detikfinance

Produk Perajin Bambu Lokal Dilibas Anyaman Sintetis China

Rista Rama Dhany - detikfinance
Minggu, 18/12/2011 18:31 WIB
//images.detik.com/content/2011/12/18/1036/ukm-luar-oke.jpg
Jakarta -Masuknya barang kerajinan housewares (peralatan rumah tangga) anyaman sintetis dari Vietnam dan China membuat para pengrajin bambu lokal bertumbangan alias gulung tikar.

Berdasarkan data Asosiasi Perajin Jatim, jumlah pengrajin bambu untuk houseware pada 2001 di sentra pengrajin mambu di Banyuwangi berjumlah ratusan atau sekitar 200-an pengrajin, saat ini jumlahnya hanya puluhan saja.

"Jumlah perajin bambu sangat turun drastis, ini dikarenakan serbuan produk impor sejenis namun berbahan sintetis dari Vietnam dan China," kata Ketua Asosiasi Pengrajin Jatim, Lilik Noer, kepada detikFinance, Minggu (18/12/11).

Lilik bilang, para pengrajin bambu dalam beberapa tahun terakhir memang diterjang cobaan yang luar biasa berat, pasalnya perajin bambu jelas kalah kualitas.

"Bahan sistetis sangat mudah dibersihkan dan lebih tahan lama, sementara pengrajin bambu kita murni dari bambu. Apalagi produk sintetis harganya jauh dibandingkan dengan produk kerajinan bambu lokal," ujarnya.

Apalagi ironisnya, beberapa perajin bambu yang pada tahun 1999-2001 rajin mengekspor produknya ke Jepang sejak 2002 sudah tidak lagi mengekspor, pasalnya kalah bersaing dengan produk sintetis asal Vietnam dan China yang dari segi produk diproduksi secara massal sehingga jauh lebih murah.

Menurut Lilik, tidak hanya perajin bambu saja yang banyak gulung tikar, pengrajin batu Onix dari Pacitan, Tulungagung pun bernasib sama."Serbuan produk batu Onix dari China dan Pakistan membuat omset perajin terus turun daan akhirnya kolaps," imbuh Lilik.

Namun menurut Lilik tidak hanya peran pemerintah saja yang terus aktif sosialisasi cinta produk dalam negeri, tetapi yang paling utama adalah pemilik tempat, supermarket, department store, pusat perbelanjaan jangan memanjakan produk impor.

"Kami sering menjumpai produk kerajinan impor yang terlalu mendapat tempat yang 'istimewa' di stand pusat perbelanjaan, inikan terbalik, seharusnya produk kerajinan lokal yang diistimewakan," tukas Lilik.
(hen/hen)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!



Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        
Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Gb Senin, 27/10/2014 11:44 WIB
    Wawancara Khusus Menkeu
    Bambang Brodjonegoro: Kita Sebagai Menteri Bukan Superman
    Salah satu menteri Kabinet Kerja dari kalangan profesional adalah Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, yang didapuk sebagai Menteri Keuangan. Guru Besar Ekonomi Universitas Indonesia ini tidak asing dengan lingkungan Kementerian Keuangan.
  • Gb Kamis, 30/10/2014 08:45 WIB
    Ellen May: Bye-bye QE
    Quantitative Easing, kebijakan Pelonggaran Kualitatif adalah sebuah kebijakan moneter di AS. Sekarang kebijakan ini sudah selesai.


“Mau berinvestasi di pasar modal ? Mega Online Trading adalah solusinya”

www.megaonlinetrading.com

Info Lebih Lanjut