Hindari Gosip, Fuad Rahmany Tolak Temui Bos Lippo
Kamis, 11/03/2010 15:54 WIB
(foto: dok detikFinance)
Jakarta - Ketua Bapepam-LK Fuad Rahmany menolak menemui bos grup Lippo, James Riady untuk menghindari gosip-gosip tak sedap yang bisa muncul. Sebab, salah satu perusahaan naungan grup Lippo, PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) tengah bermasalah.
"Pokoknya kita nggak boleh ketemu berdua dia (James Riady)," ungkap Fuad di kantornya, Jakarta, Kamis (11/3/2010).
James Riady kemarin menyambangi kantor Bapepam-LK guna menemui Fuad. Sayangnya, James menolak berkomentar lebih jauh soal tujuan kedatangannya itu. Ia membantah kalau kedatangannya terkait dengan masalah penjualan 90,76% saham PT Matahari Dept Store Tbk (LPPF) milik MPPA.
Rupanya, niat James menemui Fuad pupus karena pimpinan otoritas pasar modal itu sedang tidak di tempat. Kendati demikian, bos grup Lippo itu sempat memaksa masuk untuk menemui Fuad.
"Dia datang sendiri, ngeyel masuk ke atas. Sekretaris saya bilang saya nggak ada," jelas Fuad.
Sebagaimana dikatakan Fuad di atas, dirinya memang memilih tidak menemui James. Meski tidak secara tersurat, namun boleh jadi tindakan itu dilakukan guna menghindari munculnya gosip-gosip tak sedap. Wajar saja, Bapepam saat ini tengah menyelidiki skema penjualan 90,76% saham LPPF milik MPPA.
Fuad mengatakan, Bapepam memang telah memberikan persetujuan dua perusahaan terafiliasi tersebut untuk menggelar RUPS Luar Biasa. Namun menurutnya, itu bukan berarti Bapepam telah menganggap skema penjualannya tidak bermasalah.
"Mungkin kita setuju dengan RUPS-nya, itu bukan berarti kita setuju dengan penjualannya," tegas Fuad.
Menurut Fuad, persetujuan penjualan seluruh saham LPPF milik MPPA terletak di tangan pemegang saham MPPA. Bapepam akan melakukan pengawalan terhadap realisasi penjualan tersebut.
"Nanti apakah setuju atau tidak dengan penjualannya, itu yang menentukan pemegang saham, bukan kita. Jadi, persetujuan terhadap RUPS itu, saya anggap informasinya sudah cukup, tapi masalah pemegang saham percaya atau tidak kepada MPPA, yang menentukan mereka. Bapepam nggak bisa terlalu jauh," jelas Fuad.
Kendati demikian, Bapepam tetap melakukan pemantauan dan meminta penjelasan lebih lanjut mengenai skema transaksi tersebut berikut tujuan penggunaan dananya.
"Saya minta mereka membuat komitmen, uangnya untuk apa. Saya minta mereka untuk menjelaskan kepada media dan kasih tabel rencana penggunaan uangnya supaya jadi bukti bahwa mereka pernah bilang untuk apa saja. Masukin dong di Koran. Tabel itu supaya bisa jadi arsip publik," jelas Fuad.
MPPA berencana menjual 2.648.220.000 (90,76%) saham LPPF kepada Meadows Asia Capital (MAC) pada harga Rp 2.705,33 per saham. Total nilai transaksi ini mencapai Rp 7,164 triliun.
Mekanisme pembayaran akan dilakukan dalam 3 cara, pertama tunai sebesar Rp 5,3 triliun, kedua piutang sebesar Rp 1 triliun dan ketiga penyertaan saham MPPA di MAC sebesar 20% saham dengan opsi beli melalui waran sebesar 7,5%.
Jika transaksi ini teralisasi, MPPA masih akan memiliki 20% saham di LPPF secara tidak langsung melalui MAC. Sisanya sebesar 80% saham MAC akan menjadi milik CVC Partners.
Mekanisme transaksi yang agak njelimet ini membuat sebagian pelaku pasar menuding adanya rekayasa keuangan. Namun Direktur Utama MPPA Benjamin J Mailool mengatakan, mekanisme transaksi sudah sangat jelas dan terbuka, sehingga tidak ada yang perlu dipermasalahkan.
