Garuda Masih Kejar Kuasi Reorganisasi
Jumat, 03/02/2012 13:56 WIB
Tangerang - Rencana kuasi reorganisasi PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) terus berjalan dan diharapkan secara efektif tuntas pada Juni 2012. Perseroan sebelumnya akan menunggu keluarnya Peraturan Pemerintah (PP) terkait rencana tersebut.
"Masih sesuai rencana. Kami sebagai BUMN harus tunggu keluarnya PP. Namun efektif Kuasi di Juni ini," kata Direktur Keuangan Garuda Elisa Lumbantoruan di kantornya, Cengkareng, Tangerang, Jumat (3/2/2012).
Perseroan pada bulan Maret siap menggelar RUPS luar biasa untuk meminta restu pemegang saham terkait rencana kuasi reorganisasi tersebut. Selama aturan PSAK terbaru belum berlaku, kesempatan kuasi perseroan masih terbuka lebar.
"Yang penting sampai dengan akhir tahun ini. Masih ada kesempatan kita," katanya.
Perseroan memang berencana menghapusbukukan saldo defisit sekitar Rp 6,8 triliun, berupa akumulatif kerugian dan penghitungan ulang atas aset GIAA yang mereka miliki.
"Kan yang dulu rugi terus. Ada gain dari revaluasi asset menjadi sesuai. Dalam prinsip akuntansi terbaru ada perbedaan. Yakni sebelumnya penilaian hanya dari nilai usia ekonomis. Yang sekarang, dinilai dari nilai pasar dan nilai produktifitas aset itu sendiri," paparnya.
Elisa mencontohkan, untuk pesawat berusia 15 tahun nilai ekonomisnya lebih tinggi dibandingkan dengan nilai buku. Karena untuk pesawat seri tertentu jika dijual ke pasar masih banyak peminat.
(wep/qom)
"Masih sesuai rencana. Kami sebagai BUMN harus tunggu keluarnya PP. Namun efektif Kuasi di Juni ini," kata Direktur Keuangan Garuda Elisa Lumbantoruan di kantornya, Cengkareng, Tangerang, Jumat (3/2/2012).
Perseroan pada bulan Maret siap menggelar RUPS luar biasa untuk meminta restu pemegang saham terkait rencana kuasi reorganisasi tersebut. Selama aturan PSAK terbaru belum berlaku, kesempatan kuasi perseroan masih terbuka lebar.
"Yang penting sampai dengan akhir tahun ini. Masih ada kesempatan kita," katanya.
Perseroan memang berencana menghapusbukukan saldo defisit sekitar Rp 6,8 triliun, berupa akumulatif kerugian dan penghitungan ulang atas aset GIAA yang mereka miliki.
"Kan yang dulu rugi terus. Ada gain dari revaluasi asset menjadi sesuai. Dalam prinsip akuntansi terbaru ada perbedaan. Yakni sebelumnya penilaian hanya dari nilai usia ekonomis. Yang sekarang, dinilai dari nilai pasar dan nilai produktifitas aset itu sendiri," paparnya.
Elisa mencontohkan, untuk pesawat berusia 15 tahun nilai ekonomisnya lebih tinggi dibandingkan dengan nilai buku. Karena untuk pesawat seri tertentu jika dijual ke pasar masih banyak peminat.
(wep/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 22:03 WIB
Ngirit Anggaran, SBY Minta Menteri Menginap di Gedung Negara
-
Jumat, 25/05/2012 21:16 WIB
Berusia 20 Tahun, Bank Muamalat Ganti Logo
-
Jumat, 25/05/2012 21:10 WIB
Wah! SBY Rahasiakan Bentuk Mobil Listrik Made in Indonesia
-
Jumat, 25/05/2012 21:04 WIB
SBY Tak Mau Gas RI Diborong ke Luar Negeri
-
Jumat, 25/05/2012 20:56 WIB
Mulai 2013 Palu-Parigi Terhubung Jalan Lintas 35 Km
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Puluhan Merek Pakaian Kelas Dunia Ternyata Made in Bandung
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
Jumat, 25/05/2012 08:17 WIB
Pemerintah Jalankan Program Pensiun Dini PNS Tahun Ini
-
Jumat, 25/05/2012 07:09 WIB
Kisah Pertarungan Bandar & Penjudi Curang di Kasino Moderen
-
Jumat, 25/05/2012 13:03 WIB
Agus Marto: Hanya RI & Arab Saudi yang Mampu Hadapi Krisis Eropa
-
65 Komentar
-
55 Komentar
-
42 Komentar
-
40 Komentar
-
37 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
