BEI Tak Puas Jawaban Bhakti Soal Akuisisi
Rabu, 17/03/2010 14:30 WIB
Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan ketidakpuasannya atas jawaban manajemen PT Bhakti Investama Tbk (BHIT) terkait rencana bisnis, seperti akuisisi perusahaan asuransi dan tambang batubara.
Menurut Direktur Penilaian Perusahaan BEI Eddy Sugito, penjelasan BHIT tidak konkret terkait jawaban yang diinginkan otoritas bursa tersebut. Namun Eddy menegaskan, dirinya tidak bisa memaksakan kehendak kepada BHIT karena ada beberapa rencana aksi korporasi yang masih diproses.
"Kita sih menginginkan lebih konkret, masih dalam proses. kita push (dorong)," papar Eddy saat ditemui di Gedung BEI, SCBD, Jakarta, Rabu (17/3/2010).
Ditambahkannya, jika tetap dipaksa akan berpengaruh terhadap transaksi perdagangan. Ujung-ujungnya emiten yang bersangkutan akan merugi. Pemegang saham pun akan ikut terkena imbas.
"Kalau tetap disampaikan juga repot. Secara keseluruhan jadi merugikan," ucapnya.
Namun, perseroan telah berjanji kepada otoritas bursa, jika ada perkembangan lebih lanjut akan disampaikan secara lebih detil. "Jika nanti ada signifikansi progress, akan wajib melaporkan di keterbukaan," paparnya.
Secara keseluruhan, BEI juga akan mengatur bagaimana informasi yang layak disajikan oleh emiten dalam keterbukaan informasi. Jika informasi dirasa tidak lengkap, maka tidak dapat tersampaikan kepada publik, khususnya investor independen.
"Nanti semua emiten akan diatur ke depan. Informasi seperti apa yang mereka disclose. Jika melempar informasi yang masih prematur ya tidak," imbuhnya.
Sebelumnya, dalam pertemuan BHIT dengan BEI dikabarkan, perseroan berencana mengakuisisi perusahaan tambang dan asuransi. Namun realisasinya belum dapat dipublikasikan oleh manajemen BHIT.
Dampak dari kabar tersebut, saham BHIT langsung diburu di pasar saham. Sampai-sampai dihentikan perdagangannya (suspensi) pada perdagangan tanggal 1 Maret 2010.
Harga saham BHIT, di awal pembukaan perdaganan Senin (1/3/2010), mengalami kenaikan hingga sempat menyentuh level Rp 710 per saham, naik Rp 90 dari penutupan akhir pekan lalu Rp 620 per saham.
Pada perdagangan 17 Februari 2010 langsung melesat ke level Rp 245 per saham. Pada penutupan perdagangan 19 Februari 2010, BHIT telah menyentuh angka Rp 340 per saham, naik Rp 125 (58,14%) dari posisi 16 Februari 2010.
Pada 22 Februari 2010, harga BHIT kembali melejit tajam ke level Rp 405 per saham. Oleh sebab itu, BEI memasukkan BHIT dalam kategori Unusual Market Activity (UMA). Justru setelah masuk kategori UMA, harga saham BHIT makin melesat tajam. Pada perdagangan 23 dan 24 Februari 2010, harga saham BHIT naik hingga menyentuh batas atas auto rejection berturut-turut.
Pada perdagangan Rabu (24/2/2010), BHIT ditutup di level Rp 620, naik Rp 405 (188,37%) dari harga penutupan 16 Februari 2010. Pada 25 Februari lalu, BEI mengenakan penghentian sementara perdagangan (suspensi) saham PT Bhakti Investama Tbk (BHIT).
Meski sejak suspensi dibuka kenaikan harga saham BHIT tidak signifikan, namun BEI tetap berencana memanggil manajemen perseroan guna meminta penjelasan lebih lanjut mengenai kenaikan harga sahamnya pada Februari 2010.
