Tanki SPBU Kotor Diduga Jadi Pemicu Penurunan Kualitas Premium
Selasa, 27/07/2010 17:40 WIB
Jakarta - Hasil pengecekan sementara tim gabungan menunjukkan premium yang dijual sejumlah SPBU sesuai dengan spek yang ditetapkan. Pemerintah menduga kerusakan fuel tank di sejumlah mobil disebabkan karena tanki SPBU yang kotor.
Demikian disampaikan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Kementerian ESDM Evita Herawati Legowo di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (27/7/2010).
"Salah satu kemungkinan besar itu ini di tangki SPBU mungkin kotor atau gimana tangkinya. Tankinya kan harus ada tank cleaning. Tank cleaning-nya ini mungkin harus lebih sering dilakukan," jelasnya.
Evita mengungkapkan, hasil uji sampel premium yang dilakukan tim gabungan pemerintah dan Pertamina di sejumlah SPBU di wilayah Jabodetabek menunjukkan kualitas BBM jenis tersebut sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan pemerintah.
"Jadi kita sudah melakukan tes, tapi belum tuntas. Hari ini kita pergi lagi sama-sama untuk sampling lagi. Itu belum tuntas. Tapi Selama ini dari data yang sudah masuk, menunjukkan ron (research octane number), destilasi, sulfur sudah masuk spek," ujar Evita.
Meski berdasarkan hasil uji yang telah dilakukan, sebagian besar dari 11 parameter yang diuji tersebut menunjukkan hasil yang bagus. Namun tim gabungan yang terdiri dari tim dari Lemigas, BPH Migas dan Pertamina masih melakukan pengecekan ulang di sejumlah SPBU untuk mencari tahu apa sebenarnya penyebab dari rusak pompa bahan bakar (fuel pump) mobil.
"Tapi kita tetap masih ingin mencari penyebabnya. Walaupun untuk sementara kelihatannya BBM yang dijual sesuai spek," tegasnya.
Evita mengatakan, Pertamina sudah mengambil sampelepremium di tujuh lokasi dan pemerintah di empat lokasi. Dari tiap lokasi, lanjutnya, diambil lebih dari satu contoh.
Pemerintah juga tidak hanya melakukan pengecekan premium yang ada di SPBU-SPBU. Namun pengecekan juga dilakukan terhadap spesifikasi BBM saat masiih ada di kilang pengolahan, sebelum premium itu dibawa ke depot Plumpang.
"Kita tidak hanya cek di SPBU lho. Kita juga ngecek dari kilang yang akan dibawa ke sini kita juga cek , termasuk minyak impor yang ditambahkan juga kita cek, juga masuk angkanya. Nah sekarang kita cari biangnya dimana," tegas Evita.
Dalam jangka pendek, lanjut Evita, perubahan angka oktan dari 90 ke 88 tidak menyebabkan kerusakan pompa bahan bakar mobil.
"Kalau perubahan ron terjadi secara jangka panjang itu baru akan merusak mesin. Kalau jangka pendek paling hanya menggelitik kalau ronnya turun," ungkapnya.
Untuk itu, Pemerintah juga akan melakukan pengecekan terhadap bahan bakar yang ada di dalam tangki mobil yang selama ini mengeluhkan mengalami kerusakan.
"Ini juga akan dilakukan, karena di sisi fisik kayanya memang berbeda antara premium di mobil rusak dengan premium yang ada di SPBU," tambahnya.
Saat ditanya soal hasil penelitian laboratorium di Thailand yang menyebutkan kandungan sulfur premium Pertamina melebihi ambang batas, Evita enggan berkomentar.
"Saya belum dapat laporannya," tegasnya.
Seperti diketahui, sejumlah pemilik kendaraan melaporkan kerusakan fuel pump yang diduga akibat penurunan kualitas premium. Dugaan itu muncul karena pemerintah tengah berupaya mengerem penggunaan BBM bersubsidi dan mengalihkannya ke Pertamax.
