BI Diimbau Jangan Terlena Pertahankan BI Rate
Senin, 23/08/2010 17:50 WIB
Jakarta - Bank Indonesia (BI) diimbau tidak tidak terlambat menaikkan suku bunga acuan alias BI Rate karena terlena dengan kondisi ekonomi dalam negeri saat ini. Idealnya, BI Rate bisa naik 50 basis poin ke 7%.
Ekonom PT Bank Mandiri Tbk Mirza Adityaswara menjelaskan, BI Rate sebaiknya bisa naik tahun ini. Kenaikannya bisa dilakukan secara bertahap masing-masing 25 basis poin hingga menyentuh 7%.
"BI jangan terlambat naikkan suku bunga. Memang masih perdebatan apakah naik sekarang atau tunggu pertumbuhan ekonomi tembus 6 persen, tetapi jangan sampai terlambat karena akan menyebabkan terjadinya koreksi di investor asing," ujarnya di kantornya, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin (23/8/2010).
Mirza menambahkan, memang saat ini pertumbuhan ekonomi dan inflasi di Indonesia terjaga dengan baik. Namun, tanpa disadari pertumbuhan impor dan utang luar negeri juga terus menanjak.
"Kita banyak dipuji jadi lupa diri tidak melakukan prudent action. Salah satunya lupa menaikkan suku bunga," ujarnya.
Menurut Mirza, tingginya impor tersebut bisa mengakibatkan defisit pada neraca perdagangan. Selain itu, dengan target pertumbuhan ekonomi maka diperkirakan inflasi bisa lebih tinggi lagi.
"Infrastruktur kita tidak cukup, begitu pertumbuhan ekonomi 6 persen inflasi langsung tinggi. Tidak mudah mengendalikan inflasi tanpa tingkat suku bunga yang tepat," ujarnya.
Meski demikian, ia mengakui secara politik rencana BI menaikkan suku bunga adalah hal yang sulit dilakukan.
"Secara politis, BI masih ragu-ragu," jelasnya.
Jika inflasi kembali tinggi pada tahun depan, Mirza menilai bank sentral harus kembali menaikkan suku bunga acuan. Ia menambahkan, negara yang belum menaikkan suku bunga adalah negara yang masih dalam resesi, seperti Amerika, Inggris dan beberapa negara lainnya di Eropa.
Sementara Indonesia yang berada di Asia merupakan negara yang sudah keluar dari masa krisis.
"Di Asia itu Singapura, Malaysia, Thailand dan bahkan Australia sudah menaikkan suku bunganya," ucapnya.
Mirza mengatakan, tingginya inflasi bulan lalu didorong oleh tingginya permintaan, dengan demikian harus direspon secara moneter oleh pemerintah. Pemerintah juga harus menjaga kepercayaan investor asing melalui secara prudent menjaga tingkat inflasi sehingga tidak banyak capital outflow.
(ang/qom)
Ekonom PT Bank Mandiri Tbk Mirza Adityaswara menjelaskan, BI Rate sebaiknya bisa naik tahun ini. Kenaikannya bisa dilakukan secara bertahap masing-masing 25 basis poin hingga menyentuh 7%.
"BI jangan terlambat naikkan suku bunga. Memang masih perdebatan apakah naik sekarang atau tunggu pertumbuhan ekonomi tembus 6 persen, tetapi jangan sampai terlambat karena akan menyebabkan terjadinya koreksi di investor asing," ujarnya di kantornya, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin (23/8/2010).
Mirza menambahkan, memang saat ini pertumbuhan ekonomi dan inflasi di Indonesia terjaga dengan baik. Namun, tanpa disadari pertumbuhan impor dan utang luar negeri juga terus menanjak.
"Kita banyak dipuji jadi lupa diri tidak melakukan prudent action. Salah satunya lupa menaikkan suku bunga," ujarnya.
Menurut Mirza, tingginya impor tersebut bisa mengakibatkan defisit pada neraca perdagangan. Selain itu, dengan target pertumbuhan ekonomi maka diperkirakan inflasi bisa lebih tinggi lagi.
"Infrastruktur kita tidak cukup, begitu pertumbuhan ekonomi 6 persen inflasi langsung tinggi. Tidak mudah mengendalikan inflasi tanpa tingkat suku bunga yang tepat," ujarnya.
Meski demikian, ia mengakui secara politik rencana BI menaikkan suku bunga adalah hal yang sulit dilakukan.
"Secara politis, BI masih ragu-ragu," jelasnya.
Jika inflasi kembali tinggi pada tahun depan, Mirza menilai bank sentral harus kembali menaikkan suku bunga acuan. Ia menambahkan, negara yang belum menaikkan suku bunga adalah negara yang masih dalam resesi, seperti Amerika, Inggris dan beberapa negara lainnya di Eropa.
Sementara Indonesia yang berada di Asia merupakan negara yang sudah keluar dari masa krisis.
"Di Asia itu Singapura, Malaysia, Thailand dan bahkan Australia sudah menaikkan suku bunganya," ucapnya.
Mirza mengatakan, tingginya inflasi bulan lalu didorong oleh tingginya permintaan, dengan demikian harus direspon secara moneter oleh pemerintah. Pemerintah juga harus menjaga kepercayaan investor asing melalui secara prudent menjaga tingkat inflasi sehingga tidak banyak capital outflow.
(ang/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 22:03 WIB
Ngirit Anggaran, SBY Minta Menteri Menginap di Gedung Negara
-
Jumat, 25/05/2012 21:16 WIB
Berusia 20 Tahun, Bank Muamalat Ganti Logo
-
Jumat, 25/05/2012 21:10 WIB
Wah! SBY Rahasiakan Bentuk Mobil Listrik Made in Indonesia
-
Jumat, 25/05/2012 21:04 WIB
SBY Tak Mau Gas RI Diborong ke Luar Negeri
-
Jumat, 25/05/2012 20:56 WIB
Mulai 2013 Palu-Parigi Terhubung Jalan Lintas 35 Km
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Puluhan Merek Pakaian Kelas Dunia Ternyata Made in Bandung
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
Jumat, 25/05/2012 08:17 WIB
Pemerintah Jalankan Program Pensiun Dini PNS Tahun Ini
-
Jumat, 25/05/2012 07:09 WIB
Kisah Pertarungan Bandar & Penjudi Curang di Kasino Moderen
-
Jumat, 25/05/2012 13:03 WIB
Agus Marto: Hanya RI & Arab Saudi yang Mampu Hadapi Krisis Eropa
-
65 Komentar
-
55 Komentar
-
42 Komentar
-
40 Komentar
-
37 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
