BPS: Kenaikan TDL 15% Tak Banyak Pengaruhi Inflasi
Selasa, 16/03/2010 10:25 WIB
Rusman Heriawan (dok detikcom)
Jakarta - Kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) sebesar 15% yang rencananya akan diberlakukan mulai Juli nanti diyakini tidak banyak menambah laju inflasi tahun ini. Syaratnya, pemerintah harus mampu mengatasi dampak psikologis dari kenaikan TDL tersebut.
"Kalau dampak psikologis dari kenaikan tersebut bisa dimaintenance, maka target inflasi 5,7 persen itu masih manageable," ungkap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan saat dihubungi detikFinance, Selasa (16/3/2010).
Rusman mengakui, kenaikan TDL memang akan berdampak langsung kepada konsumen rumah tangga karena mereka harus menganggarkan dana lebih besar untuk membayar listrik. Namun, hal tersebut tidak memberikan pengaruh yang disignifikan terhadap angka inflasi karena komponen TDL dalam perhitungan inflasi tidak sebesar komponen lainnya.
"Secara matematik, dampak langsungnya memang kecil karena pengaruh komponen TDL dalam perhitungan Inflasi tidak sebesar beras," kata dia.
Namun, menurut dia, pemerintah tetap harus mewaspadai efek berantai dari kenaikan TDL itu. Pasalnya, kenaikan TDL biasanya dimanfaatkan oleh para pelaku industri untuk menaikkan harga barang-barang yang diproduksinya sehingga harga di pasaranpun akan ikut-ikutan naik dan ini tentunya akan mempengaruhi inflasi.
"Kadang-kadang mereka cenderung menyederhanakan kalau listrik naik 15 persen, maka harga juga dinaikkan 15 persen, padahal harusnya perhitungannya tidak begitu. Hal ini yang harus diantisipasi," kata dia.
Seperti diketahui, pemerintah berencana untuk menaikkan TDL dengan rata-rata kenaikan sebesar 15 persen pada bulan Juli mendatang. Dengan kenaikan 15 persen saja, pemerintah masih harus menambah subsidi listrik dari Rp 37,8 triliun dalam APBN 2010 menjadi Rp 54,5 triliun dalam RAPBN-P 2010.
Menteri Keuangan Sri Mulyani pernah mengatakan, jika usulan kenaikan TDL ini ditolak oleh DPR maka pemerintah harus mengeluarkan tambahan subsidi listrik sebesar Rp 6,8 triliun. Dengan asumsi tidak ada anggaran lain yang dipangkas, maka defisit dalam APBN-P 2010 pun bisa naik 2,2 persen.
(epi/qom)
"Kalau dampak psikologis dari kenaikan tersebut bisa dimaintenance, maka target inflasi 5,7 persen itu masih manageable," ungkap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan saat dihubungi detikFinance, Selasa (16/3/2010).
Rusman mengakui, kenaikan TDL memang akan berdampak langsung kepada konsumen rumah tangga karena mereka harus menganggarkan dana lebih besar untuk membayar listrik. Namun, hal tersebut tidak memberikan pengaruh yang disignifikan terhadap angka inflasi karena komponen TDL dalam perhitungan inflasi tidak sebesar komponen lainnya.
"Secara matematik, dampak langsungnya memang kecil karena pengaruh komponen TDL dalam perhitungan Inflasi tidak sebesar beras," kata dia.
Namun, menurut dia, pemerintah tetap harus mewaspadai efek berantai dari kenaikan TDL itu. Pasalnya, kenaikan TDL biasanya dimanfaatkan oleh para pelaku industri untuk menaikkan harga barang-barang yang diproduksinya sehingga harga di pasaranpun akan ikut-ikutan naik dan ini tentunya akan mempengaruhi inflasi.
"Kadang-kadang mereka cenderung menyederhanakan kalau listrik naik 15 persen, maka harga juga dinaikkan 15 persen, padahal harusnya perhitungannya tidak begitu. Hal ini yang harus diantisipasi," kata dia.
Seperti diketahui, pemerintah berencana untuk menaikkan TDL dengan rata-rata kenaikan sebesar 15 persen pada bulan Juli mendatang. Dengan kenaikan 15 persen saja, pemerintah masih harus menambah subsidi listrik dari Rp 37,8 triliun dalam APBN 2010 menjadi Rp 54,5 triliun dalam RAPBN-P 2010.
Menteri Keuangan Sri Mulyani pernah mengatakan, jika usulan kenaikan TDL ini ditolak oleh DPR maka pemerintah harus mengeluarkan tambahan subsidi listrik sebesar Rp 6,8 triliun. Dengan asumsi tidak ada anggaran lain yang dipangkas, maka defisit dalam APBN-P 2010 pun bisa naik 2,2 persen.
(epi/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 07:03 WIB
Inilah 15 Perusahaan Idaman Mahasiswa Fresh Graduate
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 08:17 WIB
Ada Menara Tertinggi ke-5 di Dunia, Pasar Properti RI Makin Seksi
-
Kamis, 24/05/2012 07:19 WIB
Artha Graha: Tak Ada Kasino di Gedung Tertinggi Tomy Winata
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
35 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
