detikfinance

Profil Tiga Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia

Herdaru Purnomo - detikfinance
Sabtu, 13/03/2010 10:19 WIB
Profil Tiga Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia dok detikfinance
Jakarta -Presiden telah menetapkan nama-nama calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) menggantikan Siti Chalimah Fadjrijah yang akan habis masa jabatannya kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Uji kepatutan dan kelayakan (Fit and Proper test) rencananya akan digelar oleh Komisi XI DPR pada awal April 2010 nanti, setelah reses DPR selesai.

Dari nama-nama yang resmi ditetapkan sebagai calon Deputi Gubernur Bank Indonesia, dua diantaranya berasal dari internal dan satu calon lainnya diambil dari luar Bank Indonesia.

Ketiga calon Deputi Gubernur tersebut adalah Direktur Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI Halim Alamsyah, Direktur Riset Kebijakan Moneter BI Perry Warjiyo dan Komisaris PT Bank Danamon Tbk Krisna Wijaya.

Berikut profil serta visi dan misi masing-masing calon Deputi Gubernur Bank Indonesia :

1. Halim Alamsyah

Halim saat ini menjabat sebagai Direktur Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI. Pria kelahiran Sungai Liat 6 Maret 1957 ini menempuh pendidikan S1 di UGM dan UII, kemudian melanjutkan Master di Boston University Amerika. Belakangan nama Halim sering disebut-sebut di kalangan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) terutama oleh Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket Kasus Bank Century dimana dirinya sewaktu Rapat Dewan Gubernur membahas mengenai pengaruh dampak sistemik Bank Century.

Terlepas dari kasus Century, Ekonom Kepala PT Bank BNI Tony Prasetiantono mengatakan kredibilitas Halim Alamsyah tidak perlu lagi dipertanyakan. "Dia adalah kader BI yang terbaik saat ini. Halim paling senior diantara Direktur lainnya dan pangkatnya sudah mentok sebagai Direktur yang paling tinggi grade-nya.

Halim sendiri memfokuskan dirinya kepada 3 pilar perbankan jika dirinya terpilih menjadi Deputi Gubernur BI nanti, yaitu:

   1. Koordinasi pentingnya sistem ekonomi kita dengan melakukan pengembangan-pengembangan bersama-sama otoritas lain.
   2. Penataan struktur perbankan sehingga menjadi optimal sehingga ada ruang beroperasi lebih sehat dan adil.
   3. Sistem pengawasan yang forward looking dengan memprediksi kondisi keuangan perbankan dan didukung kewenangan dan langkah-langkah kebijakan lebih awal.


2. Perry Warjiyo

Karir Perry di Bank Indonesia dimulai sejak tahun 1984 sebagai staff perencanaan kredit. Sebelumnya, pria lulusan Universitas Gajah Mada jurusan akuntansi ini juga pernah bekerja di dunia akunting sebagai akuntan publik.

Pada tahun 1991, Perry memfokuskan studinya di bidang Moneter dan Keuangan dengan mengambil tingkat Master di Universitas Iowa di Amerika Serikat.

Ia juga sempat menjabat sebagai staf Gubernur Bank Indonesia dan menduduki salah satu jabatan di International Monetary Fund (IMF) menggantikan Sri Mulyani Indrawati. Terakhir, Perry mengambil program Doktor (S3) bidang Ekonomi dan Moneter yang juga di Universitas Iowa.

Meskipun rekam jejaknya adalah di bidang kebijakan makro ekonomi dan moneter, dengan penuh percaya diri Perry berani untuk bersaing memperebutkan kursi Deputi Gubernur di bidang pengawasan perbankan.

Dalam uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) Perry akan mendesak penegakan ketentuan dalam bidang pengawasan. Selain itu jika memang dirinya terpilih Perry akan melakukan sebuah reformasi.

