Riset MarkPlus Insight & Marketeers
Netizen Mau, Tapi Citizen Belum Tentu
Kamis, 26/08/2010 12:38 WIB
Jakarta - Warga negara di suatu wilayah selalu punya hak dan kewajiban yang lebih dari non-citizen. Mereka merasa berhak untuk menentukan aturan main di wilayah mereka sendiri.
Karena itu mereka memerintah sebagai eksekutif, mengawasi sebagai legislatif dan mengadili sebagai yudikatif. Tidak hanya untuk cangkupan negara, tapi juga bisa berlaku untuk sebuah kota atau bahkan desa sekalipun.
Karena itu juga Citizen merasa dominan dibanding Non-Citizen. Citizen mengorganisir wilayahnya karena mereka merasa yang punya. Citizen bangga akan ke-lokal-an mereka.
Mereka bahkan dengan jelas membuat simbol simbol identitas, seperti bahasa, bendera, lagu kebangsaan dan sebagainya. Mereka berusaha memisahkan diri dan menjaga jarak dari Citizen dari wilayah lain.
Perang antar wilayah gampang terjadi karena masing-masing memang menciptakan perbedaan. Tapi, paradigma seperti ini jadi runtuh ketika Teknologi New Wave datang. Di dunia baru yang horisontal ini mendadak terjadi pembalikan aturan main. Mendadak saja, Netizen sudah tidak peduli lagi akan perbedaan vertikal dalam bentuk status, usia, pangkat, jabatan, bangsa, suku bahkan agama!
Kesempatan berkomunikasi secara many-to-many membuat Netizen yang berasal dari berbagai Citizen itu jadi satu komunitas super. Mereka bahkan membuat aturan baru yang bersifat inklusif dan terbuka. Mereka pun memasuki wilayah Citizen untuk turut campur dalam masalah yang mereka anggap tidak fair baik, demi kemanusiaan maupun keplanetan.
Netizen memang bisa berdebat secara "deep and wide" karena dimungkinkan teknologi, tapi mereka lebih cenderung untuk mengkoreksi satu sama lain. Saya mengatakan bahwa Netizen bahkan mampu "organizing the heart," karena mereka bisa merasakan tanpa bertemu.
Netizen memang sering lebih emosional ketimbang Citizen dalam membahas sesuatu. Tapi justru di sana lah kekuatan Netizen untuk menjadi "Heart of the World." Tidak semua Citizen, bisa jadi Netizen karena sifatnya yang sangat berbeda. Tapi semakin kelihatan bahwa Citizen yang lokal semakin terdesak oleh Netizen yang global! Citizen yang bersifat off-line memang sudah sangat membutuhkan Netizen yang on-line.
Join the conversation on facebook.com/TheMarketeers atau Twitter di @the_Marketeers
(qom/qom)
Karena itu mereka memerintah sebagai eksekutif, mengawasi sebagai legislatif dan mengadili sebagai yudikatif. Tidak hanya untuk cangkupan negara, tapi juga bisa berlaku untuk sebuah kota atau bahkan desa sekalipun.
Karena itu juga Citizen merasa dominan dibanding Non-Citizen. Citizen mengorganisir wilayahnya karena mereka merasa yang punya. Citizen bangga akan ke-lokal-an mereka.
Mereka bahkan dengan jelas membuat simbol simbol identitas, seperti bahasa, bendera, lagu kebangsaan dan sebagainya. Mereka berusaha memisahkan diri dan menjaga jarak dari Citizen dari wilayah lain.
Perang antar wilayah gampang terjadi karena masing-masing memang menciptakan perbedaan. Tapi, paradigma seperti ini jadi runtuh ketika Teknologi New Wave datang. Di dunia baru yang horisontal ini mendadak terjadi pembalikan aturan main. Mendadak saja, Netizen sudah tidak peduli lagi akan perbedaan vertikal dalam bentuk status, usia, pangkat, jabatan, bangsa, suku bahkan agama!
Kesempatan berkomunikasi secara many-to-many membuat Netizen yang berasal dari berbagai Citizen itu jadi satu komunitas super. Mereka bahkan membuat aturan baru yang bersifat inklusif dan terbuka. Mereka pun memasuki wilayah Citizen untuk turut campur dalam masalah yang mereka anggap tidak fair baik, demi kemanusiaan maupun keplanetan.
Netizen memang bisa berdebat secara "deep and wide" karena dimungkinkan teknologi, tapi mereka lebih cenderung untuk mengkoreksi satu sama lain. Saya mengatakan bahwa Netizen bahkan mampu "organizing the heart," karena mereka bisa merasakan tanpa bertemu.
Netizen memang sering lebih emosional ketimbang Citizen dalam membahas sesuatu. Tapi justru di sana lah kekuatan Netizen untuk menjadi "Heart of the World." Tidak semua Citizen, bisa jadi Netizen karena sifatnya yang sangat berbeda. Tapi semakin kelihatan bahwa Citizen yang lokal semakin terdesak oleh Netizen yang global! Citizen yang bersifat off-line memang sudah sangat membutuhkan Netizen yang on-line.
Join the conversation on facebook.com/TheMarketeers atau Twitter di @the_Marketeers
(qom/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 22:03 WIB
Ngirit Anggaran, SBY Minta Menteri Menginap di Gedung Negara
-
Jumat, 25/05/2012 21:16 WIB
Berusia 20 Tahun, Bank Muamalat Ganti Logo
-
Jumat, 25/05/2012 21:10 WIB
Wah! SBY Rahasiakan Bentuk Mobil Listrik Made in Indonesia
-
Jumat, 25/05/2012 21:04 WIB
SBY Tak Mau Gas RI Diborong ke Luar Negeri
-
Jumat, 25/05/2012 20:56 WIB
Mulai 2013 Palu-Parigi Terhubung Jalan Lintas 35 Km
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Puluhan Merek Pakaian Kelas Dunia Ternyata Made in Bandung
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
Jumat, 25/05/2012 08:17 WIB
Pemerintah Jalankan Program Pensiun Dini PNS Tahun Ini
-
Jumat, 25/05/2012 07:09 WIB
Kisah Pertarungan Bandar & Penjudi Curang di Kasino Moderen
-
Jumat, 25/05/2012 13:03 WIB
Agus Marto: Hanya RI & Arab Saudi yang Mampu Hadapi Krisis Eropa
-
65 Komentar
-
55 Komentar
-
42 Komentar
-
40 Komentar
-
37 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
