Pemboikotan Sri Mulyani oleh DPR Bahayakan Ekonomi
Rabu, 10/03/2010 18:20 WIB
Jakarta - Beberapa fraksi DPR berencana untuk memboikot rapat-rapat yang dihadiri Menteri Keuangan Sri Mulyani di DPR, bahkan rapat pembahasan APBN sekalipun. Mosi tidak percaya yang dilakukan DPR ini sangat membahayakan perekonomian.
Menurut Pengamat Ekonomi Aviliani, jika Sri Mulyani tidak diikutsertakan dalam setiap rapat-rapat pembahasan APBN, maka DPR tidak bisa meminta pertanggungjawaban Menteri Keuangan apabila APBN ternyata bermasalah.
"Mosi tidak percaya itu sangat bahaya, negara ini bukan negara hukum lagi kalau begitu caranya. Pertama dari segi RAPBN-P (Rancangan APBN Perubahan), dia (Sri Mulyani) tidak menanggung risiko lagi apabila APBN bermasalah dan dana datang terlambat," tuturnya dalam acara diskusi di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (10/3/2010).
Ditambahkan Aviliani, DPR juga tidak bisa meminta tanggung jawab dari Menteri Keuangan apabila pertumbuhan ekonomi ternyata terhambat. "Karena dia tidak diterima saat perumusan," imbuhnya.
Selain pembahasan RAPBN-P 2010, ada agenda ekonomi lain yang memerlukan kehadiran Sri Mulyani, yaitu perumusan RUU Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK) dan RUU Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
"Jika sampai bubble (ekonomi) pecah, maka tidak ada persiapan sama sekali karena RUU OJK dan JPSK pasti tidak jadi, karena Sri Mulyani tidak dikutikan rapat kerja dengan DPR. Kalau demikian bisa terjadi krisis luar biasa," tandas Aviliani.
Aviliani mengatakan kedua RUU tersebut sangat mendesak untuk disahkan saat ini karena situasi ekonomi bisa mengancam kapan saja.
"Saat ini SBI (Sertifikat Bank Indonesia) asing Rp 13 triliun, pasar modal sekarang aksi beli terus-terusan orang hanya cari untung, uang jadi uang. Kalau kita over likuiditas dolar lalu hot money diambil, maka bubble bisa pecah. Kalau balonnya pecah nggak mungkin ambil APBN karena tidak ada RUU JPSK, kalau begini BI tidak bisa apa-apa," tegasnya.
Sebelumnya, Sri Mulyani mengharapkan DPR tidak mencampuradukkan antara hasil Sidang Paripurna DPR kasus Bank Century yang menyeret namanya dengan rencana penyerahan draft RAPBN-P 2010 kepada Badan Anggaran DPR RI.
Menanggapi isu pemboikotan rapat RAPBN-P yang akan dihadirinya, Sri Mulyani yakin DPR masih meletakkan kepentingan nasional di atas kepentingan politik.
Sri Mulyani menyatakan jika DPR tidak menyetujui usulan pemerintah dalam RAPBN-P 2010, dikhawatirkan justru akan mengorbankan kesejahteraan rakyat. Pasalnya, dalam RAPBN-P itu tercantum sejumlah anggaran yang berpihak terhadap masyarakat, seperti anggaran untuk recovery daerah yang terkena gempa dan stabilisasi inflasi.
Seperti diketahui, sejumlah anggota DPR menyuarakan boikot terhadap pihak-pihak yang dianggap bersalah dalam bailout Bank Century seperti Wapres Boediono dan Menkeu Sri Mulyani. Mereka meminta pihak-pihak yang dianggap bersalah tidak diundang dalam acara-acara di DPR.
Ketua Badan Anggaran DPR RI Harry Azhar Azis mengaku pihaknya siap memboikot kehadiran Sri Mulyani termasuk dalam pembahasan APBN jika memang paripurna DPR memutuskan hal tersebut.
(dnl/qom)
Menurut Pengamat Ekonomi Aviliani, jika Sri Mulyani tidak diikutsertakan dalam setiap rapat-rapat pembahasan APBN, maka DPR tidak bisa meminta pertanggungjawaban Menteri Keuangan apabila APBN ternyata bermasalah.