(epi/qom)
Demikian disampaikan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Kementerian ESDM Evita Herawati Legowo di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (27/7/2010).
"Salah satu kemungkinan besar itu ini di tangki SPBU mungkin kotor atau gimana tangkinya. Tankinya kan harus ada tank cleaning. Tank cleaning-nya ini mungkin harus lebih sering dilakukan," jelasnya.
Evita mengungkapkan, hasil uji sampel premium yang dilakukan tim gabungan pemerintah dan Pertamina di sejumlah SPBU di wilayah Jabodetabek menunjukkan kualitas BBM jenis tersebut sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan pemerintah.
"Jadi kita sudah melakukan tes, tapi belum tuntas. Hari ini kita pergi lagi sama-sama untuk sampling lagi. Itu belum tuntas. Tapi Selama ini dari data yang sudah masuk, menunjukkan ron (research octane number), destilasi, sulfur sudah masuk spek," ujar Evita.
Meski berdasarkan hasil uji yang telah dilakukan, sebagian besar dari 11 parameter yang diuji tersebut menunjukkan hasil yang bagus. Namun tim gabungan yang terdiri dari tim dari Lemigas, BPH Migas dan Pertamina masih melakukan pengecekan ulang di sejumlah SPBU untuk mencari tahu apa sebenarnya penyebab dari rusak pompa bahan bakar (fuel pump) mobil.
"Tapi kita tetap masih ingin mencari penyebabnya. Walaupun untuk sementara kelihatannya BBM yang dijual sesuai spek," tegasnya.
Evita mengatakan, Pertamina sudah mengambil sampelepremium di tujuh lokasi dan pemerintah di empat lokasi. Dari tiap lokasi, lanjutnya, diambil lebih dari satu contoh.
Pemerintah juga tidak hanya melakukan pengecekan premium yang ada di SPBU-SPBU. Namun pengecekan juga dilakukan terhadap spesifikasi BBM saat masiih ada di kilang pengolahan, sebelum premium itu dibawa ke depot Plumpang.
"Kita tidak hanya cek di SPBU lho. Kita juga ngecek dari kilang yang akan dibawa ke sini kita juga cek , termasuk minyak impor yang ditambahkan juga kita cek, juga masuk angkanya. Nah sekarang kita cari biangnya dimana," tegas Evita.
Dalam jangka pendek, lanjut Evita, perubahan angka oktan dari 90 ke 88 tidak menyebabkan kerusakan pompa bahan bakar mobil.
"Kalau perubahan ron terjadi secara jangka panjang itu baru akan merusak mesin. Kalau jangka pendek paling hanya menggelitik kalau ronnya turun," ungkapnya.
Untuk itu, Pemerintah juga akan melakukan pengecekan terhadap bahan bakar yang ada di dalam tangki mobil yang selama ini mengeluhkan mengalami kerusakan.
"Ini juga akan dilakukan, karena di sisi fisik kayanya memang berbeda antara premium di mobil rusak dengan premium yang ada di SPBU," tambahnya.
Saat ditanya soal hasil penelitian laboratorium di Thailand yang menyebutkan kandungan sulfur premium Pertamina melebihi ambang batas, Evita enggan berkomentar.
"Saya belum dapat laporannya," tegasnya.
Seperti diketahui, sejumlah pemilik kendaraan melaporkan kerusakan fuel pump yang diduga akibat penurunan kualitas premium. Dugaan itu muncul karena pemerintah tengah berupaya mengerem penggunaan BBM bersubsidi dan mengalihkannya ke Pertamax.
(epi/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 07:03 WIB
Inilah 15 Perusahaan Idaman Mahasiswa Fresh Graduate
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 08:17 WIB
Ada Menara Tertinggi ke-5 di Dunia, Pasar Properti RI Makin Seksi
-
Kamis, 24/05/2012 07:19 WIB
Artha Graha: Tak Ada Kasino di Gedung Tertinggi Tomy Winata
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
36 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
