TDL Tak Naik, APBN 2011 Harus Menanggung Rp 12,1 Triliun
Selasa, 31/08/2010 10:31 WIB
Jakarta - APBN 2011 harus menanggung subsidi sebesar Rp 12,1 triliun jika Kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) sebesar 15% tidak diberlakukan.
Hal ini diungkapkan Mantan Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Anggito Abimanyu dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XI DPR RI, Jakarta, Senin (30/8/2010) malam.
Beban APBN juga bertambah Rp 2 triliun jika ada kenaikan kenaikan HET Pupuk 10%. Sementara penambahan konsumsi BBM bersubsidi sebanyak 0,5 juta KL akan berdampak sebesar Rp 1,2 triliun ke APBN.
"Ini kan sayang, kalau penerimaan kita dihabiskan untuk membayar subsidi," ujarnya.
Dalam rapat tersebut, Anggito bersama para pengamat ekonomi lainnya memaparkan tanggapan mereka mengenai asumsi makro dalam RAPBN 2010.
Anggito memaparkan untuk pertumbuhan ekonomi pada tahun depan, diperkirakan hanya bisa mencapai level 6,3-6,4%.
"Growth itu, 6,4% batas akhir yang bisa dicapai," ujarnya.
Sedangkan untuk inflasi, di tengah harga beras yang tinggi, Anggito menilai pemerintah dapat mencapai target inflasi pada 5,5%.
"Inflasi yang menjadi persoalan,karena harga beras. Kalau 5,5% tahun ini sudah sangat beruntung. Kalau 5,3% target yang ambisius jadi saya merasa 5,5% yang bisa dipakai," jelasnya.
Untuk SBI 3 bulan, Anggito sependapat dengan pemerintah di angka 6,5%. Sedangkan untuk nilai tukar, dia lebih memilih menurunkan Rp 100 dari asumsi pemerintah yang senilai Rp 9.300 per dolar AS.
"Saya rasa Rp 9.200 masih bisa dipakai," ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, Anggito juga memaparkan sensitivitas asumsi makro/fiskal dalam RAPBN 2011. Menurutnya, setiap pertumbuhan sebesar 0,1% maka dampaknya dalam APBN sebesar Rp 0,7 triliun. Setiap pergerakan nilai tukar Rp 100/US$ maka dampaknya Rp 0,4 triliun. Suku bunga 0,25% dampaknya Rp 0,4 triliun. Harga minyak 1US$ berdampak Rp 0,2 triliun dalam APBN, dan lifting minyak 10 ribu barel/hari akan berdampak Rp 3,2 triliun.
Untuk pergerakan defisit per 0,1% dari PDB akan berdampak sebesar Rp 7 triliun. Sedangkan tax ratio per 0,1% dari PDB juga berdampak sebesar Rp 7 triliun terhadap RAPBN 2011.
"Tax ratio, saya perkirakan bisa 12,1%," tandasnya.
(nia/qom)
Hal ini diungkapkan Mantan Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Anggito Abimanyu dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XI DPR RI, Jakarta, Senin (30/8/2010) malam.
Beban APBN juga bertambah Rp 2 triliun jika ada kenaikan kenaikan HET Pupuk 10%. Sementara penambahan konsumsi BBM bersubsidi sebanyak 0,5 juta KL akan berdampak sebesar Rp 1,2 triliun ke APBN.
"Ini kan sayang, kalau penerimaan kita dihabiskan untuk membayar subsidi," ujarnya.
Dalam rapat tersebut, Anggito bersama para pengamat ekonomi lainnya memaparkan tanggapan mereka mengenai asumsi makro dalam RAPBN 2010.
Anggito memaparkan untuk pertumbuhan ekonomi pada tahun depan, diperkirakan hanya bisa mencapai level 6,3-6,4%.
"Growth itu, 6,4% batas akhir yang bisa dicapai," ujarnya.
Sedangkan untuk inflasi, di tengah harga beras yang tinggi, Anggito menilai pemerintah dapat mencapai target inflasi pada 5,5%.
"Inflasi yang menjadi persoalan,karena harga beras. Kalau 5,5% tahun ini sudah sangat beruntung. Kalau 5,3% target yang ambisius jadi saya merasa 5,5% yang bisa dipakai," jelasnya.
Untuk SBI 3 bulan, Anggito sependapat dengan pemerintah di angka 6,5%. Sedangkan untuk nilai tukar, dia lebih memilih menurunkan Rp 100 dari asumsi pemerintah yang senilai Rp 9.300 per dolar AS.
"Saya rasa Rp 9.200 masih bisa dipakai," ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, Anggito juga memaparkan sensitivitas asumsi makro/fiskal dalam RAPBN 2011. Menurutnya, setiap pertumbuhan sebesar 0,1% maka dampaknya dalam APBN sebesar Rp 0,7 triliun. Setiap pergerakan nilai tukar Rp 100/US$ maka dampaknya Rp 0,4 triliun. Suku bunga 0,25% dampaknya Rp 0,4 triliun. Harga minyak 1US$ berdampak Rp 0,2 triliun dalam APBN, dan lifting minyak 10 ribu barel/hari akan berdampak Rp 3,2 triliun.
Untuk pergerakan defisit per 0,1% dari PDB akan berdampak sebesar Rp 7 triliun. Sedangkan tax ratio per 0,1% dari PDB juga berdampak sebesar Rp 7 triliun terhadap RAPBN 2011.
"Tax ratio, saya perkirakan bisa 12,1%," tandasnya.
(nia/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 22:03 WIB
Ngirit Anggaran, SBY Minta Menteri Menginap di Gedung Negara
-
Jumat, 25/05/2012 21:16 WIB
Berusia 20 Tahun, Bank Muamalat Ganti Logo
-
Jumat, 25/05/2012 21:10 WIB
Wah! SBY Rahasiakan Bentuk Mobil Listrik Made in Indonesia
-
Jumat, 25/05/2012 21:04 WIB
SBY Tak Mau Gas RI Diborong ke Luar Negeri
-
Jumat, 25/05/2012 20:56 WIB
Mulai 2013 Palu-Parigi Terhubung Jalan Lintas 35 Km
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Puluhan Merek Pakaian Kelas Dunia Ternyata Made in Bandung
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
Jumat, 25/05/2012 08:17 WIB
Pemerintah Jalankan Program Pensiun Dini PNS Tahun Ini
-
Jumat, 25/05/2012 07:09 WIB
Kisah Pertarungan Bandar & Penjudi Curang di Kasino Moderen
-
Jumat, 25/05/2012 13:03 WIB
Agus Marto: Hanya RI & Arab Saudi yang Mampu Hadapi Krisis Eropa
-
65 Komentar
-
55 Komentar
-
42 Komentar
-
40 Komentar
-
37 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
