BKPM Minta Menara Telekomunikasi Dibuka Untuk Asing
Rabu, 17/03/2010 11:38 WIB
Jakarta - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menilai sektor menara telekomunikasi (BTS) perlu dibuka untuk investor asing. Masuknya asing diharapkan bisa menopang kebutuhan pembangunan BTS, karena belum maksimalnya pendanaan dalam negeri.
Kepala BKPM Gita Wirjawan mengatakan kebutuhan pembangunan BTS hingga 5-7 tahun ke depan mencapai 200.000 menara. Hal ini untuk menopang kebutuhan BTS di berbagai daerah yang masih terbatas dan menekan blank spot yang masih sering terjadi.
"Selama ini (pendanaan lokal) belum terbukti menopang," tegasnya saat ditemui di kantor Menko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (17/3/2010).
Ia sangat optimis jika pelaku asing diberikan kesempatan untuk masuk, maka akan sangat menopang kebutuhan investasi menara BTS sebesar Rp 70-80 triliun per tahun di dalam negeri.
Namun kata dia, jika pelaku asing tidak diberikan kesempatan masuk, maka ia tidak terlalu banyak berharap adanya ekspansi pembanguna menara bisa tercapai sesuai dengan target, mengingat pendanaan perbankan dalam negeri pun masih terbatas
"Kalau ini ditutup, kita tidak terlalu ambisius," katanya.
Gita menambahkan pihaknya tidak terlalu berharap sektor menara telekomunikasi ini bisa dibuka seluruhnya untuk asing, namun paling tidak sektor ini bisa diberikan celah bagi asing untuk masuk dalam jumlah terbatas.
"10%, 20%, 40%, atau 51%, yang penting ada keterbukaan," katanya.
Menurutnya saat ini terjadi perbedaan pandangan antara kementerian komunikasi dan informasi dengan BKPM. Pihak BKPM melihat dibukanya menara telekomunikasi untuk asing dilihat dari aspek peluang bisnis dan investasi sedangkan Kementerian Komunikasi dan Telekomunikasi lebih melihat dari aspek teknis, yang lebih menghendaki sektor ini tertutup untuk asing.
"Kita limpahkan hal ini ke Menko Perekonomian dan Pak Presiden," katanya.
Seperti diketahui, pemerintah sedang merevisi Perpres mengenai daftar negatif investasi (DNI) di antaranya bidang kesehatan, menara telekomunikasi, pendidikan, sektor kreatif, pariwisata, dan pertanian. Dari sekian itu setidaknya sektor menara telekomunikasi yang paling alot pembahasannya.
(hen/dnl)
Kepala BKPM Gita Wirjawan mengatakan kebutuhan pembangunan BTS hingga 5-7 tahun ke depan mencapai 200.000 menara. Hal ini untuk menopang kebutuhan BTS di berbagai daerah yang masih terbatas dan menekan blank spot yang masih sering terjadi.
"Selama ini (pendanaan lokal) belum terbukti menopang," tegasnya saat ditemui di kantor Menko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (17/3/2010).
Ia sangat optimis jika pelaku asing diberikan kesempatan untuk masuk, maka akan sangat menopang kebutuhan investasi menara BTS sebesar Rp 70-80 triliun per tahun di dalam negeri.
Namun kata dia, jika pelaku asing tidak diberikan kesempatan masuk, maka ia tidak terlalu banyak berharap adanya ekspansi pembanguna menara bisa tercapai sesuai dengan target, mengingat pendanaan perbankan dalam negeri pun masih terbatas
"Kalau ini ditutup, kita tidak terlalu ambisius," katanya.
Gita menambahkan pihaknya tidak terlalu berharap sektor menara telekomunikasi ini bisa dibuka seluruhnya untuk asing, namun paling tidak sektor ini bisa diberikan celah bagi asing untuk masuk dalam jumlah terbatas.
"10%, 20%, 40%, atau 51%, yang penting ada keterbukaan," katanya.
Menurutnya saat ini terjadi perbedaan pandangan antara kementerian komunikasi dan informasi dengan BKPM. Pihak BKPM melihat dibukanya menara telekomunikasi untuk asing dilihat dari aspek peluang bisnis dan investasi sedangkan Kementerian Komunikasi dan Telekomunikasi lebih melihat dari aspek teknis, yang lebih menghendaki sektor ini tertutup untuk asing.
"Kita limpahkan hal ini ke Menko Perekonomian dan Pak Presiden," katanya.
Seperti diketahui, pemerintah sedang merevisi Perpres mengenai daftar negatif investasi (DNI) di antaranya bidang kesehatan, menara telekomunikasi, pendidikan, sektor kreatif, pariwisata, dan pertanian. Dari sekian itu setidaknya sektor menara telekomunikasi yang paling alot pembahasannya.
(hen/dnl)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 07:03 WIB
Inilah 15 Perusahaan Idaman Mahasiswa Fresh Graduate
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 08:17 WIB
Ada Menara Tertinggi ke-5 di Dunia, Pasar Properti RI Makin Seksi
-
Kamis, 24/05/2012 07:19 WIB
Artha Graha: Tak Ada Kasino di Gedung Tertinggi Tomy Winata
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
35 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