Perry memaparkan beberapa langkah konkrit untuk penegakan ketentuan :

    * Perlu review ketentuan yang ada, supaya ada kejelasan rule of game. Mana ketentuan yang tak bisa ditawar dan mana ketentuan yang adjustment diskresi bisa dilakukan.
    * Adanya kejelasan proses pengambilan keputusan, di antara Pengawas, Direktur dan Dewan Gubernur. Kewenangan tersebut harus jelas serta proses bisnis yang harus jelas.
    * Perlunya motivasi ke pengawas untuk penegakan ketentuan. Selama ini BI didera berbagai hal maka harus jadi pompa motivasi. Pengawas yang menegakkan ketentuan harus diapresiasi dan dimotivasi.


3. Krisna Wijaya

Krisna Wijaya merupakan pemimpin pertama Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Namun ia memilih mundur dari jabatan Kepala Eksekutif karena ingin mengejar target menjadi dokter dibidang mikro banking.

Krisna seharusnya masih mengemban Kepala Eksekutif LPS hingga 22 September 2009. Praktis mantan direktur BRI ini hanya bertugas selama dua tahun di LPS sejak sejak tanggal 22 September 2005 yakni saat LPS resmi beroperasi pertama kali.

Kariernya selama 25 tahun di industri perbankan dihabiskan di PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI). Krisna memulai masa kerjanya pada 1980 hingga 2005 dan pernah menduduki direktur operasional (2000-2003), direktur usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pada 2003-2005, dan komisaris BRI (Mei-September 2005).

Dia juga pernah menjabat direktur Lembaga Pendidikan Perbankan Indonesia (LPPI) pada 2005 dan kepala eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (2005-2007). Saat ini dia menjabat sebagai komisaris PT Bank Danamon Tbk.

Krisna mengungkapkan dalam fit and proper test dirinya akan mengangkat esensi metode dan teknik pengawasan.

Krisna mengibaratkan, jika terpilih sebagai Deputi Gubernur BI bidang pengawasan bank, maka nantinya dirinya akan menjadi wasit yang juga mantan pemain. Sehingga ia bisa memiliki intuisi mengenai apa saja yang harus diawasi di masing-masing bank.

Menurut Krisna sistem pengawasn sifatnya tidak generik, seharusnya lebih kepada ditekankan kepada individual banknya. Pria jebolan IPB ini juga mengatakan sistem pengawasan harus lebih fokus kepada individual masing-masing bank karena memang semua bank mempunyai karakteristik dan gaya manajemen yang khas.

Sementara itu, Ketua Ikatan Pegawai Bank Indonesia (IPEBI) Dian Ediana Rae mengatakan dirinya menyambut baik ketiga calon tersebut. "Harapan saya dan segenap pegawai BI agar siapapun yang terpilih dapat menjaga profesionalisme dan kredibilitas didalam melaksanakan tugas-tugas sebagai Deputi Gubernur," ujar Dian kepada detikFinance melalui pesan singkatnya di Jakarta, Sabtu (13/03/2010).

Selain itu, pegawai BI berharap Deputi terpilih juga selalu dapat menjaga independensi BI dari kepentingan politik dan kepentingan bisnis serta fokus kepada kepentingan rakyat dan bangsa.
(dru/ang)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Natuna, Daerah Kaya Sumber Daya yang Diincar China Senin, 18/07/2016 12:05 WIB
    Wawancara Tenaga Ahli Kemenko Maritim
    Natuna, Daerah Kaya Sumber Daya yang Diincar China
    Natuna adalah wilayah yang sangat penting. Bukan hanya kaya akan ikan, Natuna juga menyimpan potensi besar di sektor migas dan pariwisata.
  • Apa Saja Keuntungan Berinvestasi Obligasi? Kamis, 24/03/2016 17:19 WIB
    Apa Saja Keuntungan Berinvestasi Obligasi?
    Memilih investasi yang tepat bukan perkara mudah. Berbagai instrumen investasi ditawarkan mulai dari saham, obligasi, reksa dana, deposito, emas, dan lain-lain.


“Mau berinvestasi di pasar modal ? Mega Online Trading adalah solusinya”

www.megaonlinetrading.com

Info Lebih Lanjut