Kerugian Tumpahan Minyak di Laut Timor Bengkak Jadi Rp 22 Triliun
Kamis, 26/08/2010 11:31 WIB
Jakarta - Pemerintah menegaskan klaim kepada PT TEP atas kasus tumpahan minyak di perairan Laut Timor akibat ledakan kilang minyak Montara membengkak jadi sebesar Rp 22 triliun. Angka ini berdasarkan perhitungan akurat dan Sudah sepatutnya, PT TEP mengganti semua kerugian tersebut.
"Perusahaan itu harus tanggung jawab, bikin lingkungan rusak kok. Berapa pun yang kita ajukan, dia harus setuju karena kita kan punya data dan kita punya fakta. Dan data-data kita itu sudah secara ilmiah diuraikan. Jadi buat saya, kalau perusahaan menolak itu keliru besar," kata Menteri Perhubungan Freddy Numberi saat ditemui di Kantor Menko Perekonomian, Lapangan Banteng, Jakarta, (26/8/2010).
Untuk itu, lanjut Fredy, pihaknya akan membahas tuntas masalah tersebut pada hari ini di Australia.
"Mereka tim sudah disana dan sekarang lagi bahas dengan tim itu. Hari ini keputusannya keluar. Dan mereka tidak boleh menolak. Masa mereka sudah melakukan kontaminasi gak mau bayar. Dan Australia juga kan dirugikan, mereka pun mengajukan klaim," ujarnya.
Freddy menyatakan perhitungan kerugian tersebut berdasarkan luas daerah yang terkontaminasi dan kerugian masyarakat sekitar karena tidak bisa melaut.
"Ada beberapa item, seperti lingkungan terus masyarakat yang dirugikan tidak bisa melaut lagi. Dikasih alternatif apa-apanya itu. Itu ada hitungannya," jelasnya.
Jika sudah dibayarkan, Freddy menyatakan pemerintah akan turun langsung untuk segera memulihkan lingkungan yang terkontaminasi tumpahan minyak.
"Kita ada prosedurnya. Pemerintah ingin, kita kalau bisa langsung turun ke masyarakat. Misalnya untuk lingkungan kan recovery lingkungan ada caranya. Misalnya bagaimana kita lakukan dua remediasi sehingga bisa lebih cepat proses dari pada pemulihan," ujarnya.
Yang jelas, Freddy menegaskan kerugian tersebut tetap harus dibayar walaupun kerugian tersebut bisa dikatakan cukup besar.
"Saya sudah bilang begitu tuntas, harus ditekan perusahaan itu bahwa anda melakukan polusi di laut Indonesia. Artinya laut kita terkontaminasi dan Anda harus bayar, kan data yang kita kasih itu data akurat dan akurasinya bisa dipertanggungjawabkan. Bukan kita asal bikin data saja. Kita ajukan cukup besar memang diatas Rp 22 triliun," tandasnya.
Sebelumnya, Kementerian Perhubungan menaksir kerugian atas tumpahan minyak itu sebanyak lebih dari Rp 10 triliun. Namun, setelah dilakukan penghitungan secara pasti angkanya membengkak menjadi Rp 22 triliun.
(nia/ang)
"Perusahaan itu harus tanggung jawab, bikin lingkungan rusak kok. Berapa pun yang kita ajukan, dia harus setuju karena kita kan punya data dan kita punya fakta. Dan data-data kita itu sudah secara ilmiah diuraikan. Jadi buat saya, kalau perusahaan menolak itu keliru besar," kata Menteri Perhubungan Freddy Numberi saat ditemui di Kantor Menko Perekonomian, Lapangan Banteng, Jakarta, (26/8/2010).
Untuk itu, lanjut Fredy, pihaknya akan membahas tuntas masalah tersebut pada hari ini di Australia.
"Mereka tim sudah disana dan sekarang lagi bahas dengan tim itu. Hari ini keputusannya keluar. Dan mereka tidak boleh menolak. Masa mereka sudah melakukan kontaminasi gak mau bayar. Dan Australia juga kan dirugikan, mereka pun mengajukan klaim," ujarnya.
Freddy menyatakan perhitungan kerugian tersebut berdasarkan luas daerah yang terkontaminasi dan kerugian masyarakat sekitar karena tidak bisa melaut.
"Ada beberapa item, seperti lingkungan terus masyarakat yang dirugikan tidak bisa melaut lagi. Dikasih alternatif apa-apanya itu. Itu ada hitungannya," jelasnya.
Jika sudah dibayarkan, Freddy menyatakan pemerintah akan turun langsung untuk segera memulihkan lingkungan yang terkontaminasi tumpahan minyak.
"Kita ada prosedurnya. Pemerintah ingin, kita kalau bisa langsung turun ke masyarakat. Misalnya untuk lingkungan kan recovery lingkungan ada caranya. Misalnya bagaimana kita lakukan dua remediasi sehingga bisa lebih cepat proses dari pada pemulihan," ujarnya.
Yang jelas, Freddy menegaskan kerugian tersebut tetap harus dibayar walaupun kerugian tersebut bisa dikatakan cukup besar.
"Saya sudah bilang begitu tuntas, harus ditekan perusahaan itu bahwa anda melakukan polusi di laut Indonesia. Artinya laut kita terkontaminasi dan Anda harus bayar, kan data yang kita kasih itu data akurat dan akurasinya bisa dipertanggungjawabkan. Bukan kita asal bikin data saja. Kita ajukan cukup besar memang diatas Rp 22 triliun," tandasnya.
Sebelumnya, Kementerian Perhubungan menaksir kerugian atas tumpahan minyak itu sebanyak lebih dari Rp 10 triliun. Namun, setelah dilakukan penghitungan secara pasti angkanya membengkak menjadi Rp 22 triliun.
(nia/ang)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 07:09 WIB
Kisah Pertarungan Bandar & Penjudi Curang di Kasino Moderen
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 07:03 WIB
Inilah 15 Perusahaan Idaman Mahasiswa Fresh Graduate
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 08:17 WIB
Ada Menara Tertinggi ke-5 di Dunia, Pasar Properti RI Makin Seksi
-
Kamis, 24/05/2012 07:19 WIB
Artha Graha: Tak Ada Kasino di Gedung Tertinggi Tomy Winata
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
36 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
