Sri Mulyani: Reformasi Terkadang Menyakitkan
Kamis, 18/03/2010 11:51 WIB
Jakarta - Menerapkan reformasi bukanlah sesuatu yang mudah untuk diterapkan pada suatu negara. Pasti ada rasa 'sakit' untuk melakukan perubahan secara besar-besaran tersebut.
"Reformasi dalam jangka pendek menimbulkan rasa sakit. Tapi itu terbayar dengan hasilnya di masa mendatang. No pain no gain," ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam Seminar The Annual Citi Indonesia Economic and Political Outlook di Hotel Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Kamis (18/3/2010).
Reformasi, lanjut Sri Mulyani, ibarat seperti seseorang yang melakukan program olahraga untuk mendapatkan bentuk tubuh ideal, seringkali rasa malas menyerang saat ingin melakukan olahraga.
"Saat godaan itu datang dan melakukan hal yang enak, pasti membuat penyesalan. Reformasi itu kadang-kadang painfull, kadang-kadang menimbulkan percikan-percikan di sana-sini," ujarnya.
Sri Mulyani sedikit menceritakan program reformasi birokrasi yang diterapkan di Kementerian Keuangan sedikit banyak telah membuahkan hasil.
Dengan setengah bercanda, ia mengatakan saat ini kebanyakan pegawainya tidak lagi meminta 'uang pelicin', tetap mereka masih mengalami dilema jika ditawari uang tersebut.
"Sekarang pegawai itu menjawab, saya tidak meminta, Bu, dia yang memberikan. Ini suatu kemajuan karena dulu mereka yang mukanya meminta. Tapi kalau ketahuan mereka mengaku merasa berat melihat amplop tergeletak di meja," ucapnya yang disambut tawa para tamu.
Sri Mulyani menyesalkan, walaupun seorang pegawai tidak melakukan korupsi tetapi dia tidak melaporkan tindakan teman-temannya yang korupsi maka reformasi di Kementerian Keuangan itu tidak akan berjalan.
"Karena nila setitik maka susu sebelanga rusak. Kalau cuma satu hero (pahlawan) saja maka tidak bisa memperbaiki Kementerian Keuangan tapi karena satu nila maka bisa merusak nama baik," ujarnya.
Selain itu Sri Mulyani menjelaskan, saat ini masih terdapat 11 Kementerian/Lembaga yang harus direformasi. Beberapa di antaranya adalah Polri dan Kejaksaan.
"Pada MA (Mahkamah Agung) dan BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) telah diterapkan reformasi. Reward dan punishment bisa diterapkan agar tingkah laku lebih reliable," tegasnya.
(nia/dnl)
"Reformasi dalam jangka pendek menimbulkan rasa sakit. Tapi itu terbayar dengan hasilnya di masa mendatang. No pain no gain," ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam Seminar The Annual Citi Indonesia Economic and Political Outlook di Hotel Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Kamis (18/3/2010).
Reformasi, lanjut Sri Mulyani, ibarat seperti seseorang yang melakukan program olahraga untuk mendapatkan bentuk tubuh ideal, seringkali rasa malas menyerang saat ingin melakukan olahraga.
"Saat godaan itu datang dan melakukan hal yang enak, pasti membuat penyesalan. Reformasi itu kadang-kadang painfull, kadang-kadang menimbulkan percikan-percikan di sana-sini," ujarnya.
Sri Mulyani sedikit menceritakan program reformasi birokrasi yang diterapkan di Kementerian Keuangan sedikit banyak telah membuahkan hasil.
Dengan setengah bercanda, ia mengatakan saat ini kebanyakan pegawainya tidak lagi meminta 'uang pelicin', tetap mereka masih mengalami dilema jika ditawari uang tersebut.
"Sekarang pegawai itu menjawab, saya tidak meminta, Bu, dia yang memberikan. Ini suatu kemajuan karena dulu mereka yang mukanya meminta. Tapi kalau ketahuan mereka mengaku merasa berat melihat amplop tergeletak di meja," ucapnya yang disambut tawa para tamu.
Sri Mulyani menyesalkan, walaupun seorang pegawai tidak melakukan korupsi tetapi dia tidak melaporkan tindakan teman-temannya yang korupsi maka reformasi di Kementerian Keuangan itu tidak akan berjalan.
"Karena nila setitik maka susu sebelanga rusak. Kalau cuma satu hero (pahlawan) saja maka tidak bisa memperbaiki Kementerian Keuangan tapi karena satu nila maka bisa merusak nama baik," ujarnya.
Selain itu Sri Mulyani menjelaskan, saat ini masih terdapat 11 Kementerian/Lembaga yang harus direformasi. Beberapa di antaranya adalah Polri dan Kejaksaan.
"Pada MA (Mahkamah Agung) dan BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) telah diterapkan reformasi. Reward dan punishment bisa diterapkan agar tingkah laku lebih reliable," tegasnya.
(nia/dnl)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 07:03 WIB
Inilah 15 Perusahaan Idaman Mahasiswa Fresh Graduate
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 08:17 WIB
Ada Menara Tertinggi ke-5 di Dunia, Pasar Properti RI Makin Seksi
-
Kamis, 24/05/2012 07:19 WIB
Artha Graha: Tak Ada Kasino di Gedung Tertinggi Tomy Winata
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
35 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
