DPR Minta Patokan Harga Minyak 2011 Turun Jadi US$ 77 per Barel
Kamis, 02/09/2010 15:13 WIB
Jakarta - Komisi VII DPR meminta pemerintah untuk menurunkan asumsi harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) dari US$ 80 per barel menjadi US$ 77 per barel, seperti tercantum dalam nota keuangan 2011 yang disampaikan Presiden SBY.
Menurut anggota Komisi VII DPR, Satya W Yudha, jika dalam menggunakan asumsi pada tahun depan negara-negara Non OPEC menaikkan produksinya, maka seharusnya harga minyak di pasar internasional turun.
"Jadi harusnya asumsi ICP turun dari US$ 80 per barel menjadi US$ 77 per barel. Itu lebih realistis," ujar Satya dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (2/9/2010).
Satya menyatakan, asumsi ICP itu harus diturunkan karena jika dipasang terlalu tinggi maka seluruh asumsi dalam APBN 1011 akan ikut naik.
"Kalau terlalu tinggi, nanti asumsi kita tinggi semua. Terlalu berbeban," jelasnya.
Sementara itu, anggota Komisi VII dari Fraksi PKS, Muhammad Idris Lutfhi menyatakan diturunkannya asumsi ICP dalam RAPBN 2011 harus diturunkan karena kondisi ekonomi 2011 mendatang akan lebih baik dari 2010.
"Tahun depan, banyak yang meramalkan tidak ada perang di kawasan Timur Tengah, ini menyebabkan pasokan minyak akan meningkat," kata Idris.
Sementara itu, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Evita Legowo memperkirakan rata-rata ICP tahun depan pada kisaran US$ 75-90 per barel.
Setidaknya ada delapan faktor yang mempengaruhi pasar internasional seperti meningkatnya permintaan minyak dunia, kenaikan suplai minyak dari negara OPEC, suplai negara non OPEC yang meningkat, stok minyak Amerika Serikat dan dunia yang masih di atas rata-rata dalam lima tahun terakhir dan diperkirakan sedikit berkurang.
Faktor lainnya, adanya spare capacity produksi negara OPEC turun namun tetap tinggi pada 6 juta bph, nilai tukar dollar AS dan EURO yang mulai membaik, perdagangan berjangka serta ketegangan di negara produsen minyak yang masih tetap tinggi.
Sementara itu, dalam memproyeksikan harga minyak Indonesia, pemerintah menggunakan referensi proyeksi dari:
(epi/dnl)
Menurut anggota Komisi VII DPR, Satya W Yudha, jika dalam menggunakan asumsi pada tahun depan negara-negara Non OPEC menaikkan produksinya, maka seharusnya harga minyak di pasar internasional turun.
"Jadi harusnya asumsi ICP turun dari US$ 80 per barel menjadi US$ 77 per barel. Itu lebih realistis," ujar Satya dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (2/9/2010).
Satya menyatakan, asumsi ICP itu harus diturunkan karena jika dipasang terlalu tinggi maka seluruh asumsi dalam APBN 1011 akan ikut naik.
"Kalau terlalu tinggi, nanti asumsi kita tinggi semua. Terlalu berbeban," jelasnya.
Sementara itu, anggota Komisi VII dari Fraksi PKS, Muhammad Idris Lutfhi menyatakan diturunkannya asumsi ICP dalam RAPBN 2011 harus diturunkan karena kondisi ekonomi 2011 mendatang akan lebih baik dari 2010.
"Tahun depan, banyak yang meramalkan tidak ada perang di kawasan Timur Tengah, ini menyebabkan pasokan minyak akan meningkat," kata Idris.
Sementara itu, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Evita Legowo memperkirakan rata-rata ICP tahun depan pada kisaran US$ 75-90 per barel.
Setidaknya ada delapan faktor yang mempengaruhi pasar internasional seperti meningkatnya permintaan minyak dunia, kenaikan suplai minyak dari negara OPEC, suplai negara non OPEC yang meningkat, stok minyak Amerika Serikat dan dunia yang masih di atas rata-rata dalam lima tahun terakhir dan diperkirakan sedikit berkurang.
Faktor lainnya, adanya spare capacity produksi negara OPEC turun namun tetap tinggi pada 6 juta bph, nilai tukar dollar AS dan EURO yang mulai membaik, perdagangan berjangka serta ketegangan di negara produsen minyak yang masih tetap tinggi.
Sementara itu, dalam memproyeksikan harga minyak Indonesia, pemerintah menggunakan referensi proyeksi dari:
- Short Term Energy Outlook Energy Information Administration yang mempoyeksikan harga WTI pada tahun 2011 sebesar US$ 83,5 per barel.
- Survey yang dilakukan oleh Reuters untuk 24 pelaku pasar dan Bank yang melakukan transaksi minyak memproyeksikan tahun 2011 untuk WTI crude pada kisaran US$ 60-102.6 per barel dan untuk brent pada kisaran US$ 60-100 per barel.
- Perkiraan Centre for Global Energy Studies yang memperkirakan harga minyak brent tahun 2011 pada kisaran US$ 64,3-96 per barel.
(epi/dnl)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 22:03 WIB
Ngirit Anggaran, SBY Minta Menteri Menginap di Gedung Negara
-
Jumat, 25/05/2012 21:16 WIB
Berusia 20 Tahun, Bank Muamalat Ganti Logo
-
Jumat, 25/05/2012 21:10 WIB
Wah! SBY Rahasiakan Bentuk Mobil Listrik Made in Indonesia
-
Jumat, 25/05/2012 21:04 WIB
SBY Tak Mau Gas RI Diborong ke Luar Negeri
-
Jumat, 25/05/2012 20:56 WIB
Mulai 2013 Palu-Parigi Terhubung Jalan Lintas 35 Km
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Puluhan Merek Pakaian Kelas Dunia Ternyata Made in Bandung
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
Jumat, 25/05/2012 08:17 WIB
Pemerintah Jalankan Program Pensiun Dini PNS Tahun Ini
-
Jumat, 25/05/2012 07:09 WIB
Kisah Pertarungan Bandar & Penjudi Curang di Kasino Moderen
-
Jumat, 25/05/2012 13:03 WIB
Agus Marto: Hanya RI & Arab Saudi yang Mampu Hadapi Krisis Eropa
-
65 Komentar
-
55 Komentar
-
42 Komentar
-
40 Komentar
-
37 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
