Krisis Eropa Jadi Peluang Masuknya Modal Asing ke RI
Kamis, 18/03/2010 18:24 WIB
Jakarta - Krisis yang terjadi di sejumlah negara Eropa jangan hanya dilihat sebagai ancaman. Namun krisis tersebut dapat dijadikan peluang masuknya modal asing ke dalam negeri.
Direktur Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia (UI) Chatib Basri mengatakan krisis yang terjadi di sejumlah negara di Eropa seperti Yunani, Portugal, Italia, Spanyol, dan Irlandia membuat investor mencari lokasi baru untuk menanamkan modalnya.
"Bayangkan jika mereka punya modal Rp 100 triliun, kemudian bunganya 10%. Berarti dalam setahun seharusnya punya keuntungan Rp 10 triliun. Dalam sebulan sekitar Rp 900 miliar. Kalau dihitung per hari berada kisaran Rp 30 miliar, Kalau tidak ada investasi uang mereka hilang Rp 30 miliar per hari," ujar Chatib usai Seminar The Annual Citi Indonesia Economic and Political Outlook di Hotel Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Kamis (18/3/2010).
Untuk memindahkan modalnya dari Eropa maka para investor akan mencari negara mana yang bagus secara iklim investasi. Jika memilih AS, lanjut Chatib, risikonya akan lebih besar karena perekonomian di sana belum pulih.
Berarti ada pilihan untuk investasi ke emerging market seperti Brasil, Rusia, India, Cina, Thailand, dan Malaysia. "Thailand dan Malaysia ada dinamika politik. Maka pilihannya adalah Brasil, Indonesia, Cina, dan India," paparnya.
Menurut Chatib, aliran yang masuk akan cenderung ke pasar modal terlebih dahulu. Namun, lanjutnya, ini merupakan indikator menuju Foreign Direct Investment (FDI).
"Orang akan menaruh terlebih dahulu di situ sampai lihat situasinya yakin, kemudian baru dia menuju Foreign Direct Investment. Selalu trennya portofolio investment mendahului foreign direct investment," ujarnya.
Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sendiri menargetkan pertumbuhan investasi bisa mencapai 15% atau mencapai sekitar Rp 160 triliun pada tahun 2010.
Namun, Chatib mengingatkan karena likuditas global akan cukup ketat pada semester II-2010 sehingga terdapat kemungkinan AS menaikkan bunganya. Hal ini menyebabkan berindikasi pada pembalikan modal.
"Saya kira BI tetap harus hati-hati pada risiko revival capital, karena uangnya juga ditaruh di SBI (Sertifikat Bank Indonesia). Kalau di SBI jika ada pergerakan di dalam tingkat bunga saya bukan bilang pasti terjadi, tetapi bisa sewaktu-waktu kembali," ujarnya.
(nia/dnl)
Direktur Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia (UI) Chatib Basri mengatakan krisis yang terjadi di sejumlah negara di Eropa seperti Yunani, Portugal, Italia, Spanyol, dan Irlandia membuat investor mencari lokasi baru untuk menanamkan modalnya.
"Bayangkan jika mereka punya modal Rp 100 triliun, kemudian bunganya 10%. Berarti dalam setahun seharusnya punya keuntungan Rp 10 triliun. Dalam sebulan sekitar Rp 900 miliar. Kalau dihitung per hari berada kisaran Rp 30 miliar, Kalau tidak ada investasi uang mereka hilang Rp 30 miliar per hari," ujar Chatib usai Seminar The Annual Citi Indonesia Economic and Political Outlook di Hotel Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Kamis (18/3/2010).
Untuk memindahkan modalnya dari Eropa maka para investor akan mencari negara mana yang bagus secara iklim investasi. Jika memilih AS, lanjut Chatib, risikonya akan lebih besar karena perekonomian di sana belum pulih.
Berarti ada pilihan untuk investasi ke emerging market seperti Brasil, Rusia, India, Cina, Thailand, dan Malaysia. "Thailand dan Malaysia ada dinamika politik. Maka pilihannya adalah Brasil, Indonesia, Cina, dan India," paparnya.
Menurut Chatib, aliran yang masuk akan cenderung ke pasar modal terlebih dahulu. Namun, lanjutnya, ini merupakan indikator menuju Foreign Direct Investment (FDI).
"Orang akan menaruh terlebih dahulu di situ sampai lihat situasinya yakin, kemudian baru dia menuju Foreign Direct Investment. Selalu trennya portofolio investment mendahului foreign direct investment," ujarnya.
Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sendiri menargetkan pertumbuhan investasi bisa mencapai 15% atau mencapai sekitar Rp 160 triliun pada tahun 2010.
Namun, Chatib mengingatkan karena likuditas global akan cukup ketat pada semester II-2010 sehingga terdapat kemungkinan AS menaikkan bunganya. Hal ini menyebabkan berindikasi pada pembalikan modal.
"Saya kira BI tetap harus hati-hati pada risiko revival capital, karena uangnya juga ditaruh di SBI (Sertifikat Bank Indonesia). Kalau di SBI jika ada pergerakan di dalam tingkat bunga saya bukan bilang pasti terjadi, tetapi bisa sewaktu-waktu kembali," ujarnya.
(nia/dnl)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 07:03 WIB
Inilah 15 Perusahaan Idaman Mahasiswa Fresh Graduate
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 08:17 WIB
Ada Menara Tertinggi ke-5 di Dunia, Pasar Properti RI Makin Seksi
-
Kamis, 24/05/2012 07:19 WIB
Artha Graha: Tak Ada Kasino di Gedung Tertinggi Tomy Winata
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
35 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
