Ekspor RI Belum Terpengaruh 'Perang Mata Uang' Dunia
Kamis, 07/10/2010 18:25 WIB
Jakarta - Negara-negara di dunia kini sedang berlomba menekan mata uangnya agar melemah sehingga bisa mendongkrak lagi ekspornya yang sempat lesu. Sejauh ini, perang mata uang itu belum berpengaruh pada nilai ekspor Indonesia.
Demikian disampaikan Deputi Menko Perekonomian Bidang Perindustrian dan Perdagangan Edy Putra Irawady saat ditemui di Kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (7/10/2010).
Ekspor RI sejauh ini belum terpengaruh karena komoditi negara-negara yang menekan nilai tukarnya itu tidak saling berhadapan dengan komoditi ekspor Indonesia.
"Jadi tidak head to head," tegasnya menanggapi pernyataan Managing Director of the International Monetary Fund (IMF) Dominique Strauss-Kahn, terkait perang mata uang.
Sementara Deputi Menko Perekonomian Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan Erlangga Mantik mengatakan, pemerintah Indonesia tidak bisa mematok mata uang rupiah dalam nilai yang rendah guna mendorong peningkatan laju ekspor karena Indonesia yang menganut rezim devisa bebas.
"Kita pada dasarnya, ikut secara penuh dalam perekonomian dunia. Kecuali jika kita lakukan pembatasan secara sepihak. Tapi ini tidak mungkin karena kita menganut rezim devisa bebas," tegasnya.
Rezim devisa bebas adalah aturan yang membebaskan keluar masuknya valuta asing dalam suatu negara. Dengan sistem ini hasil devisa ekspor dapat ditaruh di luar negeri tanpa ada kewajiban untuk menaruhnya di dalam. Sehingga rupiah akan selalu berada pada posisi labil.
Erlangga menilai alasan sejumlah negara menekan mata uangnya dalam nilai yang rendah bisa jadi belajar dari pengalaman Jepang pada beberapa tahun lampau.
"Jepang 20 tahun lalu salah mengambil kebijaksanaan. Jepang mengapresisasi yen-nya sehingga secara internsaional yen menjadi kuat tapi ekspor mereka jeblok," jelasnya.
Dengan pengalaman tersebut, lanjut Erlangga, mereka kini berlomba-lomba membuat nilai mata uangnya rendah dengan harapan ekspornya menguat.
"Jika melemah kan ekpor dia lebih mudah," ujarnya.
Adapun penguatan rupiah yang terus terjadi kini, kata Erlangga, dapat mempengaruhi daya saing ekspor Indonesia. Idealnya rupiah memang berada pada level Rp 9 ribu. Di satu sisi laju ekspor dapat meningkat, tetapi di sisi lain kewajiban dalam membayar utang dalam posisi yang aman.
"Kalau 1 dolar sekarang Rp 8.900, nilai keuntungnya tentu lebih rendah jika rupiah berada Rp 12 ribu. Tapi kan kita punya kewajiban internasional (bayar utang), sehingga perlu di-balance," ujarnya.
Menurut Erlangga, meski Indonesia menganut rezim devisa bebas, tetapi dalam kenyataannya Bank Indonesia (BI) biasanya tetap melakukan Intervensi terhadap nilai mata uang. Sehingga, nilainya tidak jauh dari yang diproyeksikan.
"Dalam level tertentu BI biasanya akan melakukan intervensi," jelasnya.
Sebelumnya managing director of the International Monetary Fund (IMF) Dominique Strauss-Kahn mengingatkan supaya pemerintah di berbagai negara tidak menggunakan nilai tukar sebagai alat untuk mendorong peningkatan ekspor. Dia menilai praktik-praktik seperti itu dapat mengakibatkan perang mata uang di antara bangsa-bangsa di dunia.
Perang mata uang yang masih menghangat adalah antara China dan Amerika Serikat. AS selama bertahun-tahun memprotes China yang dinilainya menahan mata uangnya agar tidak menguat untuk melindungi ekspornya. DPR AS bahkan berniat melakukan voting pada Rabu ini untuk menetapkan sanksi terhadap China karena menahan mata uangnya agar tidak menguat atas dolar AS.
(nia/qom)
Demikian disampaikan Deputi Menko Perekonomian Bidang Perindustrian dan Perdagangan Edy Putra Irawady saat ditemui di Kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (7/10/2010).
Ekspor RI sejauh ini belum terpengaruh karena komoditi negara-negara yang menekan nilai tukarnya itu tidak saling berhadapan dengan komoditi ekspor Indonesia.
"Jadi tidak head to head," tegasnya menanggapi pernyataan Managing Director of the International Monetary Fund (IMF) Dominique Strauss-Kahn, terkait perang mata uang.
