarta - PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB) berencana membangun pabrik semen dengan kapasitas 1,7 juta ton di Tuban, Jawa Timur. Perseroan tengah melakukan pembicaraan dengan manajemen Holcim International terkait rencana tersebut.
"Kami berencana membangun pabrik semen di Tuban dengan kapasitas 1,7 juta ton," ujar Direktur Keuangan SMCB Olaf Mahe usai RUPS Tahunan di Gran Melia, Jakarta, Senin (8/3/2010).
Saat ini, kapasitas produksi per tahun untuk klinker dan semen perseroan sebesar 8,3 juta ton per tahun. Dengan adanya penambahan kapasitas tersebut, kapasitas produksi SMCB akan meningkat menjadi 10 juta ton.
Olaf mengatakan, sebenarnya rencana pembangunan pabrik baru ini sudah sejak 1-2 tahun lalu. Namun hingga saat ini belum dapat direalisasikan lantaran belum mendapat restu dari manajemen Holcim International selaku induk usaha perseroan.
"Kontribusi pabrik Tuban baru bisa didapat paling cepat 3 tahun lagi, karena pembangunan sendiri rencananya baru dilakukan pada akhir semester I 2010. Kami sedang menunggu persetujuan dari Holcim Internasional," ungkapnya.
Sayangnya, ia belum dapat membeberkan detil investasi yang dibutuhkan terkait rencana pembangunan pabrik tersebut. Namun santer terdengar bahwa nilai investasi tersebut, mencapai US$ 500 juta.
Sumber dana pembangunan pabrik akan didapatkan dari kombinasi kas internal dan pendanaan eksternal. Dana pihak ketiga, bisa dimungkinkan dari pinjaman sindikasi perbankan atau penggalangan dari pasar modal. Namun sayang, ia enggan menerangkan nilai investasi yang sudah disiapkan untuk pabrik baru tersebut.
Sampai saat ini sendiri, perseroan hanya memiliki satu pabrik di Indonesia, dengan pencapaian penjualan mencapai 7,2 juta ton di tahun 2009. Angka penjualan ini meningkat 4,3% dari penjualan tahun lalu, 6,9 juta ton.
Porsi pasar dalam negeri sendiri, masih dominan yakni mencapai 5,3 juta ton. Sisanya baru ekspor.
Di saat yang sama, perseroan juga menepis anggapan bahwa Holcim terlibat dalam permainan harga dalam kartel perdagangan semen. Holcim sendiri, saat diperiksa oleh KPPU beberapa waktu lalu, sangat terbuka akan setiap pertanyaan.
"Holcim tidak ikut dalam kartel. Kita menggunakan patokan harga pasar di Indonesia. Dari pemeriksaan KPPU di 8 pelaku industri semen, kami sangat terbuka," imbuhnya.
Namun perseroan akan menyisihkan laba bersih yang diperoleh tahun 2009 sebesar Rp 896 miliar dalam saldo laba ditahan. Oleh sebab itu, SMCB belum berencana membagikan dividen tahun 2009.
Selain untuk investasi, laba ditahan juga dilakukan lantaran perseroan masih mengalami retain loss, sehingga secara standar akuntansi keuangan, dividen belum bisa diberikan kepada pemegang saham.
"Untuk dividen tidak ada di tahun ini. Paling cepat 4 tahun lagi. Revaluasi aset untuk bayar dividen, tidak bisa. Dividen harus didapatkan dari operasional," kata Olaf.
RUPS Tahunan juga menyetujui perubahan susunan dewan komisaris. RUPS mengangkat Arief T. Surowidjojo sebagai Wakil Presiden Komisaris, serta mengangkat Rozik Boedioro Soethipto dan John D. Rahmat sebagai Komisaris Independen.
Sementara yang mengundurkan diri adalah Tom Clough, Dr Kuntoro Mangunsubroto.
Berikut susunan Dewan Komisaris SMCB yang baru:
(dro/qom)
"Kami berencana membangun pabrik semen di Tuban dengan kapasitas 1,7 juta ton," ujar Direktur Keuangan SMCB Olaf Mahe usai RUPS Tahunan di Gran Melia, Jakarta, Senin (8/3/2010).
Saat ini, kapasitas produksi per tahun untuk klinker dan semen perseroan sebesar 8,3 juta ton per tahun. Dengan adanya penambahan kapasitas tersebut, kapasitas produksi SMCB akan meningkat menjadi 10 juta ton.
Olaf mengatakan, sebenarnya rencana pembangunan pabrik baru ini sudah sejak 1-2 tahun lalu. Namun hingga saat ini belum dapat direalisasikan lantaran belum mendapat restu dari manajemen Holcim International selaku induk usaha perseroan.
