KPPU: Perpres dan Permendag Pasar Moderen Mandul
Minggu, 18/04/2010 14:42 WIB
(foto: dok detikFinance)
Jakarta - Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengusulkan agar pemerintah segera membuat undang-undang (UU) mengenai zonasi dan persyaratan perdagangan di ritel moderen. Usulan ini didasarkan oleh pertimbangan terhadap permasalahan ketidaksebandingan posisi tawar (bargaining position) antara pelaklu usaha ritel modern dengan pemasok dan masalah zonasi yang selama ini masih belum jelas aturan dan sanksinya karena mandulnya Perpres dan Permendag Pasar Moderen.
"Komisi memberikan saran dan pertimbangan kepada Pemerintah agar segera membentuk UU yang mengatur industri retail sebagai payung ketentuan pelaksanaan dan pengawasan pembatasan trading terms sehingga landasan hukum dalam pengaturan industri ini menjadi sangat kuat dan menciptakan kesejahteraan rakyat secara optimal," Kata Kepala Biro Humas KPPU A. Junaidi dalam siaran persnya Minggu, 18/4/2010).
Junadi mengatakan beberapa fakta menunjukan bahwa masalah ketidaksebandingan posisi tawar dapat dilihat dari kasus yang diputuskan oleh KPPU yaitu Putusan Nomor 02/KPPU-L/2005 tentang Pelanggaran Syarat-syarat Perdagangan oleh PT Carrefour yang dikuatkan MA dengan putusan No. 01K/KPPU/2005 dan Putusan akuisisi alfa oleh Carrefour No. 09/KPPU-L/2009 dan lain-lain.
Bahkan kata dia dalam putusan terhadap masalah Carrefour No. 09/KPPU-L/2009 disimpulkan bahwa tidak efektifnya Peraturan Presiden No. 112 Tahun 2007 (Perpres) dan Peraturan Menteri Perdagangan No. 53 Tahun 2008 (Permendag), karena masih terjadinya celah penerapan trading terms dari pemegang posisi dominan yang bersifat eksploitatif dan sangat membebani pemasok.
Menurut Junaidi berdasarkan analisis KPPU, hal ini terjadi karena selain ketidakseimbangan posisi antara retail modern dan pemasok yang makin besar khususnya ketika terjadi akuisisi, juga karena Perpres dan Permendag tersebut yaitu:
"Oleh karena itulah Komisi memandang perlu adanya peraturan setingkat UU yang memiliki kekuatan berlaku yang lebih kuat dan sanksi yang lebih tegas," serunya.
Selain mengatur terkait posisi tawar dalam persyaratan perdagangan di ritel moderen, UU zonasi dan persyaratan perdagangan ritel moderen perlu juga mengatur tentang aspek permasalahan persaingan tidak sebanding antara pelaku usaha ritel modern dan dan ritel tradisional. Pemerintah diharapkan membuat kebijakan dan intervensi langsung berupa pengaturan zonasi, termasuk pembatasan waktu buka atau bahkan pembatasan jumlah gerai yang dapat dibuka.
"Hal ini perlu mengingat kedua peraturan yang ada (Perpres dan Permendag) tidak efektif memperbaiki ketidaksebandingan ini," katanya
Seperti diketahui selama ini aturan mengenai toko modern, khsususnya soal perizinannya diserahkan kepada pemerintah daerah (pemda) masing-masing. Sementara itu pemerintah pusat hanya menyiapkan dasar acuannya, seperti yang tertuang dalam Permendag No 53 tahun 2008 mengenai pedoman, penataan dan pembinaan pasar tradisional, pusat perbelanjaan dan toko modern, juga Peraturan Presiden (Perpres) No 112 Tahun 2007 mengenai pasar modern.
(hen/dro)
"Komisi memberikan saran dan pertimbangan kepada Pemerintah agar segera membentuk UU yang mengatur industri retail sebagai payung ketentuan pelaksanaan dan pengawasan pembatasan trading terms sehingga landasan hukum dalam pengaturan industri ini menjadi sangat kuat dan menciptakan kesejahteraan rakyat secara optimal," Kata Kepala Biro Humas KPPU A. Junaidi dalam siaran persnya Minggu, 18/4/2010).
Junadi mengatakan beberapa fakta menunjukan bahwa masalah ketidaksebandingan posisi tawar dapat dilihat dari kasus yang diputuskan oleh KPPU yaitu Putusan Nomor 02/KPPU-L/2005 tentang Pelanggaran Syarat-syarat Perdagangan oleh PT Carrefour yang dikuatkan MA dengan putusan No. 01K/KPPU/2005 dan Putusan akuisisi alfa oleh Carrefour No. 09/KPPU-L/2009 dan lain-lain.
Bahkan kata dia dalam putusan terhadap masalah Carrefour No. 09/KPPU-L/2009 disimpulkan bahwa tidak efektifnya Peraturan Presiden No. 112 Tahun 2007 (Perpres) dan Peraturan Menteri Perdagangan No. 53 Tahun 2008 (Permendag), karena masih terjadinya celah penerapan trading terms dari pemegang posisi dominan yang bersifat eksploitatif dan sangat membebani pemasok.
