Kedaulatan Ekonomi Lemah, RI Dipermalukan Malaysia
Selasa, 31/08/2010 17:22 WIB
Jakarta - Indonesia saat ini bukan hanya lemah dalam hal pertahanan (militer) namun juga dinilai lemah dalam hal pertahanan kedaulatan ekonomi. Lemahnya pertahanan ekonomi itulah yang menyebabkan RI baru-baru ini dipermalukan Malaysia.
Demikian disampaikan Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Erwin Aksa dalam acara Dialog Nasional Mendorong Daya Saing Nasional,di Jakarta, Selasa (31/8/2010).
Erwin mencontohkan salah satu bentuk kelemahan kedaulatan ekonomi Indonesia, yaitu masih tingginya produk impor, padahal sejatinya produk impor itu sudah bisa dibuat di dalam negeri seperti produk makanan minuman.
"Negara kita sudah bukan lagi negara produsen, tapi negara konsumen," kata Erwin.
Menurut Erwin kondisi ini sungguh memprihatinkan, karena bagaimanapun Indonesia sebagai negara besar, perlu kedaulatan ekonomi.
"Baru-baru ini kita dipermalukan oleh Malaysia. Ini membuktikan kalau negara kita dianggap remeh ekonominya maupun pertahanannya," jelas Erwin.
Sehingga kata Erwin untuk terus meningkatkan kedaulatan ekonomi perlu didorong penciptaan para wirausaha baru dalam rangka berdaya saing. Meski ia mengakui untuk menciptakan wirausaha baru tak mudah.
"Bahwa KUR (kredit usaha rakyat) yang ditargetkan Rp 20 triliun ternyata penyerapannya masih sangat rendah, jauh dari harapan, sulit mencari pelaku usaha yang bisa didanai," katanya.
(hen/qom)
Demikian disampaikan Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Erwin Aksa dalam acara Dialog Nasional Mendorong Daya Saing Nasional,di Jakarta, Selasa (31/8/2010).
Erwin mencontohkan salah satu bentuk kelemahan kedaulatan ekonomi Indonesia, yaitu masih tingginya produk impor, padahal sejatinya produk impor itu sudah bisa dibuat di dalam negeri seperti produk makanan minuman.
"Negara kita sudah bukan lagi negara produsen, tapi negara konsumen," kata Erwin.
Menurut Erwin kondisi ini sungguh memprihatinkan, karena bagaimanapun Indonesia sebagai negara besar, perlu kedaulatan ekonomi.
"Baru-baru ini kita dipermalukan oleh Malaysia. Ini membuktikan kalau negara kita dianggap remeh ekonominya maupun pertahanannya," jelas Erwin.
Sehingga kata Erwin untuk terus meningkatkan kedaulatan ekonomi perlu didorong penciptaan para wirausaha baru dalam rangka berdaya saing. Meski ia mengakui untuk menciptakan wirausaha baru tak mudah.
"Bahwa KUR (kredit usaha rakyat) yang ditargetkan Rp 20 triliun ternyata penyerapannya masih sangat rendah, jauh dari harapan, sulit mencari pelaku usaha yang bisa didanai," katanya.
(hen/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 07:09 WIB
Kisah Pertarungan Bandar & Penjudi Curang di Kasino Moderen
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 07:03 WIB
Inilah 15 Perusahaan Idaman Mahasiswa Fresh Graduate
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 08:17 WIB
Ada Menara Tertinggi ke-5 di Dunia, Pasar Properti RI Makin Seksi
-
Kamis, 24/05/2012 07:19 WIB
Artha Graha: Tak Ada Kasino di Gedung Tertinggi Tomy Winata
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
36 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