"Kontribusi pabrik Tuban baru bisa didapat paling cepat 3 tahun lagi, karena pembangunan sendiri rencananya baru dilakukan pada akhir semester I 2010. Kami sedang menunggu persetujuan dari Holcim Internasional," ungkapnya.
Sayangnya, ia belum dapat membeberkan detil investasi yang dibutuhkan terkait rencana pembangunan pabrik tersebut. Namun santer terdengar bahwa nilai investasi tersebut, mencapai US$ 500 juta.
Sumber dana pembangunan pabrik akan didapatkan dari kombinasi kas internal dan pendanaan eksternal. Dana pihak ketiga, bisa dimungkinkan dari pinjaman sindikasi perbankan atau penggalangan dari pasar modal. Namun sayang, ia enggan menerangkan nilai investasi yang sudah disiapkan untuk pabrik baru tersebut.
Sampai saat ini sendiri, perseroan hanya memiliki satu pabrik di Indonesia, dengan pencapaian penjualan mencapai 7,2 juta ton di tahun 2009. Angka penjualan ini meningkat 4,3% dari penjualan tahun lalu, 6,9 juta ton.
Porsi pasar dalam negeri sendiri, masih dominan yakni mencapai 5,3 juta ton. Sisanya baru ekspor.
Di saat yang sama, perseroan juga menepis anggapan bahwa Holcim terlibat dalam permainan harga dalam kartel perdagangan semen. Holcim sendiri, saat diperiksa oleh KPPU beberapa waktu lalu, sangat terbuka akan setiap pertanyaan.
"Holcim tidak ikut dalam kartel. Kita menggunakan patokan harga pasar di Indonesia. Dari pemeriksaan KPPU di 8 pelaku industri semen, kami sangat terbuka," imbuhnya.
Namun perseroan akan menyisihkan laba bersih yang diperoleh tahun 2009 sebesar Rp 896 miliar dalam saldo laba ditahan. Oleh sebab itu, SMCB belum berencana membagikan dividen tahun 2009.
Selain untuk investasi, laba ditahan juga dilakukan lantaran perseroan masih mengalami retain loss, sehingga secara standar akuntansi keuangan, dividen belum bisa diberikan kepada pemegang saham.
"Untuk dividen tidak ada di tahun ini. Paling cepat 4 tahun lagi. Revaluasi aset untuk bayar dividen, tidak bisa. Dividen harus didapatkan dari operasional," kata Olaf.
RUPS Tahunan juga menyetujui perubahan susunan dewan komisaris. RUPS mengangkat Arief T. Surowidjojo sebagai Wakil Presiden Komisaris, serta mengangkat Rozik Boedioro Soethipto dan John D. Rahmat sebagai Komisaris Independen.
Sementara yang mengundurkan diri adalah Tom Clough, Dr Kuntoro Mangunsubroto.
Berikut susunan Dewan Komisaris SMCB yang baru:
- Presiden Komisaris Paul Hugentobler.
- Wakil Presiden Komisaris Arief T. Surowidjojo.
- Komisaris Madan Lal Narula.
- Komisaris Renee Zecha.
- Komisaris Independen Kemal A. Stamboel.
- Komisaris Independen Rozik B. Soetjipto.
- Komisaris Independen John D Rachmat.
(dro/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 22:03 WIB
Ngirit Anggaran, SBY Minta Menteri Menginap di Gedung Negara
-
Jumat, 25/05/2012 21:16 WIB
Berusia 20 Tahun, Bank Muamalat Ganti Logo
-
Jumat, 25/05/2012 21:10 WIB
Wah! SBY Rahasiakan Bentuk Mobil Listrik Made in Indonesia
-
Jumat, 25/05/2012 21:04 WIB
SBY Tak Mau Gas RI Diborong ke Luar Negeri
-
Jumat, 25/05/2012 20:56 WIB
Mulai 2013 Palu-Parigi Terhubung Jalan Lintas 35 Km
-
Jumat, 25/05/2012 19:32 WIB
Penyatuan Zona Waktu Pernah Terjadi di Zaman Jepang
-
Jumat, 25/05/2012 21:10 WIB
Wah! SBY Rahasiakan Bentuk Mobil Listrik Made in Indonesia
-
Jumat, 25/05/2012 20:56 WIB
Mulai 2013 Palu-Parigi Terhubung Jalan Lintas 35 Km
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
Jumat, 25/05/2012 17:53 WIB
Anggito: Solusi Terbaik, Naikkan Harga BBM
-
65 Komentar
-
55 Komentar
-
40 Komentar
-
39 Komentar
-
37 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