"Mosi tidak percaya itu sangat bahaya, negara ini bukan negara hukum lagi kalau begitu caranya. Pertama dari segi RAPBN-P (Rancangan APBN Perubahan), dia (Sri Mulyani) tidak menanggung risiko lagi apabila APBN bermasalah dan dana datang terlambat," tuturnya dalam acara diskusi di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (10/3/2010).
Ditambahkan Aviliani, DPR juga tidak bisa meminta tanggung jawab dari Menteri Keuangan apabila pertumbuhan ekonomi ternyata terhambat. "Karena dia tidak diterima saat perumusan," imbuhnya.
Selain pembahasan RAPBN-P 2010, ada agenda ekonomi lain yang memerlukan kehadiran Sri Mulyani, yaitu perumusan RUU Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK) dan RUU Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
"Jika sampai bubble (ekonomi) pecah, maka tidak ada persiapan sama sekali karena RUU OJK dan JPSK pasti tidak jadi, karena Sri Mulyani tidak dikutikan rapat kerja dengan DPR. Kalau demikian bisa terjadi krisis luar biasa," tandas Aviliani.
Aviliani mengatakan kedua RUU tersebut sangat mendesak untuk disahkan saat ini karena situasi ekonomi bisa mengancam kapan saja.
"Saat ini SBI (Sertifikat Bank Indonesia) asing Rp 13 triliun, pasar modal sekarang aksi beli terus-terusan orang hanya cari untung, uang jadi uang. Kalau kita over likuiditas dolar lalu hot money diambil, maka bubble bisa pecah. Kalau balonnya pecah nggak mungkin ambil APBN karena tidak ada RUU JPSK, kalau begini BI tidak bisa apa-apa," tegasnya.
Sebelumnya, Sri Mulyani mengharapkan DPR tidak mencampuradukkan antara hasil Sidang Paripurna DPR kasus Bank Century yang menyeret namanya dengan rencana penyerahan draft RAPBN-P 2010 kepada Badan Anggaran DPR RI.
Menanggapi isu pemboikotan rapat RAPBN-P yang akan dihadirinya, Sri Mulyani yakin DPR masih meletakkan kepentingan nasional di atas kepentingan politik.
Sri Mulyani menyatakan jika DPR tidak menyetujui usulan pemerintah dalam RAPBN-P 2010, dikhawatirkan justru akan mengorbankan kesejahteraan rakyat. Pasalnya, dalam RAPBN-P itu tercantum sejumlah anggaran yang berpihak terhadap masyarakat, seperti anggaran untuk recovery daerah yang terkena gempa dan stabilisasi inflasi.
Seperti diketahui, sejumlah anggota DPR menyuarakan boikot terhadap pihak-pihak yang dianggap bersalah dalam bailout Bank Century seperti Wapres Boediono dan Menkeu Sri Mulyani. Mereka meminta pihak-pihak yang dianggap bersalah tidak diundang dalam acara-acara di DPR.
Ketua Badan Anggaran DPR RI Harry Azhar Azis mengaku pihaknya siap memboikot kehadiran Sri Mulyani termasuk dalam pembahasan APBN jika memang paripurna DPR memutuskan hal tersebut.
(dnl/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 22:03 WIB
Ngirit Anggaran, SBY Minta Menteri Menginap di Gedung Negara
-
Jumat, 25/05/2012 21:16 WIB
Berusia 20 Tahun, Bank Muamalat Ganti Logo
-
Jumat, 25/05/2012 21:10 WIB
Wah! SBY Rahasiakan Bentuk Mobil Listrik Made in Indonesia
-
Jumat, 25/05/2012 21:04 WIB
SBY Tak Mau Gas RI Diborong ke Luar Negeri
-
Jumat, 25/05/2012 20:56 WIB
Mulai 2013 Palu-Parigi Terhubung Jalan Lintas 35 Km
-
Jumat, 25/05/2012 21:58 WIB
Ngirit Anggaran, SBY Minta Menteri Menginap di Gedung Negara
-
Jumat, 25/05/2012 19:32 WIB
Penyatuan Zona Waktu Pernah Terjadi di Zaman Jepang
-
Jumat, 25/05/2012 21:10 WIB
Wah! SBY Rahasiakan Bentuk Mobil Listrik Made in Indonesia
-
Jumat, 25/05/2012 20:56 WIB
Mulai 2013 Palu-Parigi Terhubung Jalan Lintas 35 Km
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
65 Komentar
-
55 Komentar
-
41 Komentar
-
40 Komentar
-
37 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
