BPH Migas: Kualitas Premium Takkan Diturunkan Demi Pertamax
Kamis, 22/07/2010 07:38 WIB
Jakarta - Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH MIgas) menyatakan Pertamina tidak mungkin menurunkan kualitas premium yang dijual untuk mendorong agar masyarakat untuk beralih menggunakan pertamax.
"Pemerintah tidak akan lakukan hal itu. Kalau lakukan itu, pasti akan terbuka dan Pertamina juga tidak mungkin melakukannya," ujar Kepala BPH Migas Tubagus Haryono saat berbincang dengan detikFinance, Rabu (21/7/2010).
Tubagus mengaku, hingga kini BPH Migas masih belum mendapatkan laporan dari konsumen pengguna premium soal adanya penurunan kualitas tersebut.
"Kalau misalnya itu terjadi karena penyalahgunaan atau penyimpangan, tolong lapor ke BPH Migas. Kita tidak dapat laporan masyarakat , kita punya SMS center nomornya 3477. Kalau sudah ada laporan kami akan turunkan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) untuk cek dengan mobil lab," jelasnya.
Sementara itu, Vice President Communication Pertamina, Basuki Trikora juga membantah jika BUMN Migas tersebut telah menurunkan kualitas premium agar masyarakat beralih ke Pertamax.
"Nggaklah, Pertamina tidak berkepentingan untuk itu. Kalau itu dilakukan, berarti yang diuntungkan justru bukan Pertamina tapi perusahaan lain yang juga menjual BBM non subsidi. Lagipula kami jual Pertamax dan Pertamax Plus itu kan supaya masyarakat punya banyak pilihan," paparnya.
Ia memastikan BBM yang dijual dari depot BBM Pertamina sudah sesuai dengan spesfikasi yang ditetapkan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas). Kualitas BBM bersubsidi yang dijual juga telah dikontrol oleh pemerintah untuk menjaga mutu BBM Pertamina melalui rangkaian quality control dengan melakukan completed test mulai dari kilang sampai ke instalasi atau depot BBM.
Sementara di instalasi atau depot daily dilakukan short test dan penerimaan di SPBU juga dilakukan short test. Pertamina patuh terhadap quality control yang harus dilakukan sebagai bagian pelaksanaan standard operating prosedur.
"Keluhan konsumen agar dicermati dari aspek teknis material/spare part yang ada dan tidak menjadi domain Pertamina," jelasnya.
Seperti diketahui, sejumlah mobil diketahui mengalami kerusakan fuel pump. Hal itupun lantas memicu kekhawatiran Pertamina telah menurunkan kualitas premium sehingga masyarakat akhirnya terdorong menggunakan Pertamax. Pemerintah sendiri sejauh ini mulai khawatir karena konsumsi BBM bersubsidi termasuk premium dan solar terus meningkat sehingga bisa mengakibatkan tambahan subsidi.
BPH Migas memperkirakan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis premium dan solar pada tahun 2011, akan melonjak 3-4 persen dari proyeksi konsumsi pada tahun 2010, jika konsumsi BBM bersubsidi tidak dibatasi.
"Untuk premium dan solar naik sekitar 3-4 persen pada tahun depan karena ekonomi terus tumbuh," ujar Tubagus.
Sebelumnya, BPH Migas memperkirakan konsumsi BBM di tanah air pada tahun 2010 akan membengkak sebesar 40,1 juta KL, di mana konsumsi pemium diperkirakan mencapai 3,3 juta KL, konsumsi solar sekitar 13,1 juta KL pada tahun ini.
Namun kalau dilihat dari kuota keseluruhan, bisa saja turun karena konsumsi minyak tanah juga turun seiring dengan keberhasilan program konversi minyak tanah ke elpiji 3 Kg.
Hal ini terlihat dari perkiraan dari BPH mengenai konsumsi minyak tanah yang akan turun 17,28% dari realisasi konsumsi minyak tanah pada tahun 2009 sebesar 4.593.579 KL menjadi 3,8 juta KL di tahun ini.
"Kalau kuota keseluruhan bisa saja turun karena minyah tanah konsumsinya juga turun," jelasnya.
