PT Sarana Multi Infrastruktur Kritis, Kekurangan Dana
Kamis, 19/08/2010 10:02 WIB
Jakarta - PT Sarana Multi Infrastruktur (persero) butuh suntikan dana segar dari pemerintah. Pasalnya, perusahaan baru ini dalam kondisi seret likuiditas karena kekurangan dana. Padahal lembaga ini didirikan untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur.
Presiden Direktur SMI Emma Sri Martini akui dana operasional perusahaan hanya bersisa sekitar dari Rp 300 miliar di kas SMI.
"Itu karena Rp 1 triliun yang diberikan pemerintah, sebesar Rp 600 miliar sudah disuntikkan untuk join mendirikan PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF)," ujar Emma di Kantor SMI Menara BRI II, Jakarta, Rabu (18/8/2010).
Sedangkan sisanya sekitar Rp 400 miliar, lanjut Emma, sampai Agustus ini, sudah keluar Rp 165 untuk komitmen pembiayaan bagi empat debitur. Sementara dana sebesar Rp 100 miliar yang merupakan dana equity likuiditas perusahaan tidak bisa digunakan untuk membiayai proyek infrastruktur.
Oleh sebab itu, Emma menyatakan pihaknya telah mengajukan ke pemerintah untuk mendapat dana tambahan Rp 1 triliun dari APBN-P 2010.
"Karena dalam kondisi sekarang, perusahaan benar-bener seret likuiditas. Mudah-mudahan disetujui karena sebetulnya dengan kondisi sekarang kami kesulitan, tidak bisa banyak berkutik," keluhnya.
Emma menyatakan kalaupun perusahaannya akan menerbitkan obligasi sendiri untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur, hal itu belum dapat dilakukan mengingat kondisi perusahaan belum memungkinkan. Pasalnya, PT SMI ini baru berdiri pada Februari 2009 dan resmi beroperasi sejak Oktober 2009.
"Pricingnya akan berat ke kami," katanya. Mungkin beberapa tahun lagi kami bisa meng-issue bond (obligasi). Karena kalau pada saat sekarang portofolio kami belum jangka panjang dan belum siap," jelasnya.
Hingga akhir tahun ini, lanjut Emma, berdasarkan ketersediaan dana yang ada PT SMI memiliki target untuk memberikan komitmen pembiayaan langsung kepada beberapa proyek infrastruktur sebesar Rp 300 miliar.
Tak Mampu Biayai Proyek Rp 6,26 Triliun
Kondisi kering likuiditas yang dialami PT SMI membuatnya tak mampu berbuat banyak dalam membiayai infrastruktur. Padahal PT SMI telah ditawari sejumlah proyek besar dengan nilai pembiayaan Rp 6,26 triliun.
Direktur PT SMI Frans N. Sukardi mengatakan proyek-proyek yang masuk itu mencakup tujuh jenis usaha yakni pembangkit listrik, pelabuhan, jalan tol, air bersih, kontraktor, rel kereta api, minyak dan gas bumi. Total tujuh jenis usaha yang masuk itu, lanjutnya, secara keseluruhan nilainya mencapai Rp 39,8 triliun.
"Total estimasi pembiayaan porsi PT SMI adalah sebesar Rp 6,26 triliun," kata Frans.
Frans menyebutkan, dari tujuh jenis usaha yang masuk itu, total jumlah proyeknya yang ditawarkan sebanyak 45 proyek. Terbesar jumlah proyek itu adalah untuk pembangkit listrik sebanyak 25 proyek senilai Rp 8,19 triliun. Namun dari perkiraan nilai proyek pembangkit listrik itu, SMI diperkirakan hanya bisa membiayai sekitar Rp 2,7 triliun.
Frans menilai kecilnya pembiayaan SMI ini karena sumber dana SMI memang masih minimal. Dari estimasi Rp 6,26 triliun, ujar Frans, sampai 2011 mendatang SMI hanya sanggup membiayai sekitar Rp 1 triliun. Untuk saat ini, lanjutnya, SMI masih mempelajari sampai sejauh mana kesiapan proyek-proyek itu benar-benar bisa dibiayai.
"Tidak hanya mengukur pada risiko proyek yang akan digarap, tapi nilai sosial ekonomi bagaimana, dampak ke masyarakat bagaimana, itu juga kami perhitungkan," pungkasnya.
(nia/dnl)
Presiden Direktur SMI Emma Sri Martini akui dana operasional perusahaan hanya bersisa sekitar dari Rp 300 miliar di kas SMI.
"Itu karena Rp 1 triliun yang diberikan pemerintah, sebesar Rp 600 miliar sudah disuntikkan untuk join mendirikan PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF)," ujar Emma di Kantor SMI Menara BRI II, Jakarta, Rabu (18/8/2010).
