Geliat Pertumbuhan Industri Mamin Bisa Gerus Devisa
Kamis, 11/03/2010 16:25 WIB
Jakarta - Pertumbuhan industri makanan dan minuman (mamin) yang menanjak tajam tidak diimbangi oleh kesiapan sektor permesinan dan bahan baku lokal. Hal ini justru bisa menjadi bumerang mengancam untuk menggerus devisa karena selama ini bahan baku dan mesin masih didominasi impor.
Sektor industri makanan dan minuman (mamin) menjadi sektor yang memiliki performa luar biasa meski dihajar krisis. Pertumbuhan industri ini menunjukan pertumbuhan hingga 2 digit per tahun.
"Pasar industri makanan minuman pasti akan berkembang sekalipun krisis. Buktinya tahun kemarin bisa tumbuh 10%. kalau lebih dari 8%, harus waspada karena bahan baku yang diimpor juga besar," kata Dirjen Industri Agro dan Kimia Kementerian Perindustrian Benny Wahyudi di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (11/3/2010).
Ia mengatakan untuk mengatasi kemungkinan tersebut, maka sektor permesinan dan bahan baku mamin harus digenjot dari dalam negeri, sehingga geliat pertumbuhan industri mamin tak berimbas buruk bagi devisa.
"Kalau tidak akan bahaya, devisanya berkurang, karena impor tinggi," katanya.
Pemerintah berjanji untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku dan mesin dengan mendorong komponen lokal.
Sementara itu Ketua Komite Tetap Bidang Makanan Minuman dan Produk Tembakau Thomas Darmawan mengatakan selama ini pertumbuhan industri makanan dan minuman rata-rata dipatok oleh pengusaha hingga 10% lebih per tahun. Ia pun sepakat dengan pemerintah mengenai geliat pertumbuhan industri mamin yang berlebihan justru berdampak negatif pada devisa.
"Kalau makanan pertumbuhan tinggi nggak diimbangi mesin repot. Yang kedua sumber daya manusia, kalau nggak diatasi bisa saling bajak, mesin juga harus disiapkan dan bahan baku," jelas Thomas.
Ia mengatakan investasi sektor makanan dan minuman di dalam negeri sangat banyak peminat, sehingga ia optmis investasi Rp 40 triliun pada tahun ini sangat mungkin terjadi. Beberapa investor mamin asing seperti dari Jepang sangat antusias untuk berinvestasi.
"Kemarin di BKPM ada tamu dari Jepang, data yang mau masuk dari Jepang itu industri susu, es krim, yogurt, roti, mereka tertarik di bidang itu. Termasuk minuman, Otsuka, Ajinomoto, Morinaga dan lain-lain," papar Thomas.
(hen/dnl)
Sektor industri makanan dan minuman (mamin) menjadi sektor yang memiliki performa luar biasa meski dihajar krisis. Pertumbuhan industri ini menunjukan pertumbuhan hingga 2 digit per tahun.
"Pasar industri makanan minuman pasti akan berkembang sekalipun krisis. Buktinya tahun kemarin bisa tumbuh 10%. kalau lebih dari 8%, harus waspada karena bahan baku yang diimpor juga besar," kata Dirjen Industri Agro dan Kimia Kementerian Perindustrian Benny Wahyudi di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (11/3/2010).
Ia mengatakan untuk mengatasi kemungkinan tersebut, maka sektor permesinan dan bahan baku mamin harus digenjot dari dalam negeri, sehingga geliat pertumbuhan industri mamin tak berimbas buruk bagi devisa.
"Kalau tidak akan bahaya, devisanya berkurang, karena impor tinggi," katanya.
Pemerintah berjanji untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku dan mesin dengan mendorong komponen lokal.
Sementara itu Ketua Komite Tetap Bidang Makanan Minuman dan Produk Tembakau Thomas Darmawan mengatakan selama ini pertumbuhan industri makanan dan minuman rata-rata dipatok oleh pengusaha hingga 10% lebih per tahun. Ia pun sepakat dengan pemerintah mengenai geliat pertumbuhan industri mamin yang berlebihan justru berdampak negatif pada devisa.
"Kalau makanan pertumbuhan tinggi nggak diimbangi mesin repot. Yang kedua sumber daya manusia, kalau nggak diatasi bisa saling bajak, mesin juga harus disiapkan dan bahan baku," jelas Thomas.
Ia mengatakan investasi sektor makanan dan minuman di dalam negeri sangat banyak peminat, sehingga ia optmis investasi Rp 40 triliun pada tahun ini sangat mungkin terjadi. Beberapa investor mamin asing seperti dari Jepang sangat antusias untuk berinvestasi.
"Kemarin di BKPM ada tamu dari Jepang, data yang mau masuk dari Jepang itu industri susu, es krim, yogurt, roti, mereka tertarik di bidang itu. Termasuk minuman, Otsuka, Ajinomoto, Morinaga dan lain-lain," papar Thomas.
(hen/dnl)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 07:03 WIB
Inilah 15 Perusahaan Idaman Mahasiswa Fresh Graduate
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 08:17 WIB
Ada Menara Tertinggi ke-5 di Dunia, Pasar Properti RI Makin Seksi
-
Kamis, 24/05/2012 07:19 WIB
Artha Graha: Tak Ada Kasino di Gedung Tertinggi Tomy Winata
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
35 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
