Ingin Saingi Kehandalan Listrik Singapura, TDL Harus Dinaikkan
Senin, 07/06/2010 16:28 WIB
Jakarta - PT PLN (Persero) mengungkapkan untuk bisa menyamai tingkat kehandalan listrik (tak byar pet) seperti negara-negara tetangga Malaysia dan Singapura yang memiliki kapasitas listrik terpakai dan cadangannya aman maka diperlukan tarif dasar listrik (TDL) 20% di atas biaya produksi.
Sementara saat ini kapasitas listrik di Indonesia justru defisit dengan tarif listrik jauh di bawah biaya produksi listrik.
"Kalau seandainya seluruh Indonesia tidak padam, itu kita hanya punya kapasitas pas-pasan. Kalau ada perusahaan listrik yang sehat mesti punya cadangan, misalnya Singapura antara yang nyala dengan siap-siap kapasitasnya sama," jelas Direktur Keuangan PLN Setio Anggoro Dewo dalam pemaparannya di Hotel Santika, Jakarta, Senin (7/6/2010).
PLN mengklaim TDL saat ini harga jualnya mencapai (rata-rata) Rp 657 per kwh, sedangkan biaya produksi PLN mencapai Rp 1.200 per kwh, artinya ada selisih harga yang menjadi subsidi sebesar Rp 543 per kwh.
Dikatakannya tarif 20% di atas biaya produksi bukan hanya menciptakan kehandalan bagi PLN, namun sebagai perusahaan tentunya akan memperkuat kondisi keuangan perseroan. Menurutnya beberapa pun subsidi listrik yang diberikan pemerintah hanya untuk memenuhi operasionalnya PLN saja.
"Selama kita bicara subsidi, kita tidak bisa bicara untuk tumbuh," tegas Dewo.
Ditegaskannya selama harga jual listrik masih lebih rendah dari biaya produksi maka tak ada keuntungan bagi PLN sebagai sebuah perusahaan. Justru yang untung adalah pemerintah karena subsidinya akan rendah (APBN) alias berkurang.
Selama ini kata dia, langkah investasi PLN tidak menggunakan dana subsidi namun pakai dana lain termasuk pinjaman seperti obligasi. Sementara subsidi murni hanya untuk biaya operasional PLN.
Padahal dalam waktu 5 tahun ke depan investasi kelistrikan mencapai 30.000 MW, atau setiap tahunnya butuh daya listrik 6.000 MW atau capex yang diperlukan per tahunnya sebesar US$ 6 miliar.
"PLN kalau ngandalin subsidi, bisnisnya nggak akan tumbuh," ucapnya.
(hen/dnl)
Sementara saat ini kapasitas listrik di Indonesia justru defisit dengan tarif listrik jauh di bawah biaya produksi listrik.
"Kalau seandainya seluruh Indonesia tidak padam, itu kita hanya punya kapasitas pas-pasan. Kalau ada perusahaan listrik yang sehat mesti punya cadangan, misalnya Singapura antara yang nyala dengan siap-siap kapasitasnya sama," jelas Direktur Keuangan PLN Setio Anggoro Dewo dalam pemaparannya di Hotel Santika, Jakarta, Senin (7/6/2010).
PLN mengklaim TDL saat ini harga jualnya mencapai (rata-rata) Rp 657 per kwh, sedangkan biaya produksi PLN mencapai Rp 1.200 per kwh, artinya ada selisih harga yang menjadi subsidi sebesar Rp 543 per kwh.
Dikatakannya tarif 20% di atas biaya produksi bukan hanya menciptakan kehandalan bagi PLN, namun sebagai perusahaan tentunya akan memperkuat kondisi keuangan perseroan. Menurutnya beberapa pun subsidi listrik yang diberikan pemerintah hanya untuk memenuhi operasionalnya PLN saja.
"Selama kita bicara subsidi, kita tidak bisa bicara untuk tumbuh," tegas Dewo.
Ditegaskannya selama harga jual listrik masih lebih rendah dari biaya produksi maka tak ada keuntungan bagi PLN sebagai sebuah perusahaan. Justru yang untung adalah pemerintah karena subsidinya akan rendah (APBN) alias berkurang.
Selama ini kata dia, langkah investasi PLN tidak menggunakan dana subsidi namun pakai dana lain termasuk pinjaman seperti obligasi. Sementara subsidi murni hanya untuk biaya operasional PLN.
Padahal dalam waktu 5 tahun ke depan investasi kelistrikan mencapai 30.000 MW, atau setiap tahunnya butuh daya listrik 6.000 MW atau capex yang diperlukan per tahunnya sebesar US$ 6 miliar.
"PLN kalau ngandalin subsidi, bisnisnya nggak akan tumbuh," ucapnya.
(hen/dnl)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 22:03 WIB
Ngirit Anggaran, SBY Minta Menteri Menginap di Gedung Negara
-
Jumat, 25/05/2012 21:16 WIB
Berusia 20 Tahun, Bank Muamalat Ganti Logo
-
Jumat, 25/05/2012 21:10 WIB
Wah! SBY Rahasiakan Bentuk Mobil Listrik Made in Indonesia
-
Jumat, 25/05/2012 21:04 WIB
SBY Tak Mau Gas RI Diborong ke Luar Negeri
-
Jumat, 25/05/2012 20:56 WIB
Mulai 2013 Palu-Parigi Terhubung Jalan Lintas 35 Km
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Puluhan Merek Pakaian Kelas Dunia Ternyata Made in Bandung
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
Jumat, 25/05/2012 08:17 WIB
Pemerintah Jalankan Program Pensiun Dini PNS Tahun Ini
-
Jumat, 25/05/2012 07:09 WIB
Kisah Pertarungan Bandar & Penjudi Curang di Kasino Moderen
-
Jumat, 25/05/2012 13:03 WIB
Agus Marto: Hanya RI & Arab Saudi yang Mampu Hadapi Krisis Eropa
-
65 Komentar
-
55 Komentar
-
42 Komentar
-
40 Komentar
-
37 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
