DPR: Pengawasan Bank Tak Independen Kalau di Bawah BI
Senin, 23/08/2010 15:09 WIB
Jakarta - Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) memandang usulan yang disampaikan Bank Indonesia (BI) mengenai skema pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tidak independen. Padahal pembentukan OJK pada dasarnya untuk membangun independensi dari lembaga pengawas jasa keuangan.
Demikian diungkapkan oleh Ketua Pansus OJK Nusron Wahid usai Rapat Dengar Pendapat Umum dengan Bank Indonesia di Gedung DPR-RI, Senayan, Jakarta, Senin (23/08/2010).
"Kita itu pada dasarnya ingin memisahkan dimensi moneter dan perbankan, tapi melihat usulan BI itu sama saja. Pengawasan masih di bawah BI, bagaimana mungkin bisa dibilang independen," ujar Nusron.
Menurutnya, jika pengawasan masih di bawah Gubernur BI maka bank sentral tidak akan bisa untuk mementingkan kepentingan moneter.
"Namun karena merupakan usulan kita pasti menerima apakah nantinya diterapkan atau tidak akan direnungkan kembali. Intinya usulan tersebut akan menjadi bahan masukan bagi DPR," ungkap Nusron.
Lebih lanjut Nusron mengatakan, ada hal yang positif dari pembicaraan dengan BI. Antara lain, lanjut Nusron yakni pentingnya interkoneksitas antara BI dengan lembaga-lembaga perbankan.
"Tapi yang jadi pertanyaan adalah kenapa yang diinginkan BI hanya lembaga perbankan saja, padahal masih banyak kepentingan bank sentral untuk operasi moneter, stabilisasi rupiah hingga sistem pembayaran," tuturnya.
Hal tersebut, sambung Nusron akhirnya membuat adanya salah tafsir di mana BI tidak ingin kehilangan otoritas perbankannya sehingga berdalih dengan badan otonom seperti Dewan Pengawas Perbankan.
"Jika poinnya adalah interkoneksi, kan di OJK pasti BI diberi kewenangan untuk interkoneksi jadi tidak putus hubungan dengan bank," ungkapnya.
Ditempat yang sama Deputi Gubernur BI Muliaman D Hadad menegaskan jika peran Dewan Pengawas Bank yang diusulkan BI sangat independen.
"Itu sangat independen (Dewan Pengawas Bank), dan tidak ada conflict interest karena pengawasan berada other side Dewan Gubernur," ungkap Muliaman.
Ia menuturkan adanya Dewan Pengawas Perbankan secara terpisah di BI akan membuat pengawas lebih independen di mana akan menjalankan fungsinya sendiri karena telah keluar dari Dewan Gubernur. "Pengawasan keluar dari Dewan Gubernur, dan intinya kita punya pengawas sendiri," tukasnya.
(dru/dnl)
Demikian diungkapkan oleh Ketua Pansus OJK Nusron Wahid usai Rapat Dengar Pendapat Umum dengan Bank Indonesia di Gedung DPR-RI, Senayan, Jakarta, Senin (23/08/2010).
"Kita itu pada dasarnya ingin memisahkan dimensi moneter dan perbankan, tapi melihat usulan BI itu sama saja. Pengawasan masih di bawah BI, bagaimana mungkin bisa dibilang independen," ujar Nusron.
Menurutnya, jika pengawasan masih di bawah Gubernur BI maka bank sentral tidak akan bisa untuk mementingkan kepentingan moneter.
"Namun karena merupakan usulan kita pasti menerima apakah nantinya diterapkan atau tidak akan direnungkan kembali. Intinya usulan tersebut akan menjadi bahan masukan bagi DPR," ungkap Nusron.
Lebih lanjut Nusron mengatakan, ada hal yang positif dari pembicaraan dengan BI. Antara lain, lanjut Nusron yakni pentingnya interkoneksitas antara BI dengan lembaga-lembaga perbankan.
"Tapi yang jadi pertanyaan adalah kenapa yang diinginkan BI hanya lembaga perbankan saja, padahal masih banyak kepentingan bank sentral untuk operasi moneter, stabilisasi rupiah hingga sistem pembayaran," tuturnya.
Hal tersebut, sambung Nusron akhirnya membuat adanya salah tafsir di mana BI tidak ingin kehilangan otoritas perbankannya sehingga berdalih dengan badan otonom seperti Dewan Pengawas Perbankan.
"Jika poinnya adalah interkoneksi, kan di OJK pasti BI diberi kewenangan untuk interkoneksi jadi tidak putus hubungan dengan bank," ungkapnya.
Ditempat yang sama Deputi Gubernur BI Muliaman D Hadad menegaskan jika peran Dewan Pengawas Bank yang diusulkan BI sangat independen.
"Itu sangat independen (Dewan Pengawas Bank), dan tidak ada conflict interest karena pengawasan berada other side Dewan Gubernur," ungkap Muliaman.
Ia menuturkan adanya Dewan Pengawas Perbankan secara terpisah di BI akan membuat pengawas lebih independen di mana akan menjalankan fungsinya sendiri karena telah keluar dari Dewan Gubernur. "Pengawasan keluar dari Dewan Gubernur, dan intinya kita punya pengawas sendiri," tukasnya.
(dru/dnl)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 22:03 WIB
Ngirit Anggaran, SBY Minta Menteri Menginap di Gedung Negara
-
Jumat, 25/05/2012 21:16 WIB
Berusia 20 Tahun, Bank Muamalat Ganti Logo
-
Jumat, 25/05/2012 21:10 WIB
Wah! SBY Rahasiakan Bentuk Mobil Listrik Made in Indonesia
-
Jumat, 25/05/2012 21:04 WIB
SBY Tak Mau Gas RI Diborong ke Luar Negeri
-
Jumat, 25/05/2012 20:56 WIB
Mulai 2013 Palu-Parigi Terhubung Jalan Lintas 35 Km
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Puluhan Merek Pakaian Kelas Dunia Ternyata Made in Bandung
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
Jumat, 25/05/2012 08:17 WIB
Pemerintah Jalankan Program Pensiun Dini PNS Tahun Ini
-
Jumat, 25/05/2012 07:09 WIB
Kisah Pertarungan Bandar & Penjudi Curang di Kasino Moderen
-
Jumat, 25/05/2012 13:03 WIB
Agus Marto: Hanya RI & Arab Saudi yang Mampu Hadapi Krisis Eropa
-
65 Komentar
-
55 Komentar
-
42 Komentar
-
40 Komentar
-
37 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
