Tanggapi Tudingan Greenpeace
SMART Nonaktifkan Manajer Perkebunan
Rabu, 28/04/2010 18:20 WIB
Jakarta - PT Sinar Mas Agro Resources and Technology (SMART) menonaktifkan sementara manajer perkebunan sawitnya selama dilakukan verifikasi oleh auditor independen terkait laporan yang disampaikan oleh LSM internasional Greenpeace.
Demikian disampaikan oleh Direktur Corporate Communication dan Humas SMART Fajar Reksoprodjo kepada detikFinance, Rabu (28/4/2010).
"Selama auditor independen melakukan verifikasi, maka kami menonaktifkan sementara manajer perkebunan, sampai verifikasi selesai dan pertanggungjawabannya jelas," tegasnya.
Verifikasi ini dilakukan dalam 12 hingga 14 minggu, dan baru dimulai pada awal April ini. Penonaktifan ini dilakukan sebagai syarat kepatutan verifikasi. "Nanti apabila memang ditemukan pelanggaran, maka akan kita berikan sanksi sesuai dengan pelanggaran yang ada," ujarnya.
Fajar mengatakan, verifikasi dilakukan pada perkebunan SMART yang berlokasi di Kalimantan Barat.
Seperti diketahui akhir tahun 2009 lalu Unilever telah mengumumkan pemutusan kontrak CPO dari Sinar Mas, berdasarkan keputusan dari laporan LSM lingkungan hidup Greenpeace yang menuduh Sinar Mas melakukan perusakan lingkungan. Nilai kontrak ini mencapai 47 ribu metric ton CPO senilai US$ 32 juta.
(dnl/qom)
Demikian disampaikan oleh Direktur Corporate Communication dan Humas SMART Fajar Reksoprodjo kepada detikFinance, Rabu (28/4/2010).
"Selama auditor independen melakukan verifikasi, maka kami menonaktifkan sementara manajer perkebunan, sampai verifikasi selesai dan pertanggungjawabannya jelas," tegasnya.
Verifikasi ini dilakukan dalam 12 hingga 14 minggu, dan baru dimulai pada awal April ini. Penonaktifan ini dilakukan sebagai syarat kepatutan verifikasi. "Nanti apabila memang ditemukan pelanggaran, maka akan kita berikan sanksi sesuai dengan pelanggaran yang ada," ujarnya.
Fajar mengatakan, verifikasi dilakukan pada perkebunan SMART yang berlokasi di Kalimantan Barat.
Seperti diketahui akhir tahun 2009 lalu Unilever telah mengumumkan pemutusan kontrak CPO dari Sinar Mas, berdasarkan keputusan dari laporan LSM lingkungan hidup Greenpeace yang menuduh Sinar Mas melakukan perusakan lingkungan. Nilai kontrak ini mencapai 47 ribu metric ton CPO senilai US$ 32 juta.
(dnl/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 22:03 WIB
Ngirit Anggaran, SBY Minta Menteri Menginap di Gedung Negara
-
Jumat, 25/05/2012 21:16 WIB
Berusia 20 Tahun, Bank Muamalat Ganti Logo
-
Jumat, 25/05/2012 21:10 WIB
Wah! SBY Rahasiakan Bentuk Mobil Listrik Made in Indonesia
-
Jumat, 25/05/2012 21:04 WIB
SBY Tak Mau Gas RI Diborong ke Luar Negeri
-
Jumat, 25/05/2012 20:56 WIB
Mulai 2013 Palu-Parigi Terhubung Jalan Lintas 35 Km
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Puluhan Merek Pakaian Kelas Dunia Ternyata Made in Bandung
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
Jumat, 25/05/2012 08:17 WIB
Pemerintah Jalankan Program Pensiun Dini PNS Tahun Ini
-
Jumat, 25/05/2012 07:09 WIB
Kisah Pertarungan Bandar & Penjudi Curang di Kasino Moderen
-
Jumat, 25/05/2012 13:03 WIB
Agus Marto: Hanya RI & Arab Saudi yang Mampu Hadapi Krisis Eropa
-
65 Komentar
-
55 Komentar
-
42 Komentar
-
40 Komentar
-
37 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
