detikfinance

RI Harus Kembangkan Produk Olahan Supaya Tidak Tekor

Ramdhania El Hida - detikfinance
Rabu, 02/02/2011 18:37 WIB
Jakarta - Indonesia perlu meningkatkan industri olahannya jika ingin bisa menekan defisit perdagangan dengan China. Tahun lalu saja Indonesia alami defisit perdagangan hingga US$ 5,6 miliar.

Ketua Umum Kadin Suryo Bambang Sulisto menyatakan Indonesia harus jeli dalam menghadapi defisit perdagangan dengan China yang semakin besar. Pada tahun lalu saja, Indonesia alami defisit perdagangan hingga USD 5,6 miliar.

Kejelian yang dimaksudkan Suryo adalah Indonesia perlu meningkatkan industri produk-produk barang olahan yang tidak dimiliki China, bukan membuat produk tandingan. Pasalnya, Indonesia tidak akan mampu menandingi produk China yang lebih murah.

"Makanya kita harus jeli melihat produk-produk apa yang dibutuhkan China, Tiongkok. Kita masuk ke situ, jangan kita bersaing dengan produk yang sama. Dia lebih jago, lebih murah misalnya makanan, mereka butuh makanan, kita harus terjun ke industri makanan, pengolahan," ujarnya saat ditemui di Enterpreneur Summit 2011 di Gedung Smesco, Jakarta, Rabu (2/2/2011).

Dengan demikian, lanjut Suryo, ekspor Indonesia dapat ditingkatkan tiap tahun hingga 10-15% dari ekspor tahun 2010 lalu yang senilai US$ 157,73 miliar.

"Ekspor kita kan US$ 150 miliar, kalau bisa naikkan setiap tahunnya 10-15% kan sudah lumayan itu," ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan Anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN) Sandiaga Uno saat ditemui pada kesempatan yang sama. Dia menilai defisit China hingga US$ 5 miliar merupakan tanda untuk pemerintah mempercepat industrialisasi.

"Ya itu bukti bahwa kita untuk melakukan tindakan cepat untuk melakukan industrialisasi tapi kita juga sudah melihat tren bahwa banyak pabrik-pabrik yang merelokasikan pabriknya ke Indonesia karena di China kan menjadi sangat-sangat tidak kompetitif, menjadi sangat-sangat mahal," tandasnya.

Sebagai informasi, neraca perdagangan RI dengan China sepanjang 2010 lalu defisit. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit perdagangan dengan China mencapai US$ 5,6 miliar.

Nilai defisit ini yang terbesar sepanjang sejarah. Bahkan, Kepala BPS Rusman Heriawan mengatakan, nilainya melebihi surplus perdagangan Indonesia dengan Amerika yang sebesar US$ 4,03 miliar.

Selain dengan Cina, neraca perdagangan Indonesia juga mengalami defisit dengan Thailand. Nilainya mencapai US$ 3,37 miliar. Kemudian dengan Singapura defisit sebesar US$ 493 juta dan dengan Australia defisit US$ 1,73 miliar.



(nia/ang)

Share:

Komentar (0 Komentar)


    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login
    Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Gb Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
      Wawancara Khusus MS Hidayat
      Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
      Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
    • Gb Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
      Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
      Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.