(dro/qom)
"Pokoknya kita nggak boleh ketemu berdua dia (James Riady)," ungkap Fuad di kantornya, Jakarta, Kamis (11/3/2010).
James Riady kemarin menyambangi kantor Bapepam-LK guna menemui Fuad. Sayangnya, James menolak berkomentar lebih jauh soal tujuan kedatangannya itu. Ia membantah kalau kedatangannya terkait dengan masalah penjualan 90,76% saham PT Matahari Dept Store Tbk (LPPF) milik MPPA.
Rupanya, niat James menemui Fuad pupus karena pimpinan otoritas pasar modal itu sedang tidak di tempat. Kendati demikian, bos grup Lippo itu sempat memaksa masuk untuk menemui Fuad.
"Dia datang sendiri, ngeyel masuk ke atas. Sekretaris saya bilang saya nggak ada," jelas Fuad.
Sebagaimana dikatakan Fuad di atas, dirinya memang memilih tidak menemui James. Meski tidak secara tersurat, namun boleh jadi tindakan itu dilakukan guna menghindari munculnya gosip-gosip tak sedap. Wajar saja, Bapepam saat ini tengah menyelidiki skema penjualan 90,76% saham LPPF milik MPPA.
Fuad mengatakan, Bapepam memang telah memberikan persetujuan dua perusahaan terafiliasi tersebut untuk menggelar RUPS Luar Biasa. Namun menurutnya, itu bukan berarti Bapepam telah menganggap skema penjualannya tidak bermasalah.
"Mungkin kita setuju dengan RUPS-nya, itu bukan berarti kita setuju dengan penjualannya," tegas Fuad.
Menurut Fuad, persetujuan penjualan seluruh saham LPPF milik MPPA terletak di tangan pemegang saham MPPA. Bapepam akan melakukan pengawalan terhadap realisasi penjualan tersebut.
"Nanti apakah setuju atau tidak dengan penjualannya, itu yang menentukan pemegang saham, bukan kita. Jadi, persetujuan terhadap RUPS itu, saya anggap informasinya sudah cukup, tapi masalah pemegang saham percaya atau tidak kepada MPPA, yang menentukan mereka. Bapepam nggak bisa terlalu jauh," jelas Fuad.
Kendati demikian, Bapepam tetap melakukan pemantauan dan meminta penjelasan lebih lanjut mengenai skema transaksi tersebut berikut tujuan penggunaan dananya.
"Saya minta mereka membuat komitmen, uangnya untuk apa. Saya minta mereka untuk menjelaskan kepada media dan kasih tabel rencana penggunaan uangnya supaya jadi bukti bahwa mereka pernah bilang untuk apa saja. Masukin dong di Koran. Tabel itu supaya bisa jadi arsip publik," jelas Fuad.
MPPA berencana menjual 2.648.220.000 (90,76%) saham LPPF kepada Meadows Asia Capital (MAC) pada harga Rp 2.705,33 per saham. Total nilai transaksi ini mencapai Rp 7,164 triliun.
Mekanisme pembayaran akan dilakukan dalam 3 cara, pertama tunai sebesar Rp 5,3 triliun, kedua piutang sebesar Rp 1 triliun dan ketiga penyertaan saham MPPA di MAC sebesar 20% saham dengan opsi beli melalui waran sebesar 7,5%.
Jika transaksi ini teralisasi, MPPA masih akan memiliki 20% saham di LPPF secara tidak langsung melalui MAC. Sisanya sebesar 80% saham MAC akan menjadi milik CVC Partners.
Mekanisme transaksi yang agak njelimet ini membuat sebagian pelaku pasar menuding adanya rekayasa keuangan. Namun Direktur Utama MPPA Benjamin J Mailool mengatakan, mekanisme transaksi sudah sangat jelas dan terbuka, sehingga tidak ada yang perlu dipermasalahkan.
(dro/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 07:03 WIB
Inilah 15 Perusahaan Idaman Mahasiswa Fresh Graduate
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 08:17 WIB
Ada Menara Tertinggi ke-5 di Dunia, Pasar Properti RI Makin Seksi
-
Kamis, 24/05/2012 07:19 WIB
Artha Graha: Tak Ada Kasino di Gedung Tertinggi Tomy Winata
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
35 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