(epi/qom)
"Pemerintah tidak akan lakukan hal itu. Kalau lakukan itu, pasti akan terbuka dan Pertamina juga tidak mungkin melakukannya," ujar Kepala BPH Migas Tubagus Haryono saat berbincang dengan detikFinance, Rabu (21/7/2010).
Tubagus mengaku, hingga kini BPH Migas masih belum mendapatkan laporan dari konsumen pengguna premium soal adanya penurunan kualitas tersebut.
"Kalau misalnya itu terjadi karena penyalahgunaan atau penyimpangan, tolong lapor ke BPH Migas. Kita tidak dapat laporan masyarakat , kita punya SMS center nomornya 3477. Kalau sudah ada laporan kami akan turunkan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) untuk cek dengan mobil lab," jelasnya.
Sementara itu, Vice President Communication Pertamina, Basuki Trikora juga membantah jika BUMN Migas tersebut telah menurunkan kualitas premium agar masyarakat beralih ke Pertamax.
"Nggaklah, Pertamina tidak berkepentingan untuk itu. Kalau itu dilakukan, berarti yang diuntungkan justru bukan Pertamina tapi perusahaan lain yang juga menjual BBM non subsidi. Lagipula kami jual Pertamax dan Pertamax Plus itu kan supaya masyarakat punya banyak pilihan," paparnya.
Ia memastikan BBM yang dijual dari depot BBM Pertamina sudah sesuai dengan spesfikasi yang ditetapkan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas). Kualitas BBM bersubsidi yang dijual juga telah dikontrol oleh pemerintah untuk menjaga mutu BBM Pertamina melalui rangkaian quality control dengan melakukan completed test mulai dari kilang sampai ke instalasi atau depot BBM.
Sementara di instalasi atau depot daily dilakukan short test dan penerimaan di SPBU juga dilakukan short test. Pertamina patuh terhadap quality control yang harus dilakukan sebagai bagian pelaksanaan standard operating prosedur.
"Keluhan konsumen agar dicermati dari aspek teknis material/spare part yang ada dan tidak menjadi domain Pertamina," jelasnya.
Seperti diketahui, sejumlah mobil diketahui mengalami kerusakan fuel pump. Hal itupun lantas memicu kekhawatiran Pertamina telah menurunkan kualitas premium sehingga masyarakat akhirnya terdorong menggunakan Pertamax. Pemerintah sendiri sejauh ini mulai khawatir karena konsumsi BBM bersubsidi termasuk premium dan solar terus meningkat sehingga bisa mengakibatkan tambahan subsidi.
BPH Migas memperkirakan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis premium dan solar pada tahun 2011, akan melonjak 3-4 persen dari proyeksi konsumsi pada tahun 2010, jika konsumsi BBM bersubsidi tidak dibatasi.
"Untuk premium dan solar naik sekitar 3-4 persen pada tahun depan karena ekonomi terus tumbuh," ujar Tubagus.
Sebelumnya, BPH Migas memperkirakan konsumsi BBM di tanah air pada tahun 2010 akan membengkak sebesar 40,1 juta KL, di mana konsumsi pemium diperkirakan mencapai 3,3 juta KL, konsumsi solar sekitar 13,1 juta KL pada tahun ini.
Namun kalau dilihat dari kuota keseluruhan, bisa saja turun karena konsumsi minyak tanah juga turun seiring dengan keberhasilan program konversi minyak tanah ke elpiji 3 Kg.
Hal ini terlihat dari perkiraan dari BPH mengenai konsumsi minyak tanah yang akan turun 17,28% dari realisasi konsumsi minyak tanah pada tahun 2009 sebesar 4.593.579 KL menjadi 3,8 juta KL di tahun ini.
"Kalau kuota keseluruhan bisa saja turun karena minyah tanah konsumsinya juga turun," jelasnya.
(epi/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 07:03 WIB
Inilah 15 Perusahaan Idaman Mahasiswa Fresh Graduate
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 08:17 WIB
Ada Menara Tertinggi ke-5 di Dunia, Pasar Properti RI Makin Seksi
-
Kamis, 24/05/2012 07:19 WIB
Artha Graha: Tak Ada Kasino di Gedung Tertinggi Tomy Winata
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
36 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
