PGN Jangan Pangkas Alokasi Gas Industri Dalam Negeri
Jumat, 12/03/2010 15:06 WIB
Jakarta - PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) diminta Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tidak memangkas pasokan gas untuk kebutuhan industri dalam negeri. Walaupun sebelumnya ada opsi untuk membeli gas dari Qatar, namun tidak semua industri mampu mengalokasikan dananya untuk impor gas, terutama industri keramik.
Demikian disampaikan Menteri BUMN Mustafa Abubakar saat ditemui di kantornya, Jalan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (12/3/2010).
"Sebisa mungkin tidak dipotong, karena membawa implikasi terhadap pemotongan akan cukup besar, utamanya pengangguran. Besar sekali dampak ekonominya," paparnya.
Ia menjelaskan, kebutuhan gas untuk industri dalam negeri sangatlah krusial. Untuk itu, pihaknya akan segera melakukan pertemuan dengan emiten berkode PGAS itu untuk mencari alternatif dan mengevaluasi ketersediaan gas di tahun 2010 ini.
"Kita akan ketemu PGN Rabu atau Kamis depan, untuk evaluasi dan untuk opsi apa-apa aja. Dari yang sudah ada, memang 20 persen dipotong untuk industri keramik," kata Mustafa.
Menurutnya, alternatif untuk mengatur ulang kontrak ekospor gas PGN ke beberapa negara, demi memprioritaskan kebutuhan dalam negeri juga menjadi pembahasan yang akan diadakan kementerian bersama BUMN gas tersebut.
"Kita evaluasi sejauh mana keterikatan kontrak bisnisnya untuk ekspor. Sejauh mana peluang juga untuk impor. Kalau itu masih visible itu enggak masalah," ungkapnya.
Pilihan untuk impor gas memang telah diungkapkan Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh sebelumnya. Ada dua pilihan negara bidikin impor, yaitu Qatar dan Iran. Kedua negara ini memiliki harga yang terjangkau bagi pemerintah. Namun tidak semua industri sanggup membelinya di harga rata-rata US$ 5-6 per mmscfd.
"Qatar hanya sekitar US$ 1 per mmscfd. Kalau dibawa ke sini plus-plus menjadi masih sekitar di bawah US$ 6 (per mmcfd) untuk industri. Agak mepet memang untuk industri pupuk dengan harga gas US$ 5," jelasnya.
Industri pupuk baru bisa berjalan opimal saat beroperasi, lanjutnya, jika harga gas US$ 5. Untuk industri listrik sendiri, masih sekitar US$ 6-7 per mmcfd.
(wep/ang)
Demikian disampaikan Menteri BUMN Mustafa Abubakar saat ditemui di kantornya, Jalan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (12/3/2010).
"Sebisa mungkin tidak dipotong, karena membawa implikasi terhadap pemotongan akan cukup besar, utamanya pengangguran. Besar sekali dampak ekonominya," paparnya.
Ia menjelaskan, kebutuhan gas untuk industri dalam negeri sangatlah krusial. Untuk itu, pihaknya akan segera melakukan pertemuan dengan emiten berkode PGAS itu untuk mencari alternatif dan mengevaluasi ketersediaan gas di tahun 2010 ini.
"Kita akan ketemu PGN Rabu atau Kamis depan, untuk evaluasi dan untuk opsi apa-apa aja. Dari yang sudah ada, memang 20 persen dipotong untuk industri keramik," kata Mustafa.
Menurutnya, alternatif untuk mengatur ulang kontrak ekospor gas PGN ke beberapa negara, demi memprioritaskan kebutuhan dalam negeri juga menjadi pembahasan yang akan diadakan kementerian bersama BUMN gas tersebut.
"Kita evaluasi sejauh mana keterikatan kontrak bisnisnya untuk ekspor. Sejauh mana peluang juga untuk impor. Kalau itu masih visible itu enggak masalah," ungkapnya.
Pilihan untuk impor gas memang telah diungkapkan Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh sebelumnya. Ada dua pilihan negara bidikin impor, yaitu Qatar dan Iran. Kedua negara ini memiliki harga yang terjangkau bagi pemerintah. Namun tidak semua industri sanggup membelinya di harga rata-rata US$ 5-6 per mmscfd.
"Qatar hanya sekitar US$ 1 per mmscfd. Kalau dibawa ke sini plus-plus menjadi masih sekitar di bawah US$ 6 (per mmcfd) untuk industri. Agak mepet memang untuk industri pupuk dengan harga gas US$ 5," jelasnya.
Industri pupuk baru bisa berjalan opimal saat beroperasi, lanjutnya, jika harga gas US$ 5. Untuk industri listrik sendiri, masih sekitar US$ 6-7 per mmcfd.
(wep/ang)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 07:03 WIB
Inilah 15 Perusahaan Idaman Mahasiswa Fresh Graduate
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 08:17 WIB
Ada Menara Tertinggi ke-5 di Dunia, Pasar Properti RI Makin Seksi
-
Kamis, 24/05/2012 07:19 WIB
Artha Graha: Tak Ada Kasino di Gedung Tertinggi Tomy Winata
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
35 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