Sementara Deputi Menko Perekonomian Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan Erlangga Mantik mengatakan, pemerintah Indonesia tidak bisa mematok mata uang rupiah dalam nilai yang rendah guna mendorong peningkatan laju ekspor karena Indonesia yang menganut rezim devisa bebas.
"Kita pada dasarnya, ikut secara penuh dalam perekonomian dunia. Kecuali jika kita lakukan pembatasan secara sepihak. Tapi ini tidak mungkin karena kita menganut rezim devisa bebas," tegasnya.
Rezim devisa bebas adalah aturan yang membebaskan keluar masuknya valuta asing dalam suatu negara. Dengan sistem ini hasil devisa ekspor dapat ditaruh di luar negeri tanpa ada kewajiban untuk menaruhnya di dalam. Sehingga rupiah akan selalu berada pada posisi labil.
Erlangga menilai alasan sejumlah negara menekan mata uangnya dalam nilai yang rendah bisa jadi belajar dari pengalaman Jepang pada beberapa tahun lampau.
"Jepang 20 tahun lalu salah mengambil kebijaksanaan. Jepang mengapresisasi yen-nya sehingga secara internsaional yen menjadi kuat tapi ekspor mereka jeblok," jelasnya.
Dengan pengalaman tersebut, lanjut Erlangga, mereka kini berlomba-lomba membuat nilai mata uangnya rendah dengan harapan ekspornya menguat.
"Jika melemah kan ekpor dia lebih mudah," ujarnya.
Adapun penguatan rupiah yang terus terjadi kini, kata Erlangga, dapat mempengaruhi daya saing ekspor Indonesia. Idealnya rupiah memang berada pada level Rp 9 ribu. Di satu sisi laju ekspor dapat meningkat, tetapi di sisi lain kewajiban dalam membayar utang dalam posisi yang aman.
"Kalau 1 dolar sekarang Rp 8.900, nilai keuntungnya tentu lebih rendah jika rupiah berada Rp 12 ribu. Tapi kan kita punya kewajiban internasional (bayar utang), sehingga perlu di-balance," ujarnya.
Menurut Erlangga, meski Indonesia menganut rezim devisa bebas, tetapi dalam kenyataannya Bank Indonesia (BI) biasanya tetap melakukan Intervensi terhadap nilai mata uang. Sehingga, nilainya tidak jauh dari yang diproyeksikan.
"Dalam level tertentu BI biasanya akan melakukan intervensi," jelasnya.
Sebelumnya managing director of the International Monetary Fund (IMF) Dominique Strauss-Kahn mengingatkan supaya pemerintah di berbagai negara tidak menggunakan nilai tukar sebagai alat untuk mendorong peningkatan ekspor. Dia menilai praktik-praktik seperti itu dapat mengakibatkan perang mata uang di antara bangsa-bangsa di dunia.
Perang mata uang yang masih menghangat adalah antara China dan Amerika Serikat. AS selama bertahun-tahun memprotes China yang dinilainya menahan mata uangnya agar tidak menguat untuk melindungi ekspornya. DPR AS bahkan berniat melakukan voting pada Rabu ini untuk menetapkan sanksi terhadap China karena menahan mata uangnya agar tidak menguat atas dolar AS.
(nia/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Kamis, 24/05/2012 19:51 WIB
RI Janjikan Insentif Bagi Produsen Mobil Hybrid di Dalam Negeri
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 19:13 WIB
Pemda Disindir Suka Obral Izin Tambang
-
Kamis, 24/05/2012 19:05 WIB
SCTV Juga Berambisi Ambil Hak Siar Piala Dunia 2014
-
Kamis, 24/05/2012 18:48 WIB
Pembangunan Tol di RI Tertinggal Jauh dari India dan Malaysia
-
Kamis, 24/05/2012 07:03 WIB
Inilah 15 Perusahaan Idaman Mahasiswa Fresh Graduate
-
Kamis, 24/05/2012 19:45 WIB
Dijuluki 'Manajer Rp 1 Miliar', Tanri Abeng: Itu Tak Tepat!
-
Kamis, 24/05/2012 18:01 WIB
Ini Alasan SCTV Ngotot Rebut Hak Siar Liga Champions
-
Kamis, 24/05/2012 08:17 WIB
Ada Menara Tertinggi ke-5 di Dunia, Pasar Properti RI Makin Seksi
-
Kamis, 24/05/2012 07:19 WIB
Artha Graha: Tak Ada Kasino di Gedung Tertinggi Tomy Winata
-
55 Komentar
-
53 Komentar
-
37 Komentar
-
36 Komentar
-
35 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Kamis, 24/05/2012 13:03 WIB
Gagal Jadi Tentara, Chris Kanter Sukses Jadi Pengusaha
Siapa sangka pengusaha yang juga anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chris Kanter dahulu pernah bermimpi menjadi seorang prajurit TNI.
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