Sedangkan sisanya sekitar Rp 400 miliar, lanjut Emma, sampai Agustus ini, sudah keluar Rp 165 untuk komitmen pembiayaan bagi empat debitur. Sementara dana sebesar Rp 100 miliar yang merupakan dana equity likuiditas perusahaan tidak bisa digunakan untuk membiayai proyek infrastruktur.
Oleh sebab itu, Emma menyatakan pihaknya telah mengajukan ke pemerintah untuk mendapat dana tambahan Rp 1 triliun dari APBN-P 2010.
"Karena dalam kondisi sekarang, perusahaan benar-bener seret likuiditas. Mudah-mudahan disetujui karena sebetulnya dengan kondisi sekarang kami kesulitan, tidak bisa banyak berkutik," keluhnya.
Emma menyatakan kalaupun perusahaannya akan menerbitkan obligasi sendiri untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur, hal itu belum dapat dilakukan mengingat kondisi perusahaan belum memungkinkan. Pasalnya, PT SMI ini baru berdiri pada Februari 2009 dan resmi beroperasi sejak Oktober 2009.
"Pricingnya akan berat ke kami," katanya. Mungkin beberapa tahun lagi kami bisa meng-issue bond (obligasi). Karena kalau pada saat sekarang portofolio kami belum jangka panjang dan belum siap," jelasnya.
Hingga akhir tahun ini, lanjut Emma, berdasarkan ketersediaan dana yang ada PT SMI memiliki target untuk memberikan komitmen pembiayaan langsung kepada beberapa proyek infrastruktur sebesar Rp 300 miliar.
Tak Mampu Biayai Proyek Rp 6,26 Triliun
Kondisi kering likuiditas yang dialami PT SMI membuatnya tak mampu berbuat banyak dalam membiayai infrastruktur. Padahal PT SMI telah ditawari sejumlah proyek besar dengan nilai pembiayaan Rp 6,26 triliun.
Direktur PT SMI Frans N. Sukardi mengatakan proyek-proyek yang masuk itu mencakup tujuh jenis usaha yakni pembangkit listrik, pelabuhan, jalan tol, air bersih, kontraktor, rel kereta api, minyak dan gas bumi. Total tujuh jenis usaha yang masuk itu, lanjutnya, secara keseluruhan nilainya mencapai Rp 39,8 triliun.
"Total estimasi pembiayaan porsi PT SMI adalah sebesar Rp 6,26 triliun," kata Frans.
Frans menyebutkan, dari tujuh jenis usaha yang masuk itu, total jumlah proyeknya yang ditawarkan sebanyak 45 proyek. Terbesar jumlah proyek itu adalah untuk pembangkit listrik sebanyak 25 proyek senilai Rp 8,19 triliun. Namun dari perkiraan nilai proyek pembangkit listrik itu, SMI diperkirakan hanya bisa membiayai sekitar Rp 2,7 triliun.
Frans menilai kecilnya pembiayaan SMI ini karena sumber dana SMI memang masih minimal. Dari estimasi Rp 6,26 triliun, ujar Frans, sampai 2011 mendatang SMI hanya sanggup membiayai sekitar Rp 1 triliun. Untuk saat ini, lanjutnya, SMI masih mempelajari sampai sejauh mana kesiapan proyek-proyek itu benar-benar bisa dibiayai.
"Tidak hanya mengukur pada risiko proyek yang akan digarap, tapi nilai sosial ekonomi bagaimana, dampak ke masyarakat bagaimana, itu juga kami perhitungkan," pungkasnya.
(nia/dnl)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 22:03 WIB
Ngirit Anggaran, SBY Minta Menteri Menginap di Gedung Negara
-
Jumat, 25/05/2012 21:16 WIB
Berusia 20 Tahun, Bank Muamalat Ganti Logo
-
Jumat, 25/05/2012 21:10 WIB
Wah! SBY Rahasiakan Bentuk Mobil Listrik Made in Indonesia
-
Jumat, 25/05/2012 21:04 WIB
SBY Tak Mau Gas RI Diborong ke Luar Negeri
-
Jumat, 25/05/2012 20:56 WIB
Mulai 2013 Palu-Parigi Terhubung Jalan Lintas 35 Km
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Puluhan Merek Pakaian Kelas Dunia Ternyata Made in Bandung
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
Jumat, 25/05/2012 08:17 WIB
Pemerintah Jalankan Program Pensiun Dini PNS Tahun Ini
-
Jumat, 25/05/2012 07:09 WIB
Kisah Pertarungan Bandar & Penjudi Curang di Kasino Moderen
-
Jumat, 25/05/2012 13:03 WIB
Agus Marto: Hanya RI & Arab Saudi yang Mampu Hadapi Krisis Eropa
-
65 Komentar
-
55 Komentar
-
42 Komentar
-
40 Komentar
-
37 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
