Suku Bunga Rendah AS, Apa Implikasinya ke Indonesia?
Rabu, 17/03/2010 08:50 WIB
Jakarta - Bank Sentral AS (Federal Reserve) kembali memperpanjang masa suku bunga rendah dengan harapan untuk bisa terus menstimulasi pemulihan ekonomi yang kini masih dibayangi tingginya pengangguran dan masalah likuiditas.
Melalui voting 9:1, anggota FOMC sepakat untuk mempertahankan suku bunga rendah di kisaran 0-0,25%. Satu anggota FOMC, Gubernur Bank Sentral Kansas City Thomas Hoenig tidak sepakat dengan keputusan itu dan berpendapat mempertahankan suku bunga rendah tanpa terkecuali untuk periode yang lebih panjang tidak lagi diperlukan. Sudah 2 kali Hoenig memberikan opini yang berbeda.
Ekonom BII Samuel Ringoringo menyatakan, The Fed lagi-lagi menyatakan akan menjaga tingkat suku bunga untuk "periode yang panjang" - low interest rates for an extended period of time. Frase tersebut menunjukkan bahwa Bank Sentral AS memang belum menunjukkan sinyal kenaikan suku bunga.
"Hal ini sejatinya telah diperkirakan oleh para pelaku pasar mengingat inflasi AS belum menjadi ancaman dan perbaikan di pasar tenaga kerja negeri Paman Sam tersebut belum terlihat," jelas Samuel dalam reviewnya, Rabu (17/3/2010).
Fed Rate yang tetap di 0,25 persen menurut Samuel juga membuktikan kebenaran hipotesis bahwa kenaikan tingkat suku bunga diskonto AS beberapa waktu lalu tak lebih dari upaya normalisasi pasar uang AS, bukan pengetatan moneter.
Lantas apa implikasi kebijakan suku bunga rendah AS untuk waktu yang lebih lama tersebut ke Indonesia? Samuel melihatnya dari 3 sisi yakni dampak ke nilai tukar rupiah, BI Rate dan pasar obligasi.
1. Dampak pada pergerakan nilai tukar rupiah
Rupiah masih dalam trend yang menguat; dikarenakan likuiditas global (yang disokong oleh AS,Eropa, dan Jepang) masih akan tinggi dan memburu aset-aset di negara berkembang (termasuk Indonesia) yang memberikan tingkat imbal hasil yang lebih tinggi disertai outlook ekonomi yang meyakinkan. Artinya, IHSG-pun masih dalam trend yang positif.
2. Arah BI Rate
BI Rate masih akan di kisaran 6.5 persen. Selain karena Fed Rate tetap, inflasi Indonesia sendiri belum menjadi ancaman. BI tentu masih percaya diri dengan tingkat suku bunga sekarang, dan tetap fokus berusaha menurunkan tingkat suku bunga kredit sambil menjaga penguatan Rupiah agar tidak terlalu tajam demi melindungi sektor riil (baik ekspor maupun impor).
3. Pasar Obligasi masih tumbuh
Pasar obligasi masih bisa tumbuh moderat. Tingkat suku bunga yang stabil dan inflasi yang terjaga dibarengi dengan likuiditas global yang besar dan supply obligasi yang terbaca oleh pasar akan memberikan impak positif bagi pasar obligasi Indonesia.
"Tetapi, tetap dikatakan "moderat" karena bagaimanapun investor obligasi meyakini siklus inflasi akan datang dan tentu dampaknya nanti akan mebuat kenaikan harga obligasi sedikit tertahan setidaknya di paruh kedua 2010. Lain ceritanya bila peringkat rating Indonesia bisa masuk investment grade, pasar obligasi bisa naik lebih agresif," pungkas Samuel.
(qom/qom)
Melalui voting 9:1, anggota FOMC sepakat untuk mempertahankan suku bunga rendah di kisaran 0-0,25%. Satu anggota FOMC, Gubernur Bank Sentral Kansas City Thomas Hoenig tidak sepakat dengan keputusan itu dan berpendapat mempertahankan suku bunga rendah tanpa terkecuali untuk periode yang lebih panjang tidak lagi diperlukan. Sudah 2 kali Hoenig memberikan opini yang berbeda.
Ekonom BII Samuel Ringoringo menyatakan, The Fed lagi-lagi menyatakan akan menjaga tingkat suku bunga untuk "periode yang panjang" - low interest rates for an extended period of time. Frase tersebut menunjukkan bahwa Bank Sentral AS memang belum menunjukkan sinyal kenaikan suku bunga.
"Hal ini sejatinya telah diperkirakan oleh para pelaku pasar mengingat inflasi AS belum menjadi ancaman dan perbaikan di pasar tenaga kerja negeri Paman Sam tersebut belum terlihat," jelas Samuel dalam reviewnya, Rabu (17/3/2010).
Fed Rate yang tetap di 0,25 persen menurut Samuel juga membuktikan kebenaran hipotesis bahwa kenaikan tingkat suku bunga diskonto AS beberapa waktu lalu tak lebih dari upaya normalisasi pasar uang AS, bukan pengetatan moneter.
Lantas apa implikasi kebijakan suku bunga rendah AS untuk waktu yang lebih lama tersebut ke Indonesia? Samuel melihatnya dari 3 sisi yakni dampak ke nilai tukar rupiah, BI Rate dan pasar obligasi.
1. Dampak pada pergerakan nilai tukar rupiah
Rupiah masih dalam trend yang menguat; dikarenakan likuiditas global (yang disokong oleh AS,Eropa, dan Jepang) masih akan tinggi dan memburu aset-aset di negara berkembang (termasuk Indonesia) yang memberikan tingkat imbal hasil yang lebih tinggi disertai outlook ekonomi yang meyakinkan. Artinya, IHSG-pun masih dalam trend yang positif.
2. Arah BI Rate
BI Rate masih akan di kisaran 6.5 persen. Selain karena Fed Rate tetap, inflasi Indonesia sendiri belum menjadi ancaman. BI tentu masih percaya diri dengan tingkat suku bunga sekarang, dan tetap fokus berusaha menurunkan tingkat suku bunga kredit sambil menjaga penguatan Rupiah agar tidak terlalu tajam demi melindungi sektor riil (baik ekspor maupun impor).
3. Pasar Obligasi masih tumbuh
Pasar obligasi masih bisa tumbuh moderat. Tingkat suku bunga yang stabil dan inflasi yang terjaga dibarengi dengan likuiditas global yang besar dan supply obligasi yang terbaca oleh pasar akan memberikan impak positif bagi pasar obligasi Indonesia.
"Tetapi, tetap dikatakan "moderat" karena bagaimanapun investor obligasi meyakini siklus inflasi akan datang dan tentu dampaknya nanti akan mebuat kenaikan harga obligasi sedikit tertahan setidaknya di paruh kedua 2010. Lain ceritanya bila peringkat rating Indonesia bisa masuk investment grade, pasar obligasi bisa naik lebih agresif," pungkas Samuel.
(qom/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 07:03 WIB
Inilah 15 Perusahaan Idaman Mahasiswa Fresh Graduate
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 08:17 WIB
Ada Menara Tertinggi ke-5 di Dunia, Pasar Properti RI Makin Seksi
-
Kamis, 24/05/2012 07:19 WIB
Artha Graha: Tak Ada Kasino di Gedung Tertinggi Tomy Winata
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
35 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
