RI Jangan Diam Saja Hadapi Pencekalan Sawit Oleh AS
Jumat, 03/02/2012 16:44 WIB
Jakarta - Penolakan ekspor Crude Palm Oil (CPO) Indonesia oleh Amerika Serikat (AS) karena isu tidak ramah lingkungan hanyalah strategi dagang AS. Oleh karena itu, Pusat Studi Perdagangan Dunia (PSPD) Universitas Gadjah Mada (UGM) mendesak pemerintah Indonesia untuk segera mengambil sikap atas notifikasi AS yang menolak ekspor produk minyak sawit mentah.
"Soal isu lingkungan ini perlu ditanggapi segera untuk mengantisipasi dampak besar pada perekonomian dalam negeri Indonesia," ungkap Kepala PSPD Prof. Ir. Masyhuri, Ph.D di kantor kompleks Bulaksumur, Yogyakarta, Jumat (3/2/2012).
Menurut dia, isu lingkungan yang dihembuskan Environmental Protection Agency (EPA) atau otoritas urusan lingkungan AS itu adalah bagian dari strategi perang dagang. Pasalnya, isu yang sama pernah pernah dihembuskan 20-30 tahun lalu, yakni AS mengklaim minyak kelapa sawit mengandung minyak jenuh yang menyebabkan masalah kesehatan.
Namun larangan yang sempat menjalar ke AS itu akhirnya bisa dimentahkan lewat penelitian yang membuktikan bila minyak kelapa sawit menghasilkan zat anti kanker.
"Kesemua isu tersebut untuk melemahkan produk pertanian khususnya kelapa sawit dari negara berkembang," katanya.
Menurut dia, untuk mematahkan isu lingkungan itu pihaknya merekomendasikan empat hal. Pertama, asosiasi produsen kelapa sawit segera mengadakan penelitian yang valid bila produksi kelapa sawit dapat mengurangi efek rumah kaca lebih dari 20 persen.
"Karena AS menuduh produk minyak sawit mentah Indonesia hanya bisa menurunkan efek rumah kaca 11-17 persen," kata.
Kedua lanjut Masyhuri, mengalihkan ekspor produk kelapa sawit Indonesia ke negara tujuan lain yang nilainya lebih besar. Karena total ekspor produk Indonesia ke AS hanya 68,2 juta dolar atau 0,5 persen dari total ekspor kelapa sawit yang mencapai 23,5 juta ton.
"Beberapa negara yang bisa jadi tujuan ekspor antara lain India, China, Malaysia, Bangladesh, Singapura, Mesir, Belanda, Brasil, dan Kenya," katanya.
Ketiga, pemerintah juga mendesak WTO agar semua Negara anggota mematuhi prinsip perdagangan dunia yang tidak boleh ada ristriksi perdagangan teknis. keempat pemerintah harus serius mengembangkan produk industri hilir yang selama ini dianggap kurang optimal.
"Saat ini adalah momentum yang tepat bagi kita untuk mengembangkan produk industri hilir," pungkas Masyhuri.
(bgs/dnl)
"Soal isu lingkungan ini perlu ditanggapi segera untuk mengantisipasi dampak besar pada perekonomian dalam negeri Indonesia," ungkap Kepala PSPD Prof. Ir. Masyhuri, Ph.D di kantor kompleks Bulaksumur, Yogyakarta, Jumat (3/2/2012).
Menurut dia, isu lingkungan yang dihembuskan Environmental Protection Agency (EPA) atau otoritas urusan lingkungan AS itu adalah bagian dari strategi perang dagang. Pasalnya, isu yang sama pernah pernah dihembuskan 20-30 tahun lalu, yakni AS mengklaim minyak kelapa sawit mengandung minyak jenuh yang menyebabkan masalah kesehatan.
Namun larangan yang sempat menjalar ke AS itu akhirnya bisa dimentahkan lewat penelitian yang membuktikan bila minyak kelapa sawit menghasilkan zat anti kanker.
"Kesemua isu tersebut untuk melemahkan produk pertanian khususnya kelapa sawit dari negara berkembang," katanya.
Menurut dia, untuk mematahkan isu lingkungan itu pihaknya merekomendasikan empat hal. Pertama, asosiasi produsen kelapa sawit segera mengadakan penelitian yang valid bila produksi kelapa sawit dapat mengurangi efek rumah kaca lebih dari 20 persen.
"Karena AS menuduh produk minyak sawit mentah Indonesia hanya bisa menurunkan efek rumah kaca 11-17 persen," kata.
Kedua lanjut Masyhuri, mengalihkan ekspor produk kelapa sawit Indonesia ke negara tujuan lain yang nilainya lebih besar. Karena total ekspor produk Indonesia ke AS hanya 68,2 juta dolar atau 0,5 persen dari total ekspor kelapa sawit yang mencapai 23,5 juta ton.
"Beberapa negara yang bisa jadi tujuan ekspor antara lain India, China, Malaysia, Bangladesh, Singapura, Mesir, Belanda, Brasil, dan Kenya," katanya.
Ketiga, pemerintah juga mendesak WTO agar semua Negara anggota mematuhi prinsip perdagangan dunia yang tidak boleh ada ristriksi perdagangan teknis. keempat pemerintah harus serius mengembangkan produk industri hilir yang selama ini dianggap kurang optimal.
"Saat ini adalah momentum yang tepat bagi kita untuk mengembangkan produk industri hilir," pungkas Masyhuri.
(bgs/dnl)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 22:03 WIB
Ngirit Anggaran, SBY Minta Menteri Menginap di Gedung Negara
-
Jumat, 25/05/2012 21:16 WIB
Berusia 20 Tahun, Bank Muamalat Ganti Logo
-
Jumat, 25/05/2012 21:10 WIB
Wah! SBY Rahasiakan Bentuk Mobil Listrik Made in Indonesia
-
Jumat, 25/05/2012 21:04 WIB
SBY Tak Mau Gas RI Diborong ke Luar Negeri
-
Jumat, 25/05/2012 20:56 WIB
Mulai 2013 Palu-Parigi Terhubung Jalan Lintas 35 Km
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Puluhan Merek Pakaian Kelas Dunia Ternyata Made in Bandung
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
Jumat, 25/05/2012 08:17 WIB
Pemerintah Jalankan Program Pensiun Dini PNS Tahun Ini
-
Jumat, 25/05/2012 07:09 WIB
Kisah Pertarungan Bandar & Penjudi Curang di Kasino Moderen
-
Jumat, 25/05/2012 13:03 WIB
Agus Marto: Hanya RI & Arab Saudi yang Mampu Hadapi Krisis Eropa
-
65 Komentar
-
55 Komentar
-
42 Komentar
-
40 Komentar
-
37 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
