detikfinance

Bangun Signature Tower

Pakai Arsitek Asing, Tomy Winata Cs Gandeng Ahli Konstruksi Burj Khalifa

Suhendra - detikfinance
Rabu, 11/01/2012 08:27 WIB
//images.detik.com/content/2012/01/11/1016/Signature-Tower-Jakarta-dalam.jpg Signature Tower (Foto: Archdaily)
Jakarta -Pengembang Menara 111 lantai Signature Tower SCBD menggandeng perusahaan konsultan internasional yaitu Thornton Tomasetti sebagai structural engineering proyek bernilai US$ 1 miliar ini. Thornton Tomasetti banyak menangani masalah struktur bangunan super tinggi di dunia.

"Mereka banyak terlibat dalam gedung-gedung ultra high rise termasuk Burj Khalifa (gedung tertinggi dunia saat ini 828 meter)," kata Wakil Presiden Direktur PT Jakarta International Hotels & Development Tbk Santoso Gunara kepada detikFinance di kawasan gedung BEI, Selasa (10/1/2012).

Berdasarkan situs resminya, Thornton Tomasetti tercatat akan menggarap proyek struktur konstruksi menara yang akan tertinggi di dunia yaitu Kingdom Tower setinggi 1000 meter. Selain itu perusahaan ini juga telah menangani konstruksi di proyek-proyek gedung tinggi seperti Ping An Financial Center, Shanghai Tower, Taipei 101, Petronas Towers dan lain-lain.

Ia menambahkan, pihaknya juga memakai konsultan terbaik untuk menyiapkan lift tercepat karena penggunaan lift sangat penting. Maklum saja, gedung setinggi 600 meter memerlukan dukungan lift tercanggih.

"Kalau kita lihat sejarahnya Burj Khalifa setelah selesai dibangun lift-nya mati beberapa kali, makanya kita harus lebih matang," katanya.

Sedangkan arsitekturnya menggunakan jasa arsitek asing yaitu Smallwood Reynolds, Steward, Steward & Associates Inc dari Atlanta, AS. Smallwood sebelumnya telah menggarap proyek SCBD lainnya yaitu gedung Pacific Place.

"Ini bukan gedung biasa yang hanya 30-40 lantai dengan struktur biasa dan lift biasa. Kalau gedung ini sudah ada lift high speed, yang langsung naik," katanya.

Gedung ini juga akan dilengkapi dengan teknologi pemadam kebakaran secara otomatis. Dan yang tak kalah pentingnya adalah teknologi yang berkaitan menekan risiko gempa bumi, karena Indonesia masuk dalam daerah rawan gempa.
(hen/qom)





Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        
Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com


“Mau berinvestasi di pasar modal ? Mega Online Trading adalah solusinya”

www.megaonlinetrading.com

Info Lebih Lanjut