(wep/dnl)
Menurut Direktur Penilaian Perusahaan BEI Eddy Sugito, penjelasan BHIT tidak konkret terkait jawaban yang diinginkan otoritas bursa tersebut. Namun Eddy menegaskan, dirinya tidak bisa memaksakan kehendak kepada BHIT karena ada beberapa rencana aksi korporasi yang masih diproses.
"Kita sih menginginkan lebih konkret, masih dalam proses. kita push (dorong)," papar Eddy saat ditemui di Gedung BEI, SCBD, Jakarta, Rabu (17/3/2010).
Ditambahkannya, jika tetap dipaksa akan berpengaruh terhadap transaksi perdagangan. Ujung-ujungnya emiten yang bersangkutan akan merugi. Pemegang saham pun akan ikut terkena imbas.
"Kalau tetap disampaikan juga repot. Secara keseluruhan jadi merugikan," ucapnya.
Namun, perseroan telah berjanji kepada otoritas bursa, jika ada perkembangan lebih lanjut akan disampaikan secara lebih detil. "Jika nanti ada signifikansi progress, akan wajib melaporkan di keterbukaan," paparnya.
Secara keseluruhan, BEI juga akan mengatur bagaimana informasi yang layak disajikan oleh emiten dalam keterbukaan informasi. Jika informasi dirasa tidak lengkap, maka tidak dapat tersampaikan kepada publik, khususnya investor independen.
"Nanti semua emiten akan diatur ke depan. Informasi seperti apa yang mereka disclose. Jika melempar informasi yang masih prematur ya tidak," imbuhnya.
Sebelumnya, dalam pertemuan BHIT dengan BEI dikabarkan, perseroan berencana mengakuisisi perusahaan tambang dan asuransi. Namun realisasinya belum dapat dipublikasikan oleh manajemen BHIT.
Dampak dari kabar tersebut, saham BHIT langsung diburu di pasar saham. Sampai-sampai dihentikan perdagangannya (suspensi) pada perdagangan tanggal 1 Maret 2010.
Harga saham BHIT, di awal pembukaan perdaganan Senin (1/3/2010), mengalami kenaikan hingga sempat menyentuh level Rp 710 per saham, naik Rp 90 dari penutupan akhir pekan lalu Rp 620 per saham.
Pada perdagangan 17 Februari 2010 langsung melesat ke level Rp 245 per saham. Pada penutupan perdagangan 19 Februari 2010, BHIT telah menyentuh angka Rp 340 per saham, naik Rp 125 (58,14%) dari posisi 16 Februari 2010.
Pada 22 Februari 2010, harga BHIT kembali melejit tajam ke level Rp 405 per saham. Oleh sebab itu, BEI memasukkan BHIT dalam kategori Unusual Market Activity (UMA). Justru setelah masuk kategori UMA, harga saham BHIT makin melesat tajam. Pada perdagangan 23 dan 24 Februari 2010, harga saham BHIT naik hingga menyentuh batas atas auto rejection berturut-turut.
Pada perdagangan Rabu (24/2/2010), BHIT ditutup di level Rp 620, naik Rp 405 (188,37%) dari harga penutupan 16 Februari 2010. Pada 25 Februari lalu, BEI mengenakan penghentian sementara perdagangan (suspensi) saham PT Bhakti Investama Tbk (BHIT).
Meski sejak suspensi dibuka kenaikan harga saham BHIT tidak signifikan, namun BEI tetap berencana memanggil manajemen perseroan guna meminta penjelasan lebih lanjut mengenai kenaikan harga sahamnya pada Februari 2010.
(wep/dnl)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 07:03 WIB
Inilah 15 Perusahaan Idaman Mahasiswa Fresh Graduate
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 08:17 WIB
Ada Menara Tertinggi ke-5 di Dunia, Pasar Properti RI Makin Seksi
-
Kamis, 24/05/2012 07:19 WIB
Artha Graha: Tak Ada Kasino di Gedung Tertinggi Tomy Winata
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
35 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
