detikfinance

Bank Dunia: Waspadai Lonjakan Arus Modal Masuk

Herdaru Purnomo - detikfinance
Selasa, 19/10/2010 10:19 WIB
Jakarta - World Bank (Bank Dunia) menilai perbaikan ekonomi di kawasan Asia Timur dan Pasifik termasuk Indonesia berlangsung sangat kuat. Hal ini menyebabkan adanya risiko yang bermunculan seperti arus modal yang melonjak pesat.

Ekonom Kepala Bank Dunia untuk Kawasan Asia Timur dan Pasifik Vikram Nehru mengatakan dengan didorong oleh likuiditas global yang melimpah untuk mendapatkan hasil serta digabungkan dengan pengharapan akan pertumbuhan yang lebih kuat dikawasan, menjadikan arus modal yang melonjak.

"Arus masuk yang lebih besar telah membantu apresiasi nilai tukar, diluar adanya intervensi pasar oleh bank sentral. Arus masuk ini juga telah membantu meningkatkan harga aset," jelas Vikram dalam Update Ekonomi Asia Timur dan Pasifik Bank Dunia di Gedung BEI, Jalan Sudirman, Jakarta, Selasa (19/10/2010).

Ia menuturkan, kebanyakan badan otoritas moneter telah menahan diri untuk tidak melakukan capital control (kontrol modal) sampai saat ini.

"Apabila arus masuk tetap kuat, terutama disandingkan dengan pertumbuhan global yang lemah para bada otoritas akan dihadapkan dengan tantangan dalam menyeimbangkan perlunya arus masuk modal yang besar. Terutama investasi asing dengan memastikan daya sain, stabilitas sektor finansial dan inflasi rendah," papar Vikram.

Vikram mencontohkan, dengan semakin menguatnya pemulihan ekonomi di Asia Timur khususnya Indonesia maka seharusnya upaya-upaya stimulus dikurangi. Defisit fiskal, sambung Vikram masih akan tetap lebih tinggi dibandingkan sebelum krisis.

"Sementara itu pemerintah perlu menanggapi kesenjangan infrastruktur dan menjaga jaring pengaman sosial untuk melindungi masyarakat miskin, menyediakan perlindungan yang sesuai untuk menghadapi prospek perekonomian negara maju yang lemah," kata Vikram.

Bank Dunia menyebutkan hasil pembangunan telah pulih sampai melampaui tingkat pra-krisis di negara Asia Timur. Di beberapa negara lain telah berkembang hampir sama dengan tingkatan pra-krisis.

Pertumbuhan GDP riil akan mencapai 8,9% di kawasan Asia Timur pada tahun 2010. Atau meningkat dari 7,3% di 2009. Bank Dunia mencermati faktor pendorong pertumbuhan tersebut yakni sektor swasta, rasa percaya diri yang bangkit dan arus perdagangan yang telah kembali ke tingkat pra-krisis.



(dru/ang)

Share:

Komentar (0 Komentar)


    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login
    Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Gb Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
      Wawancara Khusus MS Hidayat
      Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
      Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
    • Gb Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
      Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
      Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
    • Gb Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
      Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
      Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?