detikfinance

Chairul Tanjung: Ekonomi Global Saat Ini Sangat Tak Baik

Herdaru Purnomo - detikfinance
Rabu, 21/09/2011 14:25 WIB
Chairul Tanjung: Ekonomi Global Saat Ini Sangat Tak Baik
Jakarta -Situasi ekonomi global saat ini di mata pengusaha sudah dinilai sangat tak baik. Hal ini setidaknya diakui oleh salah satu pengusaha nasional Chairul Tanjung yang juga Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN).

"Situasi global saat ini sekarang ini boleh saya katakan sangat tidak baik. Bukan kurang baik tapi sangat tidak baik. AS itu ada global krisis 2008 penyebabnya itu adalah konsumen di AS membelanjakan uang lebih dari kemampuannya. Corporate-nya juga main dan derivatifnya juga hancur," katanya di acara Diklatnas II Hipmi-Lemhanas di Gedung Lemhanas, Kebon Sirih, Jakarta, Rabu (21/9/2011).

Chairul mengatakan di saat AS sedang memulai pemulihan ekonomi akibat krisis 2008, sekarang sudah timbul lagi krisis yang lebih parah. Krisis Eropa saat ini menjadi krisis yang cukup berat karena menusuk banyak negara.

"Eropa juga dikarenakan negaranya. bukan orang atau corporate-nya. Perbedaan dulu itu orang dan perusahaan sekarang itu negara," katanya.

Ia mengatakan saat ini yang terjadi adalah sovereign crisis. Penyebabnya karena jumlah utang lebih besar dari PDB suatu negara, hal ini lah yang pernah di alami oleh Indonesia pada tahun 1998 lalu.

"Debt to GDP (rasio utang terhadap PDB) itu lebih besar, rasio utang terhadap PDB itu tinggi di atas 100 (%) semua negara Eropa semua lebih besar dari standarnya. Padahal Uni Eropa itu mematok hanya 60% debt to GDP. Mereka buat standar dan mereka yang melanggar," katanya.

Chairul pun mengungkapkan peristiwa yang dialami oleh AS beberapa waktu lalu, yaitu untuk pertama kalinya lembaga peringkat asal AS, S&P menurunkan peringkat utang negaranya sendirinya.

"China juga masalah, inflasinya luar biasa. Akhirnya pemerintahnya menahan laju pertumbuhannya. Kemiskinan di China parah, lebih parah dari Indonesia saat ini. di sana billioner banyak tapi kemiskinan banyak ada disparitas juga," jelas Chairul.

Dikatakannya situasi ini diperparah dengan dengan kondisi Jepang yang masih harus terseok-seok membenahi ekonominya pasca gempa dan tsunami maha dahsyat beberapa waktu lalu, yang berujung pada krisis nuklir di Negeri Matahari Terbit tersebut.

Sehingga kata dia, negara-negara seperti AS, Eropa, China dan Jepang tengah menghadapi masalah serius. Ia melihat dengan kondisi global saat ini, Indonesia
memiliki fundamental ekonomi yang baik, debt to GDP hanya 25% atau jauh di bawah daripada negara di Eropa yang mendekati 100%.

Dari kondisi itu, maka Indonesia relatif tak ada masalah secara fundamental ekonomi, apalagi Presiden SBY telah memerintahkan untuk menekan ratio utang terhadap GDP hingga ke titik 20%. Meskipun Chairul mengingatkan pada 1998 lalu saat Indonesia kolaps, negeri ini sempat mengalami kondisi rasio utang lebih besar dari GDP. "Kenapa AS nggak belajar dari Asia. Kemarin 2008 krisis itu kita lebih bisa belajar," ucapnya.

"Nah sekarang baIndonesia? We Are Ok. Cadangan devisa kita itu US$ 122 miliar, nah kemarin sempat menurun US$ 2 miliar menstabilkan rupiah tapi selepas itu sangat baik," imbuhnya.
(hen/dnl)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Apa Saja Keuntungan Berinvestasi Obligasi? Kamis, 24/03/2016 17:19 WIB
    Apa Saja Keuntungan Berinvestasi Obligasi?
    Memilih investasi yang tepat bukan perkara mudah. Berbagai instrumen investasi ditawarkan mulai dari saham, obligasi, reksa dana, deposito, emas, dan lain-lain.


“Mau berinvestasi di pasar modal ? Mega Online Trading adalah solusinya”

www.megaonlinetrading.com

Info Lebih Lanjut
MustRead close