Menurut Junaidi berdasarkan analisis KPPU, hal ini terjadi karena selain ketidakseimbangan posisi antara retail modern dan pemasok yang makin besar khususnya ketika terjadi akuisisi, juga karena Perpres dan Permendag tersebut yaitu:
- Tidak memiliki sanksi yang keras dan tegas terhadap pelaku usaha yang melanggar kedua peraturan itu.
- Tidak merumuskan siapa penegak hukum bagi pelanggar dua peraturan itu.
- Memberi ruang penetapan jenis dan besaran trading terms yang bersifat sepihak pada retail modern.
"Oleh karena itulah Komisi memandang perlu adanya peraturan setingkat UU yang memiliki kekuatan berlaku yang lebih kuat dan sanksi yang lebih tegas," serunya.
Selain mengatur terkait posisi tawar dalam persyaratan perdagangan di ritel moderen, UU zonasi dan persyaratan perdagangan ritel moderen perlu juga mengatur tentang aspek permasalahan persaingan tidak sebanding antara pelaku usaha ritel modern dan dan ritel tradisional. Pemerintah diharapkan membuat kebijakan dan intervensi langsung berupa pengaturan zonasi, termasuk pembatasan waktu buka atau bahkan pembatasan jumlah gerai yang dapat dibuka.
"Hal ini perlu mengingat kedua peraturan yang ada (Perpres dan Permendag) tidak efektif memperbaiki ketidaksebandingan ini," katanya
Seperti diketahui selama ini aturan mengenai toko modern, khsususnya soal perizinannya diserahkan kepada pemerintah daerah (pemda) masing-masing. Sementara itu pemerintah pusat hanya menyiapkan dasar acuannya, seperti yang tertuang dalam Permendag No 53 tahun 2008 mengenai pedoman, penataan dan pembinaan pasar tradisional, pusat perbelanjaan dan toko modern, juga Peraturan Presiden (Perpres) No 112 Tahun 2007 mengenai pasar modern.
(hen/dro)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Twitter Recommendation
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Minggu, 26/05/2013 14:25 WIB
Bos Bank Mandiri Ingin Rp 1.000 Jadi Rp 1 Segera Jadi Kenyataan
-
Minggu, 26/05/2013 14:02 WIB
Ikuti Manchester United, Miliuner Malaysia Ini Ingin IPO-kan Klub Sepakbolanya
-
Minggu, 26/05/2013 13:15 WIB
Pemerintah Jual BUMN Tekstil PT Primissima
-
Minggu, 26/05/2013 12:43 WIB
Alasan Bank Mandiri Ingin Ekspansi ke Luar Negeri
-
Minggu, 26/05/2013 11:34 WIB
Bank Mandiri Luncurkan Alat Pembayaran Canggih, Gelang e-Money
-
Minggu, 26/05/2013 13:51 WIB
Ikuti Manchester United, Miliuner Malaysia Ini Ingin IPO-kan Klub Sepakbolanya
-
Minggu, 26/05/2013 11:34 WIB
Bank Mandiri Luncurkan Alat Pembayaran Canggih, Gelang e-Money
-
Minggu, 26/05/2013 12:40 WIB
Alasan Bank Mandiri Ingin Ekspansi ke Luar Negeri
-
Minggu, 26/05/2013 13:11 WIB
Pemerintah Jual BUMN Tekstil PT Primissima
-
Minggu, 26/05/2013 10:13 WIB
Saingi 7 Eleven, Indomaret Mulai Perkenalkan Tempat Khusus Kongkow
-
34 Komentar
-
33 Komentar
-
29 Komentar
-
22 Komentar
-
22 Komentar
-
Rabu, 17/04/2013 12:45 WIB
Wawancara Direktur Komersial AirAsia
Penerbangan adalah Bisnis yang Seksi
PT Indonesia AirAsia adalah maskapai murah paling dikenal di Indonesia. Direktur Komersial Indonesia AirAsia Bernard Francis menilai penerbangan adalah bisnis yang seksi.
-
Rabu, 15/05/2013 13:51 WIB
Prospek Saham di Tahun Politik 2014
Indonesia akan memasuki tahun politik di 2014 nanti menjelang Pemilu. Bagaimana prospek saham di tahun tersebut?
-
Sabtu, 25/05/2013 15:50 WIB
Dahlan Iskan Pakai Bahasa Mandarin Ngajar di Peking University
Menteri BUMN Dahlan Iskan, menjadi dosen tamu di Peking University, Beijing, China. Dahlan menjadi pembicara pada acara yang diselenggarakan PPI di China.
Online Trading Academy
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Nullam eu justo lacus. Phasellus pulvinar ullamcorper congue. Vivamus porttitor, justo sit amet luctus pretium, leo purus eleifend ligula, vitae elementum dolor turpis consectetur eros.
REGISTRASI OTA
MustRead
close
-
Jumat, 24/05/2013 16:24 WIB WIB
Bisnis Keripik Jamur Beromzet Rp 500 Juta/Bulan, Berminat?
-
Jumat, 24/05/2013 15:54 WIB WIB
PT DI Jualan Pesawat 'Made in Bandung' ke 6 Negara
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer











